Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 93 Rencana Vivian


__ADS_3

Sudah hampir 2 minggu sejak Chester mengetahui kehamilan Jennixia, sejak hari itu Chester bersifat semakin posesif terhadap Jennixia.


Jennixia tidak diperbolehkan menggunakan tangga karena kehamilannya baru berusia hampir 4 minggu.


Oleh karena dokter mengatakan kehamilannya masih sangat muda dan rawan, Chester mengambil inisiatif untuk menjaga dan memantau Jennixia sendiri.


Kecuali hari ini, Chester dengan berat hati terpaksa pergi ke kantor karena ada klien dari luar negera untuk menandatangani kontrak kerjasama.


Drama pagi ini pun dimulai dengan Chester yang merasa khawatir yang berlebihan.


“Pokoknya Sayang tidak boleh ke mana-mana, Sayang harus stay di dalam kamar dan makanan minuman akan dihantar ke kamar saja termasuk cemilan,” ucap Chester dengan raut wajah khawatir.


Chester tahu Jennixia seseorang yang tidak bisa duduk diam saja, sedangkan 2 minggu terakhir ini dia sering merengek untuk keluar dari kamar, jalan-jalan di taman belakang. Memang Chester mengizinkan tetapi hanya sewaktu ada dirinya saja.


“Tapi kalau babynya mau jalan-jalan di taman bagaimana?” tanya Jennixia yang merasa risih karena merasa dirinya terkurung di dalam kamar.


“Tunggu hubby pulang ya,” jawab Chester. “Anak daddy jangan minta keluar jalan-jalan dulu ya, tunggu daddy pulang baru daddy bawa mommy dan anak daddy keluar ya,” lanjut Chester lagi dengan mengusap perut Jennixia.


Jennixia mengerucutkan bibirnya karena dia tidak ingin berada dalam kamar seharian ini.


Sebelum berangkat ke kantor Chester menyempatkan diri untuk mencium puncak kepala Jennixia lalu mencium sekilas bibir Jennixia yang selalu menjadi candunya.


Jennixia tidak ikut menghantar Chester sampai di depan pintu utama mansion karena Chester melarangnya.


Sampai di lantai dasar Chester menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Mary lalu dengan langkah lebar dia menuju ke pintu utama mansion.


Tiba-tiba jalan Chester dipalang oleh Vivian.


“Kak tunggu,” ucap Vivian lembut.

__ADS_1


“Kenapa?” jawab Chester dingin.


“Vivi mau ikut Kak Ches ke kantor lagian Vivi bosan berada di mansion terus,” sahut Vivian dengan penuh berharap.


“Tidak!” ucap Chester masih dingin.


“Please Kak,” Vivian memohon agar Chester membawanya lalu mencoba untuk memegang tangan Chester tapi segera ditepis oleh Chester.


Vivian merasa kesal dengan perlakuan kasar Chester terhadap dirinya, tapi dia tidak akan menyerah begitu saja.


“Kalau bosan kau boleh keluar dari mansion aku,” ketud Chester lalu meninggalkan Vivian yang masih berdiri di pintu utama itu.


Vivian mengepalkan tangannya.


‘Awas saja kau Chester! Aku akan buat kau berpaling padaku!,’ batin Vivian.


Vivian menatap kepergian Chester lalu sebuah ide licik terlintas di dalam pikirannya. Vivian mulai tersenyum miring.


Dia keluar dengan dress terbuka yang baru berapa hari dia membelinya lewat online. Dengan percaya diri dia keluar dari mansion dan meminta salah satu pengawal untuk menghantarnya ke kantor perusahaan Chester.


Pada awalnya pengawal tersebut masih tidak percaya karena Vivian mengatakan Chester yang menyuruhnya menyusul kekantor karena ingin memberinya pekerjaan.


Setelah beberapa jurus Vivian keluarkan barulah para pengawal menghantarnya ke kantor perusahaan Chester.


30 menit perjapanan akhirnya Vivian tiba di kantor perusahaan milik Chester. Dia memasuki bangun megah tersebut dengan gaya yang terkesan sangat elegan.


Vivian menuju ke meja resepsionis.


“Ruang Chester Mc Cloud di mana?” tanya Vivian dengan wajah sombongnya.

__ADS_1


“Maaf Nona siapa? Apa Nona sudah membuat temu janji?” tanya resepsionis muda itu dengan menilik wajah Vivian yang terlihat sangat minus karena makeupnya yang tebal seperti badut.


“Aku tidak perlu temu janji, kau tidak tahu aku siapa?” jawab Vivian ketus.


“Saya tidak tahu Nona,” sahut resepsionis itu.


“Aku istri Chester Mc Cloud!” ucap Vivian dengan percaya diri.


Resepsionis wanita itu langsung tertawa geli mendengar ucapan Vivian yang begitu yakin.


“Anda yakin Nona?” tanya resepsionis wanita itu lagi dengan wajah mengejek.


“Ck aku akan menelepon suamiku karena resepsionis sampah seperti ini tidak mengenalku,” jawab Vivian lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan sembarang nomor.


Setelah salah satu nomor dijawab Vivian langsung saja mengatakan,


“Sayang resepsionis kamu tidak mengizinkanku masuk,” ucap Vivian berdrama dengan suara merengek.


“Vivi kamu kenapa? Resepsionis siapa? Vi jawab Ibu sekarang kamu di mana?” jawab Jessi yang ternyata Jessi lah yang di telepon oleh Vivian.


“Masuk saja, ok Sayang terimakasih muahh,” ucap Vivian lagi lalu mematikan ponselnya.


Resepsionis wanita itu makin tertawa karena tingkat percaya diri Vivian sungguh luar biasa apalagi akting sungguh terlihat seperti nyata.


“Silakan pulang Nona,” jawab resepsionis itu.


“Sial kau a-“ ucapan Vivian terpotong apabila suara seseorang yang familiar terdengar di telinganya.


“Kau buat apa di sini?”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2