Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 18 (pendek aja)


__ADS_3

Kejadian yang menimpah Chester dan Jennixia berlaku sungguh luar biasa. Arviy yang masih merasa geram dengan anak buahnya kini duduk di kursi kebesarannya sambil termenung.


"Kenapa aku merasa sakit ketika tahu kondisi Jennixia tidak sadarkan diri akibat perbuatanku." Gumamnya sendiri.


"Jen, apa kau sudah merebut hatiku juga?" Lanjutnya bertanya pada dirinya sendiri.


Arviy mengambil ponselnya dan melihat kembali foto Jennixia yang dikirim oleh anak buahnya. Lalu rahangnya mengeras apabila melihat Chester berdiri di sebelahnya.


"Aku akan merampasnya darimu! " Ucapnya dengan berapi-api.


....


Di rumah sakit.


Jennixia memeluk erat Chester, biar pun Mei datang membawa beberapa buah-buahan dan cemilan, Jennixia hanya mengacuhkannya.


Jennixia tidak ingin melepaskan pelukannya, dia masih mengingat kejadian tadi, dia takut kehilangan Chester dan tidak bisa lagi berjumpa dengan Chester.


Chester hanya mengusap-usap punggung Jennixia agar dia bisa kembali tenang. Chester merasa bersalah dengan kejadian ini membuat Jennixia memiliki rasa trauma.


Sudah berulang kali Jennixia mengulang kata-katanya, padahal Chester tidak pernah terpikir untuk meninggalkannya maupun melepaskannya.


"Jen, sudahlah aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku janji jadi tolong berhenti menangis, kau membuat hatiku rasa sakit." Ucapnya dengan penuh sendu


"Janji ya." Jawab Jennixia yang kini telah melepaskan pelukannya lalu menatap Chester.

__ADS_1


"Janji sayang." Chester mengusap air mata Jennixia perlahan.


Chester menunjukkan dua jari peace yang menjadi tanda dia berjanji dan bersumpah tidak akan meninggalkan Jennixia.


Memang kejadian itu membuat Jennixia syok berat sehingga tekanan darahnya juga menurun drastis. Chester harus lebih memperhatikan Jennixia saat ini, dia menangguh dulu untuk mengeksekusi orang-orang yang terlibat.


Apapun itu demi Jennixia, Chester sanggup lakukan.


"Ayo kamu mau makan buah atau cemilan?" tawar Chester menunjuk ke arah kantong plastik di atas meja dalam ruang inapnya.


"Kedua-duanya aja." Jawabnya sambil tersenyum.


Chester terkekeh, dia bersyukur akhirnya Jennixia mau tersenyum lagi. Dia akan berusaha membuat Jennixia terus tersenyum dan tidak mengingat kejadian tadi.


Wajah Jennixia sudah kembali seperti biasa, dia dengan antusiasnya membuka cemilan yang dibelikan oleh Mei. Dan dia baru mengingat Mei.


"Mei di mana? Bukankah tadi dia di sini?" Gumamnya tapi masih bisa didengar oleh Chester yang baru saja menuju ke arahnya sambil membawa buah-buah yang telah dia cuci bersih.


"Mei di luar. Kamu mau bertemu dengannya?" sahut Chester sambil mengelap buah-buahan tadi.


"Bisa?" ucap Jennixia dengan wajah berharap.


"Why not baby." sahut Chester lagi lalu berjalan menuju ke pintu ruang inapnya.


Jennixia tampak begitu senang, dia merasa sunyi tanpa Mei yang sering bersamanya.

__ADS_1


Chester membuka pintu ruangan dan melihat ke arah Mei.


"Masuklah, dia mencarimu." Ucapnya lalu membiarkan pintu terbuka agar Mei bisa menyusulinya.


Mei segera masuk menyusuli Chester dab bertemu dengan Jennixia.


"Nona." Panggilnya.


Mata Jennixia berbinar melihat kedatangan Mei.


"Mei, kau tidak menemaniku." Jennixia mengerucutkan bibirnya dan berpura-pura merajuk kepada asisten pribadinya itu.


"Saya senantiasa menemanimu Nona, mana berani saya meninggalkanmu." Ucapnya sambil mengusap tangan Jennixia.


Jennixia menghamburkan pelukannya lalu berbisik.


"Mei, apa aku kelihatan sekali menyukai Chester."


"Hah?" pertanyaan Jennixia membuat Mei kaget dan bingung harus mengatakan apa, karena Jennixia tidak pernah mengatakan padanya kalau dia menyukai Chester.


Bersambung...


Sorry guyss aku up segini aja karna otakku lagi nggak nyambung dan aku butuh healing dulu. Untuk pembacaku tinggalkan komentarmu, agar aku tau mana yang harus aku perbaiki ok..


salam hangat dariku untuk readerss kesayanganku..

__ADS_1


__ADS_2