Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 86 Eksekusi


__ADS_3

***Hai readerss maaf bab kali ini ada adegan kekerasan dan mohon bijak dalam ingin memberi respon, ini cuma kehaluan author saja..


Selamat membaca 🌹🌹🌹***


Chester telah sampai di ruang eksekusi. Matanya menatap tajam ke arah kedua pria tersebut.


“Bagaimana Luis?” tanya Chester dengan dingin.


“Katanya Arviy mungkin bersembunyi di rumah Ibu Nona, tapi tidak tahu dengan Sean,” jawab Luis.


“Terus sudah hantar anak buah untuk menangkap Arviy?” tanya Chester lagi.


“Sudah tapi sayangnya tempat itu sudah kosong Tuan,” jawab Luis.


“Ehm Tuan,” panggilnya.


“Kenapa?” tanya Chester.


Luis mendekatkan dirinya lalu berbisik ke telinga Chester.


“Sepertinya ada mata-mata Arviy atau Sean di sekitar kita,” bisik Luis lirih.


“Cepat cari tahu!” ucap Chester lirih.


Mata Chester semakin menatap tajam ke arah kedua pria tadi. Kesabaran Chester telah hilang, dia melepaskan bogem mentah ke arah kedua pria itu secara bergantian.


“Berikan aku pisau kecil,” ucap Chester.


Kedua pria itu semakin gementar.


“Tuan maaf Tuan!” mohon ketua Bad Devils.


“Tolong jangan apa-apakan kami!” mohon ketua Dragon Eyes.


“Jangan Tuan, kami masih ada anak dan istri,” ucap keduanya serempak.


“Cuih,” Chester membuang ludahnya ke arah samping karena rasa muak mendengar rayuan basi itu.


Kini pisau kecil telah berada di tangannya. Chester mencengkram dagu ketua Bad Devils. Lalu di tusuknya pisau tadi ke mata kiri pria itu lalu dikeluarkannya lagi dan kembali menusuknya kramat kanan pria itu.


Darah keluar bercipratan hingga mengena wajah Chester. Pria itu berteriak kesakitan. Tetapi tidak sampai di situ saja.


Chester menyuruh anak buahnya untuk membuka mulut pria itu. Lalu Chester menarik lidahnya dan memotong menggunakan pisau tadi.


Sungguh keji memang perbuatan Chester, itulah dirinya sebenar. Walaupun selama ini hanya terlihat diam tidak berbuat apa-apa tapi dia tidak akan mengampuni siapapun yang menganggunya apalagi jika berkaitan dengan istri kecilnya.


Setelah merasa puas dengan satu pria tadi. Chester beralih kepada ketua Dragon Eyes. Rayuan demi rayuan terdengar di telinga Chester dari mulut ketua Dragon Eyes.

__ADS_1


Rayuan-rayuan pria itu semakin membuat Chester bersemangat. Chester menguliti pria itu hingga ke bibir dan hidungnya. Darah mengalir dipermukaan wajah pria itu.


“Ambilkan aku garam,” ucap Chester lagi.


Anak buah Chester dengan cepat membawa satu toples garam pada Chester lalu membuka penutupnya.


Mata Ketua Dragon Eyes membulat, dia langsung menggeleng cepat karena dia tahu Chester akan melakukan sesuatu yang mengerikan.


Chester tersenyum licik, dia memasukkan tangannya ke dalam toples garam lalu mengambil segenggam garam.


Ditempelkannya garam tadi di wajah pria itu. Anak buah dan para pengawal merasa ngilu di seluruh tubuh hingga ke wajah mereka karena melihat apa yang dilakukan oleh Chester.


Ketua Dragon Eyes itu menjerit kesakitan hingga suaranya terdengar pecah tapi tidak ada yang membantunya.


Terdapat dua orang yang berada di antara anak buah Chester mulai gemetar dan mereka saling berbalas tatapan.


Luis menangkap pergerakan mencurigakan itu tapi dia belum bertindak karena dia akan mengikuti permainan mereka.


‘Ck kalian tunggu saja waktu kalian berdua nanti,’ batin Luis tersenyum licik.


Setelah puas bermain dengan garam, kini Chester meminta anak buahnya untuk memasak air panas.


“Kalau sudah mendidih bawakan ke mari!” perintah Chester.


Sekali lagi ketua Dragon Eyes terpaksa meneguk air liurnya karena ucapan Chester tadi.


“Berikan aku gunting kebun yang besar!” titahnya sambil tersenyum licik di hadapan pria yang telah ditelanjangi oleh anak buahnya.


Luis segera mencapai gunting kebun besar yang berdekatan dengannya.


“Ini Tuan.” Luis memberikan Chester gunting kebun itu.


Wajah nya tersenyum sangat licik, Chester mengarahkan gunting tersebut di ******** pria itu.


Srekk!


Aaaarrrghhhh!


Masa depan pria itu telah digunting begitu saja. Tidak ada lagi yang berharga pada diri pria itu dan Chester memilih untuk menghabiskannya saja.


Semua yang ada di sana langsung menutup bagian bawah mereka kecuali Chester dan Luis yang tidak ada rasa ngilu sedikit pun.


“Tuan ini air panasnya,” ucap salah satu anak buah yang datang tepat pada waktunya.


“Hmm siram dari atas kepalanya. Oh ya sebelum itu siram bagian bawahnya dulu baru lanjut dari atas kepala,” perintah Chester.


“Baik Tuan,” jawab anak buahnya.

__ADS_1


Mereka terpaksa menahan ngilu pada bagian bawah mereka karena harus menuntaskan pekerjaan yang diarahkan oleh Chester.


“Luis kamu urus sisanya, aku akan kembali ke rumah sakit,” ucap Chester lalu berjalan menuju ke pintu keluar ruangan itu.


.....


“Sial mereka telah membunuh kedua ketua mafia itu!” ucap Sean pada Arviy.


“Mujur saja kita sempat lari tapi kita tidak bolej terus berada di sini, kita harus pergi jauh,” sahut Arviy masih rasa takut.


“Ck, tidak perlu takut. Mereka tidak akan menemukan kita di sini saat ini, kita harus susun rencana lagi biar tidak terjebak,” ucap Sean.


Arviy mengangguk walaupun berat untuk tidur di pondok di dalam hutan yang berdekatan dengan gudang tempat Jessi pernah dikurung.


Sekurang-kurangnya mereka tidak tertangkap saat ini karena Arviy tidak bisa membayangkan dia harus mati di tangan Chester.


Stok makanan mereka mungkin hanya cukup untuk seminggu. Oleh itu mereka harus segera mencari jalan agar bisa terlepas dari pemantauan Chester.


‘Aku tidak menyangka Chester rupanya sekejam ini,’ batin Sean masih membaca pesan yang berupa laporan dari anak buahnya.


Malam semakin larut, Sean dan Arviy berada dalam kegelapan dan mereka telah memasang kelambu sekitar pondok kecil itu.


Berguna memang barang yang mereka curi dari rumah Jessi dan stok makanan juga kain panas.


“Kita tidak boleh tidur nyenyak, takutnya mereka datang tengah malam nanti,” ucap Arviy yang masih siap berwaspada.


“Aku tahu kita harus pasang telinga,” jawab Sean yang sedang berbaring karena merasa lelah seharian harus melarikan diri.


Arviy dan Sean memilih hanya beristirehat saja dan tidur dengan pikiran yang masih berwaspada.


....


Ingin sekali Chester menemui Jennixia tetapi keadaan di luar belum aman karena Sean dan Arviy masih belum tertangkap.


“Aku sungguh merindukanmu Sayang,” ucap Chester perlahan.


Chester menatap foto-foto Jennixia yang ada di dalam galeri ponselnya. Dia tersenyum mengingat tingkah polos Jennixia.


Hari ini sudah memasuki 3 hari tidak bertemu dengan Jennixia, mendengar suaranya pun tidak membuat Chester menjadi kesal karena harus menahan rindunya.


‘Akan ku habiskan kalian!’ batin Chester.


***Bersambung...


Maaf baru up 😭😭 kemarin sudah up tapi 2x ditolak naskah babnya karena adegan kekerasan yang melampaui batas aturan 😭😭 tapi author sudah coba memperhaluskan lagi biar cepat lulus..


Mohon jangan berhenti mendukung karya author yaa 🥺🥺 Jangan lupa sempatkan diri untuk meninggalkan jejak di bawah 👇👇👇***

__ADS_1


__ADS_2