Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 32 Ide gila Mei


__ADS_3

"Kedatangan tamu?" tanya Arviy pada anak buah sewaannya itu.


"Ya Tuan, mereka sampai tadi sore." Jawab anak buah itu.


"Baiklah terus perhatikan mereka." Kata Arviy lagi.


Anak buah sewaannya itu mengangguk lalu pamit meninggalkan tempat itu. Arviy tampak berpikir-pikir tamu yang datang mansion Chester itu siapa.


"Aku harus cari tau tapi bagaimana? Atau aku tanyakan ke Jennixia saja." Arviy menimbang-nimbang pikirannya.


"Ah sudahlah mungkin tidak penting."


Kini Arviy melanjutkan pekerjaannya dengan menyimak kemasukan perusahaannya. Sudah hampir seminggu lebih Arviy masuk ke kantor sore hari karena dia harus mengikuti kuliah.


Oleh itu banyak pekerjaannya yang bertumpuk dan harus diselesaikan. Dia tidak bisa mengandalkan semuanya kepada sang asisten karena masih ada asistennya sedang mengurus masalah yang terjadi di perusahaan cabang mereka.


...


Sudah hampir satu jam lebih Jennixia tidak berbicara pada Chester maupun Nera dan Mei. Rasa sakit dihatinya masih ada.


Entah bagaimana harus membujuk Jennixia mereka sudah kehabisan akal sehingga Mei mempunyai satu ide terakhir.


Mei mendekati Jennixia yang sedang terduduk di atas ranjang empuk itu. Wajahnya ditundukkan dia tidak ingin memperlihatkan wajahnya pada mereka.


"Nona, apa kau tau kalau kau terus-terusan begini nanti Tuan Chester benaran diambil loh, apalagi gunungnya begitu gede dan bokongnya wow gituh ahh saya aja tergiur pengen ci...."


Bughhh...


Bantal melayang ke wajah Mei, dan Mei cepat menoleh ke arah Jennixia yang menunjukkan tatapan mautnya. Memang dia berhasil membuat Jennixia mengangkat wajahnya.


Tapi tatapan maut Jennixia membuat Mei salah tingkah dan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hehe Nona marah atau pengen nangis?"


Mei masih saja bercanda walaupun nyalinya sudah mulai menciut. Tapi dia ingin Jennixia bersuara dan membalasnya dengan ocehan seperti biasa.


"MEEEEEEIIII"


Jennixia berteriak memanggil Mei, Chester dan Nera sampai menutup telinga mereka karena mereka hanya jadi penonton saja.


"Ya Nona?" Mei menjawab dan berdiri tegak seperti ingin menyanyikan lagu Negara.


"Kau kemari kau, mulutmu itu aku lakban aja biar nggak kuat aneh-aneh." Jennixia turun dari tempat tidurnya lalu berlari menyambar Mei dengan melototkan matanya.


"Biji matamu kenapa Nona, kayak pengen keluar saja, mari saya bantu masukin." Lagi-lagi Mei mengeluarkan kata-kata absurbnya.

__ADS_1


Jennixia dibuat semakin kesal dia mau mencubit Mei tapi dia melihat Chester seperti menahan tawa. Jennixia menuju ke arah Chester dan melepaskan cubitannya.


"Akkhhh Jen, Jen... sakit sayang." Ucap Chester menahan rasa sakit cubitan Jennixia.


"Sakit? Ini belum seberapa sih." Sahut Jennixia yang masih merasa geram.


"Mei kau tanggungjawab ihhh." Pinta Chester karena Jennixia makin menguatkan cubitannya.


Mei dan Nera langsung menjauh sambil menahan tawa mereka.


"Kak Ner, gaji saya pasti dipotong ehmpp." Ucapnya sambil menahan tawa.


"Kau bisa merayu pada Nona agar jangan dipotong Mei, tapi siap-siap saja kena hukuman dari Tuan." Sahut Nera yang sedang menahan tertawa juga.


Jennixia menoleh kembali ke arah Mei dan Nera. Dia melepaskan cubitannya dan mendekati mereka dengan wajah sulit diartikan.


Jennixia berdiri di depan Nera dan menatap wajah Nera.


"Ner, aku mau makan laaapaaarrr." Ucap Jennixia dengan menunjukkan wajah manjanya lagi.


Belum sempat Nera menjawab Mei lebih dulu menawarkannya.


"Nona... Nona bisa minta ke saya tumben saja Nona minta ke Kak Nera. Awas saya merajuk Nona." Masih sempat Mei bercanda walaupun Chester telah menatap tajam ke arahnya.


"Aku tidak mau berteman denganmu Mei, kau bilang tadi kau tergiur dengan gunung gede bokong besar itu jadi aku tidak mau teman denganmu." Sahut Jennixia dengan ketus.


Jennixia mendengar ucapan Mei lalu berlari ke arah Chester. Dan melampiaskan lagi kekesalannya terhadap Mei pada Chester.


"Lihat Mei itu, dia sudah tidak mau berteman denganku gara-gara kau membawa wanita gunung gede bokong besar itu." Ucap Jennixia dengan mata berkaca-kaca.


"Lah bukan tadi dia yang katakan tidak ingin berteman dengan Mei." Batin Chester merasa bingung dengan Jennixia.


Baru saja Chester hendak membujuk Jennixia dengan mengusap kepalanya tapi Jennixia dengan cepat menarik tangan Chester lalu digigitnya.


"Akhh Jennixia.." Chester menjerit kesakitan.


"Aku lapar." Ucap Jennixia setelah melepaskan gigitannya.


"Makan nasi Jen, jangan makan tanganku nanti yang manjain kamu siapa?" jawab Chester sedikit kesal.


"Aku membencimu." Jennixia berlari dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang lalu menangis.


Hisk hisk hisk


"Ya Tuhan, orangtuaku membuangku, Chester kesal padaku, Mei tidak ingin berteman padaku dan Nera tidak mendengarkanku huuuuu kau marah dan hukum saja mereka Tuhan." Ucap Jennixia di sela-sela tangisannya.

__ADS_1


"Mei apa Jennixia sering begini?" tanya Nera yang tidak faham dengan sifat absurb Jennixia.


"Ini belum seberapa." Jawab Mei singkat lalu menuju ke arah Jennixia.


Mei membisikan sesuatu dan sekelip mata wajah Jennixia kembali ceria. Lalu senyumannya terlihat mengembang.


Chester mulai merasa ada yang tidak beres.


"Mei?"


Mei menoleh ke arah Chester lalu tersenyum.


"Tidak Tuan, sekarang kami akan turun makan dan menonton drama."


Chester mengerutkan alisnya lalu mengangguk.


"Jen maafkan aku."


Jennixia menatap Chester.


"Sebentar malam aku akan tidur denganmu jadi janganlah meminta maaf."


Ucapan Jennixia membuat Chester tersenyum walaupun Jennixia belum mau mendengarkan penjelasannya.


....


"Pa, bagaimana kita mengusir wanita itu? kalau dia tidak pergi dari sini sepeser pun kita tidak akan dapat." Ucap Mary pada Eild yang baru saja keluar dari kamar mandinya.


"Ya Ma, papa juga sedang memikirkan cara untuk mengusirnya, sementara itu mama harus mendramatiskan keadaan saat berhadapan dengan Chester."


"Baiklah pa, ehm bagaimana dengan Liana?"


"Dia ada dikamarnya nanti kamu ke sana saja dan beri dukungan padanya. Ingat kita tidak boleh membiarkan Liana putus asa kalau tidak kita yang rugi apalagi dia itu anak tunggal konglomerat."


"Papa serahkan Liana pada mama dan mama yakin Chester bakal nikahin Liana."


"Ok tugas papa tinggal mengusir wanita itu bersama pelayannya."


"Baik pa, kalau begitu mama bersih-bersih diri dulu sebentar lagi makan malam pasti ada wanita itu."


Mary dan Eild hanya ingin mendapatkan harta saja karena memang mereka sebelum Chester dan kakaknya sukses mereka adalah orang yang sederhana saja


Tetapi setelah kehidupan mereka berubah, Mary dan Eild ikut berubah bagi mereka harta itu adalah nomor satu dan mereka harus mendapatkannya.


Mary dan Liana jalan bergandengan seperti anak dan Ibu pada umumnya, mereka menunju ke ruang makan di mana Jennixia dan Chester telah berada.

__ADS_1


Mary dan Eild menatap sinis Jennixia. Jennixia hanya tertunduk menatap makanannya. Setelah mereka duduk dia mulai memakan makanannya.


Bersambung...


__ADS_2