
Jennixia berhenti dan menoleh ke arah Chester yang mulai mendekatinya. Raut wajah Jennixia terlihat begitu sendu dan matanya mulai berkaca-kaca.
“Jen, kau mau ke mana?” tanya Chester yang terlihat panik.
“Ibu mau kita kembali saja ke rumah yang dulu,” sahut Jennixia.
Tubuh Chester mendadak gementar, dia tidak bisa bayangkan hidup tanpa Jennixia, selama 5 tahun ke belakang ini dia harus bersabar menunggu Jennixia tapi semua impiannya kembali hancur akibat perbuatan mama kandungnya.
“Jen, jangan pergi. Biar aku jelaskan pada Ibu ya,” bujuk Chester.
Chester menggenggam tangan Jennixia dan membawanya masuk ke dalam kamar Jessi.
Terlihat Jessi juga sedang merapikan beberapa pakaiannya dibantu dengan Mei, karena pergerakan Jessi sungguh terbatas.
“Ibu,” panggil Chester dengan suara lirih.
Jessi menoleh ke arah Chester setelah mendengar suaranya, tatapannya berubah teduh. Jessi menghela nafas panjang.
“Kemarin kamu minta restu dengan Ibu untuk memiliki Jennixia, kamu berjanji melindunginya dengan nyawamu dan tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya,” ucap Jessi.
“Tapi rupanya Ibu kandungmu sendiri yang menyakitinya, huhh kau tidak bisa melawan Ibumu karena kau akan jadi anak durhaka. Oleh itu, Ibu telah buat keputusan Ibu akan membawa Jennixia pergi,” lanjut Jessi lagi dengan wajah yang berubah serius.
Chester melepaskan tangan Jennixia lalu mendekati Jessi, dia mengambil posisi berlutut dan coba memegang tangan Jessi.
“Ibu, maafkan Chester. Tapi tolong jangan bawa Jennixia pergi, Chester janji Chester akan selesaikan masalah Mama,” ucap Chester.
Jessi tidak menepis tangan Chester mau pun mendorong Chester.
“Ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya dihina dan disebut sebagai jalan*,” sahut Jessi.
“Kau mengaku sebagai suami Jenni tapi kau tidak membelanya sedikit pun atau jangan-jangan selama ini Jenni sering dihina begitukan?” lanjut Jessi dengan wajah yang berubah tegang.
“Ibu, bukan begitu...” ucapan Chester terpotong apabila Jennixia menyela.
“Bu Mary memang tidak menyukai Jenni Ibu, tapi Chester sering membela Jenni. Chester malah mengurung Papanya karena hampir berbuat kasar pada Jenni, Ibu beri waktu dengan Bu Mary pasti dia bisa sadar dan menyayangi Jenni juga nanti,” ucap Jennixia.
Bukannya luluh hati Jessi, malah menjadi semakin kesal karena keberadaan Jessi dianggap duri dalam rumah ini.
Jessi melepaskan tangannya dari genggaman Chester.
“Ibu tidak pernah mengajarmu untuk mengemis kasih sayang!” ketus Jessi.
“Tapi Bu, Bu Mary tetap mertua Jenni,” sahut Jennixia lagi.
Jessi menuju ke arah Jennixia dan tatapan serius.
__ADS_1
“Kau lupa tadi kau hampir melukakan mertuamu itu? Jenni pikir baik-baik, yang ada dia malah membencimu,” ucap Jessi dengan nada mengintimidasi.
Jennixia terpaku di tempat, dia baru teringat tadi dia hampir saja melukakan Mary. Jika terus menerus Mary memancing emosinya bisa jadi Jennixia benar-benar akan mencelakakan Mary.
Jennixia menggelengkan kepalanya, rasa takut akan kejadian itu terulang dan menjadi parah tiba-tiba menghantuinya.
“Kita akan pergi,” ucap Jessi lembut sambil mengusap tangan Jennixia.
“Tidak kalian tidak boleh pergi,” sahut Chester.
Jennixia menatap wajah Chester yang terlihat sedih dan panik. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
“Jen, please don’t go,” ucap Chester lagi
“Maaf nak Chester, selesai masalah dengan Ibumu, setelah semuanya telah selesai nanti Ibu akan memikirkan lagi tentang hubungan kamu dengan Jennixia.” Ucap Jessi seraya menarik lengan Jennixia untuk keluar dari kamar itu.
Mei yang menunggu di luar pun hanya dilewati oleh langkah Jessi dan Jennixia, dia tidak berani menghentikan mereka karena wajah Jessi terlihat galak untuk ukuran seorang Ibu.
Mei melihat ke arah Chester.
“Bagaimana ini Tuan?” tanyanya dengan perlahan.
“Tolong hubungi Nera, aku akan mengurus Mama dan Liana, kamu ikutlah dengan mereka dan tolong pastikan Jenni baik-baik saja,” perintah Chester.
Mobil mereka keluar dari perkarangan mansion, setelah bayang mobil tidak terlihat, wajah Chester yang sendu berubah menjadi tegang dan penuh amarah.
Dia menelepon pengawalnya untuk membawa Eild kembali ke mansion. Setelah berapa menit menunggu kini di ruang tengah telah berkumpul Chester, Mary dan Liana.
....
Mary menyambut Eild dengan perasaan bahagia begitu juga Liana yang ikut memeluk Eild. Hanya Chester yang masih berada di tempatnya dengan wajah emosinya.
“Sudah cukup!” teriak Chester yang mulai merasa risih dengan pemandangan matanya saat ini.
“Apaan ini Ches, kita sedang bergembira,” sahut Mary.
Mary terlihat begitu senang dan bahagia setelah mendengar kabar kepergian Jennixia, dia merasa dia telah menang.
“Aku panggil kalian bukan untuk bergembira. Pengawal keluarkan semua rekaman yang terjadi di mansion ini dan surat kesehatan Mama!” perintah Chester dengan raut wajah tegas.
Mary dan Eild tampak mematung mendengar ucapan Chester apalagi ucapan yang berkaitan dengan kesehatan Mary.
Pengawal memainkan rekaman cctv menggunakan proyektor. Wajah mereka terlihat pucat karena apa yang mereka lakukan di dalam mansion ini rupanya telah diketahui oleh Chester.
Chester menatap tajam ke arah kedua orangtuanya dan Liana. Dia menghempaskan beberapa dokumen ke atas meja.
__ADS_1
“Kenapa Mama bohong?” tanya Chester.
“Mam-ma i-ni...” Mary terbata-bata.
“Kamu hanya percaya kertas ini Ches?” tanya Eild dengan sinis.
Chester tersenyum miring lalu mengambil satu lagi amplop dan mengeluarkan isinya yang rupanya adalah foto.
Foto-foto itu Chester lemparkan ke atas meja.
“Jangan sok polos!” sahut Chester.
Mata Mary membulat sempurna menatap salah satu foto yang berada di atas meja itu. Bibirnya mulai gementar, dia coba mencapai foto itu tapi Eild menepis tangannya.
“Ini tidak seperti yang Mama lihat,” jelas Eild.
Mary menatap tajam ke arah Eild lalu mendorongnya, dia bangun dan mendekati Liana yang wajahnya terlihat pucat pasi.
Mary menarik rambut Liana dengan kuat sambil mengoceh.
“Oh rupanya kau ya! Kau harus mampus!”
Keributan terjadi di dalam mansion itu, tapi Chester tidak coba menghentikan mereka. Eild mencoba menarik tubuh Mary tapi berulang kali Mary menepis tangan Eild.
Para pelayan berbisik-bisik
“Sebenarnya apa yang berlaku?”
“Itu kenapa Bu Mary marah ke calon menantu kesayangan?”
“Kayaknya ada yang tidak beres,”
“Shhttt jangan bisik-bisik awas Tuan dengar,” ucap salah satu pengawal.
“CUKUP!” ucap Chester dengan suara yang kuat dan lantang.
Mary berhenti menarik rambut Liana dan kesempatan ini Liana ambil untuk melarikan dirinya dari hadapan Mary, dia bersembunyi di belakang Eild.
“Kalian sungguh memalukan! Hari ini kalian semua aku usir! Pengawal seret mereka keluar!” lanjut Chester lagi.
Mary yang dipegang oleh salah satu pengawal pun langsung melepaskan diri dan berlari ke arah Chester tapi karena dia tidak berhati-hati kakinya tersandung meja, Mary jatuh dan kepalanya tepat membentur hujung meja ruang tengah itu..
“Mama!”
Bersambung...
__ADS_1