
Setelah adegan panas itu, Jennixia tertidur dengan pulas karena kelelahan. Chester merasa segar, hari yang sering dia nanti-nantikan telah tiba.
Selesai pergumulan mereka, Chester membersihkan dirinya, tenaga tidak terkuras sedikitpun malahan, dia menjadi lebih bersemangat.
Chester keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Sebelum mengenakan pakaian Chester sempat mendekati Jennixia yang tertidur pulas.
Chester mengecup dahi Jennixia dan berbisik perlahan tepat di daun telinga Jennixia.
“Terima kasih sayang,” ucapnya.
Chester memasuki walk in closet untuk mengenakan pakaiannya dan langsung saja keluar dari kamar menuju ke lantai dasar.
Dia ingin berpesan pada pelayan untuk menghantar makanan ke kamarnya dan kamar mertuanya karena Chester tidak mau orang yang dia sayang kesusahan.
Walaupun begitu, Chester tetap ingat akan Mary, dia mendatangi kamar Mary dengan raut wajah yang segar tapi terlihat datar.
Setelah mengetuk pintu Mary sebanyak tiga kali Chester langsung menerobos masuk, dia melihat Mary terbaring di atas ranjangnya dengan wajah yang pucat.
Chester mendekati sang Ibu.
“Mama kenapa?” tanya Chester dengan wajah yang datar.
Mary menatap sinis ke arah Chester dan mengabaikan pertanyaannya. Sehingga Chester terpaksa duduk di sebelah Mary barulah Mary menatap Chester dengan sendu.
“Ma, sebenarnya apa yang Mama mau?” tanya Chester lembut.
Chester sebenarnya sangat menyayangi kedua orangtuanya tapi sikap kedua orangtuanya sudah keterlaluan dan hal itu membuat Chester merasa kesal.
“Tidak usahlah kamu bertanya Ches, biarkan Mama sendiri lagian kamukan lebih memilih wanita itu,” jawab Mary.
“Ma, soal perasaan Mama tidak bisa paksakan dan coba beritahu Chester kenapa Chester harus menerima Liana padahal Chester tidak mencintainya,” ujar Chester.
“Liana itu anak yang baik, lagian Papa kamu juga senang dengannya, pokoknya Mama tidak mau tahu. Mama hanya memilih Liana untuk menjadi menantu Mama,” sahut Mary.
“Kalau dia baik dia tidak akan membuat hal yang menjijikkan seperti tadi, lagian dari mana asalnya hingga Mama dan Papa percaya padanya?” tanya Chester serius.
“Dia anak konglomerat, anak dari teman Papa kamu,” jawab Mary dengan yakin.
Chester menatap wajah Mary dengan tatapan sulit diartikan.
“Sejak kapan Papa ada teman konglomerat?” tanya Chester lagi.
__ADS_1
Mary mendengus kesal.
“Tanya Papa kamu saja, lagian kamu tega mengurung Papa kamu demi wanita tidak jelas itu!” ketus Mary.
“Namanya Jennixia Ma, dia istri Chester. Terserah Mama mau terima Jenni atau tidak, karena Chester yang menjalani hubungan ini lagian Chester sudah kenal Jennixia sejak 5 tahun yang lalu,” ucap Chester kemudian.
“Ck, sudahlah lebih baik kamu keluar! Mama tidak butuh kamu di sini, pergi!” Mary mendorong Chester karena dirinya begitu kesal.
Mary merasa tidak puas hati karena Chester tetap saja memihak pada Jennixia. Dan Mary sudah kehabisan ide untuk membujuk Chester untuk mematuhi perintahnya.
Liana yang rupanya bersembunyi di dalam kamar mandi di kamar Mary kini telah keluar dengan wajah yang sendu. Dia mendekati Mary lalu duduk di sebelahnya.
“Nampaknya Chester tidak akan tertarik denganku,” ucap Liana.
Mary merasa kasihan pada Liana, dia menarik Liana masuk ke dalam pelukannya lalu mengusap punggung Liana.
“Sabarlah suatu saat pasti Chester sadar akan kehadiranmu,” ujar Mary.
“Ck, sampai kapan harus begini dan Om Eild juga belum dibebaskan cih, buang waktuku saja,” gumam Liana dalam hati.
....
Di tempat Eild dikurung.
Chestet memasuki kamar di mana Eild berada. Eild yang sadar dengan kedatangan Chester langsung menatap tajam ke arah Chester.
“Mau apa kamu ke sini anak durhaka!” bentak Eild yang sedang duduk di kamar itu.
“Maaf kalau dengan mengurung Papa, Chester jadi anak durhaka. Tapi asal Papa tahu target Papa kemarin adalah istri Chester! Dan Chester tidak akan segan-segan menyingkirkan siapapun yang coba melukakan istri Chester!” tegas Chester dengan raut wajah memerah.
“Alah palingan jala** itu Cuma perbodohi kamu Ches, lihatlah dia berbelanja sesuka hatinya, menghina Mama kamu dan Liana, dia Cuma berlagak polos!” ketus Eild.
“Ck! DIA ISTRIKU!” suara teriakan Chester memenuhi ruang kamar itu.
“Papa tidak peduli!” sahut Eild tidak kalah tinggi suaranya.
Chester mendengus kasar lalu meninggalkan Eild sendiri di kamar itu. Dia tidak ingin terlalu lama berdebat karena dia masih sadar Eild adalah orangtuanya.
....
Alex sudah tidak bisa duduk diam, dia memikirkan keadaan Jennixia dan dia yakin Chester tidak memperlakukan Jennixia dengan baik.
__ADS_1
Alex coba menyusun rencana untuk membawa Jennixia kembali dan berjanji akan memberi Jennixia hidup yang bahagia.
Biar rencananya berhasil dia harus memanfaatkan Arviy, karena Arviy juga begitu terobsesi dengan Jennixia.
Alex keluar dari rumahnya dan menuju ke kantor Arviy, tapi sewaktu dalam perjalanan Alex melihat Anderson sedang berjalan kaki di trotoar.
Dia langsung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan mengikuti langkah Anderson.
Anderson masih menekuk wajahnya, dia tidak sadar bahwa ada yang mengikutinya sehingga dia merasa ada yang memegang pundaknya barulah dia menoleh.
Alex menggunakan sapu tangan yang sudah dibius obat untuk menutup hidung dan mulut Anderson. Sangat kebetulan tempat itu sangat sepi mungkin karena jam sudah menunjukkan jam 12 malam.
Alex menyeret Anderson masuk ke dalam mobilnya dan dia kembali melajukan mobilnya tapi bukan menuju ke tujuan dia yang pertama. Alex membawa Anderson ke markasnya.
Dia ingin mengintrograsi Anderson karena pria itu sudah berani menjual Jennixia untuk mendapatkan uang.
Anderson diikat di sebuah kursi kayu, anak-anak buah Alex sudah menyiapkan pelbagai peralatan untuk menyiksa pria itu.
Alex duduk berhadapan dengan Anderson yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Siram dia menggunakan air es,”perintah Alex pada anak buahnya.
Beberapa anak buah Alex membawa satu baskom air yang telah dicampurkan dengan es dan mereka menuangkan air tersebut di atas kepala Anderson.
Rasa dingin air itu membuat Anderson kembali siuman dan mulai menggigil. Dia tahu kali ini dia pasti di tangkap lagi.
“Maaf Tuan, bu-bukankah ta-ta-tadi baru le-lepaskan saya,” ucap Anderson terbata-bata karena menggigil.
“Huhh Anderson,” panggil Alex dengan suara khas dirinya.
Saat itu barulah Anderson sadar bukan Arviy yang berada di hadapannya tapi pria lain. Mata Anderson masih terlihat sedikit buram.
“Ka-kamu si-sia-pa?” tanya Anderson.
“Ck, kamu lupa atau pura-pura lupa?” Alex kembali bertanya.
Anderson coba menatap pria di depannya ini dengan jelas, karena perkataannya seperti dejavu bagi dirinya.
Setelah dia bisa melihat jelas, matanya langsung membulat dan melotot.
“KAMU!” teriak Anderson karena kaget.
__ADS_1
Bersambung...