
Setelah selesai rapatnya, Chester mendapat laporan bahwa wilayah sebelah barat mereka dikuasi oleh musuh yang banyak dan melebihi jumlah mereka.
Chester mengangguk faham, dia segera memasuki mobilnya dan menyuruh Luis menelepon beberapa anak buah mereka lagi untuk ikut serta dalam misi ini.
Dipertengahan jalan menuju ke wilayah barat, Chester menerima telepon dari Nera.
“Ya, Ner saya ada dalam perjalanan menuju ke wilayah barat kamu tolong urus sisa pekerjaan...” ucapan Chester terhenti ketika Nera langsung memotongnya.
“Maaf Tuan, ini tentang Nona!” suara Nera terdengar panik.
“Ada apa Ner?” tanya Chester ikut cemas.
Nera menceritakan tentang kedatangan Arviy dan hadiah bangkai yang dia beri kepada Jennixia.
Chester mengepalkan tangannya, matanya memerah mendengar cerita Nera. Chester menyuruh Nera memberitahu Mei untuk berkemas agar bisa kembali ke mansion.
“Aku akan sampai sebentar lagi,” ucap Chester.
“Baik Tuan,” sahut Nera dari seberang sana.
Chester terpaksa mengarahkan pada sopirnya untuk patah balik dan dia coba menelepon Luis untuk kembali saja dan nanti malam mereka akan melakukan penyerangan karena hal Jennixia dia tidak boleh anggap enteng.
....
“Apa mereka belum sampai?” tanya Sean dari telepon.
“Tadi beberapa anak buahnya sudah kami tumpaskan tapi sampai sekarang target belum muncul,” sahut salah satu anak buahnya Bad Devils dari seberang sana.
Sean mematikan ponsel lalu menatap ke arah Arviy dan seorang wanita cantik yang berada di dalam ruangannya.
“Pasti dia lebih mementingkan wanita itu,” ucap Arviy.
“Ck, sialan wanita itu dia sudah hidup mewah atas penderitaanku!” ketus wanita cantik yang duduk di sebelah Arviy.
“Apa patut kita serang saja Chester?” tanya Sean meminta persetujuan.
“Tapi pasti sekarang dia bersama anak buahnya,” sahut Arviy lagi.
“Ck itu malah gampang,” ujar Sean.
Sean kembali menekan nomor ponselnya lalu menelepon satu nomor yang merupakan musuh Chester juga.
Setelah berbincang-bincang dengan musuh Chester lewat panggilan telepon akhirnya mereka setuju bekerjasama dan mereka akan mulai melacak keberadaan Chester saat ini.
“Kenapa kita tidak langsung culik wanita itu saja?” tanya wanita cantik yang sedari tadi terus merasa kesal.
“Sabar Vi, kamu tidak boleh gegabah,” ujar Arviy sambil memegang tangan wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu ada Vivian anak kandung dari Anderson yang menjadi tawanan Arviy, kini dia ikut dalam rencananya karena ingin membalas dendam dengan Jennixia yang sering beruntung menurutnya.
Sean memandang malas ke arah Arviy dan Vivian, terlihat jelas di matanya Vivian merupakan wanita murahan dan Arviy hanya mempergunakannya.
....
Kembali di mana Chester berada.
Perjalanan mereka menempuh 1 jam untuk sampai ke rumah Jennixia tapi sewaktu perjalanan sudah hampir memasuki kawasan perumahan Jennixia, jalan yang mereka lalui di palang oleh sekumpulan pria berbaju hitam dan berwajah garang.
“Ck, siapa mereka,” ucap Chester.
Mobil yang dinaiki Chester berhenti begitu juga dengan mobil-mobil anak buahnya. Anak buah Chester telah keluar dari mobil untuk memastikan siapa yang berani menghadang jalan mereka.
“Siapa kalian dan apa kalian mau?” tanya salah satu anak buah Chester.
“Kami dari Dragon Eyes dan kami inginkan kepala ketua kalian,” sahut salah satu pria yang merupakan musuh Chester.
Pria yang tadi dari Dragon Eyes berteriak.
“SERANG!”
Mereka menyerang anak buah Chester dengan berbagai gaya pukulan dan tendangan tetapi berhasil dielakkan oleh anak buah Chester.
Chester dari dalam mobil akhirnya mengeluarkan senjatanya, dia ingin menghabiskan saja mereka karena memperlambatkan dirinya bertemu Jennixia.
Chester langsung saja melepaskan dua tembakan mengenai tangan pria itu dan pria itu langsung berteriak kesakitan.
Salah satu pria menodongkan senjatanya ke arah Chester tapi dari belakang Chester sudah ada yang menembaknya.
“Tuan tidak apa-apa?” tanya Luis yang baru saja melepaskan tembakan ke arah pria tadi.
“Bereskan mereka semua sisakan beberapa orang dan jangan bunuh pria itu bawa ke markas saja,” perintah Chester pada Luis dan beberapa anak buahnya.
Mereka menembaki musuh mereka hingga mati terkapar di jalan itu. Hanya beberapa orang saja yang mereka bawa untuk diinterograsi.
Setelah selesai, Chester kembali memasuki mobilnya dan sopirnya langsung bergegas menancap gas meninggalkan kawasan itu.
Beberapa menit kemudian sampailah mereka di kawasan rumah Jennixia. Setelah mobil berhenti Chester langsung keluar dan bergegas menemui Jennixia.
“Jenni di mana?” tanya Chester pada Nera yang sudah berdiri di hadapan pintu menunggu Chester.
“Nona masih tidur,” sahut Nera mengikuti langkah Chester masuk ke dalam rumah.
Jessi sudah terduduk di ruang tamu dengan pikiran yang berkecamuk karena kejadian Jennixia tadi.
“Ibu,” sapa Chester.
__ADS_1
“Nak Ches, baguslah kalau kamu sudah datang, Jenni ada di kamar mungkin masih tidur,” sahut Jessi dengan wajah mulai terlihat lega.
Nera tidak mengikuti Chester ke dalam kamar Jennixia, dia menunggu bersama Jessi di ruang tamu sambil mengobrol tentang Jennixia.
Chester memasuki kamar Jennixia dan mendapati Jennixia masih tertidur dengan pulasnya. Dia menghela nafas lega.
Mei pamit keluar dan Chester mendekati Jennixia. Dia mengusap kepala Jennixia dan mencium puncak kepalanya.
“Maafkan aku datang terlambat,” ucap Chester lirih.
Seperti biasa aroma tubuh Chester mampu mengusik rongga hidung Jennixia. Dia membuka matanya perlahan dan menatap Chester yang sedang menatapnya.
“Sudah lama pulang?” tanya Jennixia dengan suara serak.
“Baru saja, kalau masih mengantuk tidur lagi ya,” sahut Chester.
“Biar aku gendong kamu masuk ke mobil,” lanjut Chester lagi.
“Kita mau ke mana?” tanya Jennixia yang terlihat bingung karena memang dia tidak tahu mereka akan pulang ke mansion.
“Kita pulang ke mansion saja sayang, di sana aman. Arviy tidak akan berani menganggumu,” jawab Chester.
Jennixia terdiam mendengar nama Arviy di sebut, kejadian tadi kembali mengusik dirinya, air matanya mulai mengalir lagi.
Chester agak kaget melihat Jennixia tiba-tiba menangi.
“Sayang kenapa? Ada yang sakit?” tanya Chester terlihat cemas.
Jennixia menggeleng dia memeluk tubuh Chester.
“Aku takut,” ucap Jennixia lirih.
Chester mengusap punggung Jennixia agar dia tenang.
“Aku ada di sini. Aku pastikan dia tidak akan berani melukaimu,” ucap Chester menyakinkan Jennixia.
Jennixia mengangguk kecil. Chester mengendongnya ala bride style setelah Jennixia sudah merasa tenang.
Chester membawa Jennixia masuk ke mobil yang dia naiki tadi dan Jessi bersama Mei menaiki mobil yang berbeda tapi masih bersama Nera.
Pengawalan ketat dibuat, sepanjang perjalanan mereka Jennixia tidak pernah melepaskan pelukannya dari Chester.
Chester juga tidak berhenti mengusap punggung Jennixia agar Jennixia merasa lebih nyaman.
“Aku akan membalasmu Arviy,” gumam Chester dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1