
Liana duduk di sebelah Chester dan berhadapan dengan Jennixia, hal ini membuat Jennixia menghela nafas panjang.
Liana menatap sinis kepada Jennixia dia berlagak seperti nyonya di mansion itu.
"Ches, kau mau lauk apa? biarku ambilkan." Ucap Liana dengan melembutkan suaranya.
Chester mengacuhkannya lalu menatap ke arah Jennixia.
"Jen..." Panggilnya dengan lirih.
Jennixia langsung saja memasuk sayuran ke piring Chester lalu mengambil satu piring lagi untuk dia letakkan udang saos.
Jennixia dengan telaten membuka kulit udang itu lalu diletakkannya di dalam piring Chester.
Mereka semua agak kaget karena Chester belum mengarahkannya untuk mengambil lauk yang diinginkan tapi Jennixia sudah bergerak tanpa arahan.
Sudut bibir Chester melengkung, walaupun Jennixia masih terkesan cuek padanya tapi dia tetap melakukan tugas seorang istri dengan baik.
"Terima kasih sayang." Ucap Chester sambil mengusap puncak kepala Jennixia.
"Ya sama-sama." Jawab Jennixia yang masih tertunduk.
Liana merasa iri karena Chester memperlakukan Jennixia dengan baik, dia juga ingin diperlakukan seperti itu. Liana memperhatikan gelas Chester masih saja kosong dia buru-buru hendak mengisinya tapi Jennixia yang peka sudah lebih dulu melakukannya.
"Kamu jangan minum yang dingin awas kembung perut." Ucap Jennixia polos.
"Ck, sekarangkan musim panas bagaimana bisa kembung perut." Sindir Eild yang sudah hilang sabar dengan kelakuan Jennixia yang menurutnya sering mencari perhatian pada Chester.
"Buang saja minuman itu ganti dengan air dingin." Tambah Mary lagi.
Liana ingin mencapai gelas Chester tapi Chester langsung mengambil gelas itu dan menghabiskan isinya lalu diletakkannya kembali ke meja.
"Sudah tidak perlu air dingin aku hanya minum yang hangat saja." Sahut Chester.
Eild dan Mary dibuat kesal oleh ucapan Chester yang seolah-olah membela Jennixia. Kini acara makan berlangsung dan hanya ada bunyi sendok yang bergesek dengan piring.
Belum selesai makan tiba-tiba perut Liana memulas, dia berdiri lalu berlari masuk ke dalam kamarnya. Mereka yang ada di meja itu langsung menatapnya heran.
Chester tidak mempertanyakan dan langsung saja melanjutkan acara makannya.
Tapi kejadian tak terduga terjadi tadi Liana kini Eild, perutnya seperti terguncang kuat alhasil dia juga ikut berlari memasuki kamar mereka.
Mary menatap mereka dengan aneh tapi reaksi Chester dan Jennixia masih saja biasa. Tidak sampai 5 menit kini giliran Mary yang berlari sambil memegang perutnya.
Chester barulah menatap bingung.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan mereka?" Ucapnya.
Jennixia hanya menggendikkan bahunya lalu menlanjutkan makan makanannya. Chester mulai merasa curiga sehingga dia cepat menghabiskan makanannya dan akan melihat kedua orangtuanya.
Di dalam kamar Mary mengetuk pintu kamar mandi berulang-ulang karena tidak tahan ingin membuang air besar dan Eild terpaksa keluar walaupun hajat membuang air besarnya belum selesai.
"Kenapa lama banget sih pa, minggir mama lagi kebelet." Ketus Mary setelah Eild keluar dari kamar mandi.
"Padahal aku saja masih sakit perut, aduhh mules sekali. Ma, jangan lama-lama dong." Ucapnya dari depan pintu kamar mandi.
Di kamar yang Liana tempati.
Liana kini terbaring di atas ranjang karena perutnya terus saja memulas dan dia harus terus-terusan membuang air besar.
"Ahh pengen buang lagi." Liana sudah mulai kesal karena harus masuk ke dalam kamar mandi lagi dan lagi.
Setelah selesai makan, Chester menuju ke kamar orangtuanya untuk melihat keadaan mereka.
"Ma, Pa ada apa sih kenapa kalian pergi sebelum selesai makan?" Chester menatap bingung orangtuanya yang terduduk di depan kamar mandi.
"Kayaknya kami salah makan deh, coba kamu tanyakan dengan kokinya karena papa dan mama terus saja mencre*." Ucap Eild dengan lemah.
"Ahh mama pengen lagi."
"Tunggu ma, papa dulu."
Mary langsung memasuk kamar mandi untuk membuang hajat besarnya. Eild tampak menahan sakit perutnya.
Chester keluar dari kamar mereka lalu menuju ke arah dapur, tapi setelah sampai ke ruang dapur dia mendengar suara tawaan yang familiar ditelinganya.
"Mei, pasti mereka sedang parah kebeletnya." Ucap Jennixia yang tertawa renyah.
"Shtt Nona jangan terlalu kuat nanti mereka dengar." Ucap Mei yang juga menahan untuk tertawa.
"Bagaimana mereka mau dengar, mereka lagi sibuk masuk ke kamar mandi Mei, ahh kebelet gitu." Jennixia masih saja terus tertawa karena drama yang mereka bertiga rasakan.
Chester menepuk dahinya, baru saja dia hendak menginterograsi kokinya tapi rupanya pelakunya adalah istri kecilnya. Chester mendekati Jennixia dengan berdehem.
"Ehem."
Jennixia dan Mei tiba-tiba berhenti tertawa dan terpaku di tempat. Perlahan Jennixia menoleh ke belakang dan dia mulai tersenyum lalu mundur.
"Hahh hehe, Mei Tuan Chester datang." Ucap Jennixia mulai gugup.
Mei juga ikut menoleh lalu tersenyum dan berlari ke belakang Jennixia. Mei bersembunyi belakang tubuh kecil Jennixia.
__ADS_1
"Lah kenapa kau yang bersembunyi sepatutnya aku yang bersembunyi, ck." Celetuk Jennixia.
"Sudah, Jen ikut aku ke kamar dan kamu Mei ketemu Nera dan suruh dokter datang ke mansion sekarang." Chester menyeret Jennixia masuk ke kamar walaupun Jennixia tidak mau.
Sampai di kamar, Jennixia menghentakkan kakinya lalu menghempaskan bokongnya di atas ranjang mereka.
Chester hanya menggelengakan kepalanya.
"Kenapa kamu lakukan itu Jen?"
Jennixia tidak menjawab dia diam dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Bibirnya juga sudah maju ke depan.
Chester tidak tau bagaimana hendak membujuk Jennixia. Dia coba duduk di sebelah Jennixia lalu mengusap puncak kepalanya.
"Jen..." Chester memanggil Jennixia dengan lembut.
"Aku masih membencimu jadi jangan coba membujukku." Ketus Jennixia.
"Kenapa kau membenciku? Salahku di mana Jen?" tanya Chester lagi.
"Salahmu adalah menikahiku, kau memberi harapan padaku padahal kau sudah bertunangan dengan si gunung gede itu cih."
Mata Jennixia mulai berkaca-kaca karena merasa dirinya jauh dari kata cocok jikalau bersanding dengan Chester dan tidak seperti Liana yang mempunyai tampilan elegan dan lengkuk tubuh yang melehoy.
"Dia bukan tunanganku, itu semua akalan orangtuaku." Jelas Chester yang kesekian kalinya.
"Tetap saja kau menipuku hisk hisk." Jennixia mulai terisak karena tidak bisa membayangkan jika Chester lebih memilih wanita lain.
Chester merubah posisinya kini dia berjongkok di depan Jennixia. Air mata Jennixia mengalir deras seperti air sungai.
"Aku tidak menipumu sayang, tolonglah percaya padaku" Chester meraih kedua tangan Jennixia lalu digenggamnya bersama.
"Kita hadapi ini bersama-sama ya," lanjut Chester lagi.
"Tapi dia lebih menarik, tubuhnya aja bisa membuat Mei tergiur apalagi kau, pasti kau jugakan."
Chester menggelengkan kepalanya.
"Aku menginginkan tubuhmu Jennixia bukan tubuh wanita lain." Tegas Chester.
"Buktinya mana kalau kau tidak menginginkan tubuh yang melehoy itu. Lagian gunungnya gede hisk hisk, gunungku seperti lapangan bola." Ucap Jennixia polos.
"Kalau begitu mari kita buat gede gunungmu biar kalahan dia nanti." Chester sempat-sempatnya ingin berbuat mesum kepada istri kecilnya yang merasa minder itu.
Jennixia hanya mengangguk dan seperti biasa dia mengangkat pakaian atasnya dan sekelip mata Chester menyambarnya.
__ADS_1
Bersambung...