Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 25 Alex dan Arviy


__ADS_3

Di tempat Alex.


Alex menatap tajam ke luar jendela. Dia tidak menyangka Arviy benar-benar akan menculik Jennixia dan dia harus mencegah biar hal itu tidak berlaku.


Ini juga merupakan kesempatan Alex bertemu dengan Jennixia. Lusa dia akan mendengar semua rencana Arviy dan akan memastikan rencana Arviy gagal.


Dia tidak ingin menambah dosanya pada Jennixia, dia harus menebusnya dengan menyelamatkannya dari kedua pria itu.


"Ar, jangan harap kau bisa memilik Jennixia, aku pastikan itu." Ucap Alex dengan dingin.


Alex menelepon anak buahnya yang sedang memata-matai Jennixia dan Chester.


Dia mengatakan mengingatkan sekali lagi agar mereka melaporkan apa saja perintah yang diberikan oleh Arviy sebelum mereka melaksanakan.


Karena dia yang akan menilai jika perintah jika perintah Arviy itu masih masuk akal maka dia akan izinkan anak buahnya untuk melakukan tapi jika dia merasa sudah keterlaluan dan bisa membahayakan Jennixia maka dia sendiri akan turun tangan.


Alex kembali meneruskan pekerjaannya setelah selesai meningatkan anak buahnya. Kini dia bisa sedikit tenang.


...


Jennixia sedang bermain-main air laut di temani Chester tetapi mata Chester tidak lepas dari memperhatikan lengkuk tubuh Jennixia yang sedang mengenakan bikini.


Tengkorokannya terus merasa kering biar pun sudah berulang kali dia menelan air liurnya, pemandangan lengkuk tubuh Jennixia membuat hasratnya tidak bisa dia tahan ingin sekali dia melepaskasnya dengan kepuasannya.


Bayangan-bayangan gerakan erot** telah terlintas di dalam pikirannya sehingga membuatnya tersenyum sumringgah.


Byurrr...


Lamunannya membuyar saat Jennixia menenggelamkan dirinya di dalam air itu. Chester menjadi panik dia segera mendekat ke arah Jennixia.


"Bahhh!" Jennixia mengejutkan Chester dengan tiba-tiba muncul.


Chester menghela nafas lega karena Jennixia hanya ingin mengenakan dia.


"Jen, tidak boleh begitu..."


Kata-kata Chester terhenti apabila dia sadar bikin yang menutup gunung berkembar Jennixia begitu tercetak jelas karena basah.


Gullkkk...


Jennixia sadar Chester menatap ke arah mana, tapi dia dengan polosnya berkata.


"Belum membesar dia, apa mungkin harus sering-sering ya agar cepat menjadi gede."


Chester dibuat tercengang mendengar ucapan Jennixia yang polos dan ide jahil pun terlintas di pikirannya.

__ADS_1


"ialah Jen, masa sekali buat aja langsung gede, ya nggak mungkinlah." Chester mau mengambil kesempatan ini lagi.


Mesum sekali pemikirannya, tapi Chester tidak berdosa jika dia menginginkannya karena Jennixia adalah istri sahnya.


"Oh kalau begitu nanti ya." Jawab Jennixia.


"Sekarang aja."


Tanpa mendengar jawaban Jennixia Chester langsung saja menggendong Jennixia keluar dari air laut itu.


Chester membawanya ke kursi khas untuk bersantai, Chester mendudukkan Jennixia di sana.


Mata Chester sudah menunjukkan ingin menerkam Jennixia.


"Tapi ini masih di luar sayang." Ucap Jennixia sambil melihat kiri kanannya.


"Hanya kita berdua di sini, pengawal dan pelayan ada dalam Villa dan di bagian sana masih jauh dari sini." Chester sudah berlutut di depan Jennixia.


"Masih asin, harusnya mandi dulu." Sahut Jennixia.


"Itu yang bagus, biar aku menghilangkan rasa asinnya." Chester mulai menarik tali alas gunung berkembar Jennixia yang tergantung dilehernya dan menarik tali yang di belakang juga.


Jennixia tiba-tiba merasa sesuatu yang aneh, dia menarik wajah Chester untuk menatapnya. Lalu menempalkan bibirnya pada bibir Chester.


Chester tersenyum karena Jennixia sudah mulai ada inisiatif sendiri untuk memulaikan kontak tubuh. Chester semakin memperdalamkan tautan mereka.


Chester kembali menyesal sendiri, seharusnya dia membawa Jennixia masuk ke dalam kamar agar dia bisa dengan leluasa mengeksekusi bagian atas Jennixia.


Chester coba mencari alasan agar Jennixia mau berpindah ke dalam kamar saja.


"Jen, kita pindah ke kamar yuk." Ajak Chester setelah melepaskan tautan bibir mereka.


"Aku takut para pelayan tiba-tiba datang ke sini, lagian kamu dalam keadaan begini." Lanjut Chester lagi.


"Tapi aku masih ingin main air laut." Ucap Jennixia sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ehm, begini saja sebentar malam kita akan mandi kolam bersama bagaimana?" tawar Chester dia berharap Jennixia menyetujuinya.


"Lumayan sih ok ayo."


Chester membantu Jennixia mengenakan handuk kimononya lalu bergandeng tangan dengan Jennixia menuju ke arah Villa.


Sampai di dalam kamar, Chester cepat menarik tangan Jennixia dan membawanya merebahkan diri di atas ranjang yang empuk.


Chester berada di atas dia menarik kimono Jennixia dan tersembul keluarlah gunung berkembarnya.

__ADS_1


Chester yang sudah tidak menahan itu langsung menerkam gunung kanan Jennixia dengan penuh bersemangat.


Jennixia menikmati rasa nikmat itu, sehingga dia merasakan kembali tubuhnya semakin menghangat dan bagian tengah bawahnya merasa ngilu.


Hanya suara pekikan yang kedengaran di dalam ruang itu.


....


Anderson yang masih asyik dengan liburannya bersama anak kesayangannya kini di datangi oleh beberapa pria yang berpakaian hitam.


Anderson tidak bisa melawan, apalagi anak gadisnya yang masih seumuran Jennixia itu. Gadis itu hanya menangis dan tidak berani berteriak karena di ancam oleh salah satu pria berpakaian hitam itu.


Anderson dibuat pingsan dan mereka membawanya masuk ke dalam mobil. Gadis kecil itu juga pingsan dan dibawa oleh salah satu pria itu untuk menjadi tebusan.


Anderson di bawa pergi dan kembali ke kotanya, untuk menghadap Arviy. Dia diikat di sebuah kursi dalam sebuah ruangan.


Byurrr....


Anderson disiram oleh salah satu orang suruhan Arviy. Arviy duduk di sofa sambil menyilangkan kaki di hadapan Anderson.


"Hei, kau sudah sadar?" tanya Arviy.


Anderson memaksa matanya untuk terbuka walaupun kepalanya terasa begitu berat dan sakit.


"Kau siapa?" tanya Anderson karena pandangan matanya masih kabur.


"Kau pura-pura lupa atau anak gadismu akan aku jadikan sebagai pemuas naf**ku?" ancam Arviy.


Anderson kembali sadar siapa di depannya ini setelah penglihatan kembali jelas.


"Tu...an Ar..viy.. Tolong jangan apa-apakan putriku." Ujar Anderson dengan tubuh yang mulai gementar ketakutan karena ancaman Arviy.


Awalnya dia kira Arviy tidak akan serius dalam ucapannya tapi ternyata pikirannya terlalu mudah padahal dia tau orang seperti Arviy tidak memberi uang secara cuma-cuma.


"Lalu?" Sela Arviy singkat.


"Baiklah aku akan membawa Jennixia kepadamu, aku janji." Jawab Anderson.


"Aku sudah mengubah rencanaku, karena kau terlalu lama tapi aku masih membutuhkanmu." Terang Arviy.


"Bawa Jennixia bertemu denganmu, katakan padanya Ibunya merinduinya maka dia akan cepat bertemu denganmu, soal alamat tempat di mana nanti suruhanku akan menjemputmu, kau hanya tinggal berusaha membawa Jennixia bertemu denganmu dan jauh dari Chester." Lanjut Arviy lagi dengan seringgai kejahatan.


"Baiklah akan aku lakukan tapi tolong lepaskan putriku." Pinta Anderson.


"Selagi pekerjaanmu belum selesai, putrimu akan aku tawan tapi jangan risau aku tidak akan menganggunya." Jawab Arviy dengan wajah yang licik.

__ADS_1


Padahal Arviy sudah membayangkan gadis kecil itu memuasinya nanti, apalagi dengan bentuk tubuh yang bisa menggoda mana-mana pria.


Bersambung...


__ADS_2