
Edward bergegas keluar untuk menegur kelakuan wanita.
“Permisi Nona, jangan berdiri di tengah jalanan bahaya, tolong minggir kami sedang terburu-buru.”
Wanita itu mengacuhkan Edward, dia tetap saja berdiri di tempat itu dan merentangkan kedua tangannya.
Edward menuju ke arah wanita itu, lalu dengan sabar dia mengulang ucapannya tadi. Tapi wanita tetap mengacuhkannya.
Ingin rasanya Edward berbuat kasar jika di depannya saat ini bukan seorang wanita pasti sudah dari tadi dia mengeluarkan tendangan andalannya.
“Nona! Tolong kalau ingin berdiri jangan di sini berdiri saja di sana, masih banyak tempat lain.” Kesabaran Edward makin menipis.
“Ck.” Wanita itu hanya berdecak tapi tidak bergeser dari tempat dia berdiri.
Chester yang merasa Edward terlalu lama akhirnya keluar dari mobil lalu menodongkan senjata ke arah wanita itu.
Wanita itu membulatkan matanya, dia tidak sangka pria yang harus di tahannya tadi kini mengeluarkan senjata dan menodong ke arahnya.
“Sia*an Alex bisa mati benaran aku.” Gumamnya dalam hati.
Edward yang sadar dengan kehadiran Chester pun langsung melangkah mundur karena kapan saja Chester akan melepaskan tembakannya.
“Minggir atau kau mati benaran.” Ancam Chester dengan wajah yang dingin.
Mau tidak mau, wanita itu terpaksa mundur dan berpindah tempat. Dia sadar masih ingin hidup lama di dunia dan baru pertama kali dia melihat pria yang berwajah dingin seperti tidak sabar ingin menerkam korbannya.
Edward kembali ke mobil menyusuli Chester yang telah duduk cantik di kursi penumpang. Wanita tadi telah menghilang dari tempat itu. Edward melajukan mobil menuju ke rumah sakit.
....
Sedangkan di rumah sakit, Arviy baru saja berhasil melewati pengawal yang berjaga dengan berbagai macam alasan.
Arviy masuk ruang inap di mana Jennixia berada. Tapi dia tidak menyangka ada Mei bersama Jennixia.
Mei menatap tajam ke arah Arviy.
“Kau mau apa ke sini?” tanya Mei dengan nada dingin.
Arviy merasa salah tingkah.
“Aku... huhh aku hanya ingin melihat kondisi kalian.” Jawabnya dengan tersenyum paksa.
“Dari mana kau tahu kami berada di sini?”
__ADS_1
“Kebetulan... “
Ceklek...
Chester masuk ke dalam ruang inap dan langsung mendekati Arviy lalu mencekiknya.
“Kau buat apa ke sini hah!”
Arviy mengangkat kedua tangannya lalu menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa bersuara karena Chester mencekiknya dengan kuat.
Gara-gara keributan yang terjadi di dalam ruangan itu, Jennixia kembali terbangun. Dia menatap kaget ke arah Chester yang terlihat marah dan mencekik leher Arviy.
Jennixia hendak turun dari ranjang tapi Mei menarik tangannya lalu menggelengkan kepala.
“Nona jangan ke sana.” Ucap Mei.
Tapi Jennixia tetap bersikeras dan melepaskan tangan Mei yang mengenggam kuat tangannya.
Jennixia berlari lalu memeluk Chester dari belakang.
“Hentikan, dia bisa mati sayang.” Ucap Jennixia lembut agar Chester kembali tenang.
Setelah mendengar suara lembut Jennixia hatinya dipenuhi dengan kehangatan, emosinya menurun dan dia segera melepaskan tangannya yang mencekik Arviy.
Chester masih mendiami Jennixia, dia mengatur perlahan nafasnya dan coba mengubah raut wajahnya kembali tenang.
Tapi dia tetap tidak lupa untuk memanggil pengawalnya.
“Kalian yang di luar! Bawa pria ini pergi dari sini dan jangan pernah biarkan dia menginjak ruang ini kalau tidak kamu akan aku bunuh sekalian bersama dengannya!” Ancam Chester dengan tatapan tajam.
Beberapa pengawal menyeret Arviy untuk keluar dari dalam ruang inap Mei. Dan yang lainnya tetap terus siaga berjaga di depan ruangan.
Chester membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan Jennixia. Dia mengusap perlahan punggung Jennixia.
“Maaf aku buat kau takut.” Ucap Chester perlahan.
“Aku sudah pikirkan semuanya, kita akan kembali ke mansion saja biar tidak terjadi seperti ini lagi,” lanjut Chester lagi.
Jennixia mengangguk setuju dengan ide Chester, walaupun kakinya belum berapa sembuh tapi lebih baik dia di rawat di mansion bersama Mei saja.
...
Sedangkan keadaan mansion terlihat huru hara di buat oleh Mary dan Liana. Karena Eild telah di tahan Mary harus memprovokasikan kondisi mansion Chester.
__ADS_1
Rasa marahnya pada Jennixia semakin membuak-buak.
“Kalau saja bukan karena wanita jalan* itu pasti suamiku tidak akan di tahan.” Gerutu Mary yang sedang mengacak-ngacak isi ruang tamu mansion.
Liana turut merasa geram, ingin sekali dia merusakkan wajah Jennixia biar Chester berpaling padanya.
“Tante bagaimana ini, om sedang di tahan dan kita harus buat apa?”
Mary mendengus kesal mendengar ucapan Liana yang tidak pernah memikirkan jalan keluar untuk mereka. Hanya berharap dari dirinya saja.
Tapi dia tidak bisa berlaku kasar pada Liana, mengingat keluarga Liana adalah orang kaya dan dia sangat membutuhkan harta Liana. Oleh itu, Mary harus extra sabar menghadapinya.
“Lia, nanti tante akan urus. Lagian Chester akan tetap mengikuti perintah tante. Percayalah.” Ucap Mary begitu percaya diri.
“Tapi kemarin kenapa Chester berani menyangkal tante, apa tante yakin Chester lebih mengikuti perintah tante?” tanya Liana yang mulai meragui Mary.
“Itu karena Om mu itu terlalu gegabah dan makanya Chester juga terpancing emosi tapi tenang, tante tahu caranya melunakkan hati Chester.” Jawab Mary sambil menyeringgai.
“Baiklah, Lia percaya pada tante.”
Setelah puas mengacak-acakkan isi ruang tamu, Mary dan Liana menuju ke kamar Chester tapi setelah mereka hampir sampai di lantai tiga, Nera telah berada di tangga lantai tiga menghalang jalan mereka.
“Maaf anda tidak boleh naik ke sini.” Ujar Nera dengan dingin.
“Kau siapa sih? Jangan berlagak ini mansion anakku minggir atau aku akan berbuat kasar.” Ujar Mary dengan membusungkan dadanya seperti seorang jagoan.
Nera tidak menjawab tapi tidak juga bergerak dari tempatnya. Dia mulai memegang Glock dari bagian dalam jasnya.
Mary yang merasa jengkel karena Nera masih tidak ingin memberi mereka jalan. Baru saja Mary hendak mendorong tapi tangan Nera telah keluar dari balik jasnya sambil memegang Glock kecilnya.
Mata Mary membulat dan dia mematung di tempat begitu juga dengan Liana yang mulai melangkah mundur menuruni anak tangga.
“Kau-kau awas kau, aku laporkan ke Chester.” Ucap Mary sebelum kembali turun meninggalkan lantai tiga itu.
Nera tersenyum miring, padahal dia hanya ingin menakuti mereka. Dia saja tidak berani menggunakan senjata itu kecuali dalam keadaan darurat.
“Beginikan pekerjaan lebih senang, aku harus beritahu Tuan sebentar walaupun ini terlihat lancang.” Gumam Nera lalu memasukkan kembali glocknya ke dalam jasnya.
Mary dan Liana kini berada dalam kamar tamu. Mereka saling bertatapan, nyali yang tadinya mengebu-gebu sekarang mulai menciut.
“Bisa mati di tempat kita kalau begini.” Gerutu Liana yang mulai hilang kesabaran.
“Bisa sabar nggak sih, tante sedang memikirkan solusinya. Ck, bagaimana bisa pelayan bisa memiliki barang terlarang itu.” Ucap Mary dengan nada kesal.
__ADS_1
Bersambung...