Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 60 Rencana yang dimulai


__ADS_3

Cahaya matahari yang terbit membuat para pelayan di dalam mansion sibuk dengan tugas masing-masing sehingga tidak ada yang menyadari kehadiran Eild di dalam mansion itu kecuali pengawal yang berjaga sehingga subuh tadi.


Eild masih tertidur pulas di kamar tamu yang lain. Sehingga dia mendengar bunyi dobrakan pintu yang ditendang kuat.


Braagghhh!


Eild bangun dengan nyawa yang masih separuh sadar karena kaget mendengar bunyi itu. Dia memegang dadanya untuk dan menarik menghela nafas.


Tanpa melihat siapa yang berada di hadapannya saat ini.


“Kalian sangat kurang sopan!” ucap Eild dengan nada marah karena tidurnya diganggu.


“Ck usir dia sekarang,” perintah Chester.


Bariton suara yang terdengar tegas mampu mengembalikan seluruh nyawa Eild, dia kini sadar siapa yang berada di hadapannya.


Perlahan Eild mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah suara tadi. Tubuhnya mendadak gementar dan bibirnya tiba-tiba kelu.


Beberapa pengawal menarik paksa Eild dan membawanya keluar dari kamar itu.


Tapi langkah mereka dihentikan oleh kehadiran Mary yang rupanya sudah berdiri di depan kamarnya karena mendengar bunyi bising.


“Mama,” panggil Chester lembut.


Mata Mary menatap tajam ke arah Eild. Ada rasa sakit yang dia rasakan tapi ada juga rasa sedih karena para pengawal itu memperlakukan Eild seperti binatang.


“Ma... bantu Papa,” ucap Eild yang masih dalam pegangan pengawal Chester.


Mary tidak menjawab wajahnya terlihat datar dan matanya terlihat tajam, dia menoleh ke arah Chester.


“Kenapa orang ini bisa di sini?” ucapan pertama yang keluar dari mulut Mary sedari kemarin.


Flashback on..


Setelah Chester sampai di mansionnya, salah satu pengawal melaporkan tentang kehadiran Eild dan ancaman yang dia gunakan untuk bisa lolos masuk ke mansion Chester.


Dengan raut wajah yang cemas karena takut Mary kenapa-kenapa Chester langsung saja masuk ke dalam mansion dan menuju ke kamar Mary.


“Huhh, Papa tidak ada di sini, “ ucap Chester dengan menghembus mafas lega.


“Maaf Tuan, semalam saya lihat Tuan Eild masuk ke kamar tamu itu,” ujar salah satu pengawal sambil menunjuk kamar yang di tempati Eild.


“Dobrak pintunya biar dia kaget sekalian,” perintah Chester.


Flashback end..


“Ma, maafkan Papa. Papa janji tidak akan selingkuh lagi,” ucap Eild mencoba untuk merayu Mary.


“Please Ma, lagian Liana yang mengejar Papa dan Papa hanya jadikannya sebagai hiburan saja tidak benar-benar ada rasa,” lanjut Eild lagi.


Mary menatap malas ke arah Eild, alasannya terlalu basi karena 2 tahun yang lalu alasan itu juga yang Eild gunakan.


“Aku akan menyuruh Chester mengurus surat penceraian kita!” seru Mary tegas.


“Tidak, Papa tidak mau cerai, Ma beri Papa kesempatan lagi,” Eild mulai terlihat ketar ketir.

__ADS_1


Chester mengarahkan para pengawalnya menyeret paksa Eild untuk keluar dari mansionnya. Salah satu pengawal mendekatinya dan berbisik.


“Hum, usir mereka jangan sampai mereka berani pijak kawasan ini,” perintah Chester.


Chester berjalan mendekati Mary lalu menggandeng lengan Mary dan membawanya kembali masuk ke kamar.


Mata Mary terlihat berkaca-kaca, hatinya merasa hancur dikhianati.


“Begini rasanya sakit hati,” ucap Mary dengan suara seraknya.


Chester menghela nafas panjang.


“Mama istirehatlah, biar Chester urus semuanya dan setelah selesai Chester akan hantar Mama kembali ke NY,” sahut Chester.


“Kau juga ingin meninggalkan Mama? Kau lebih memilih wanita itu?” tanya Mary dengan tatapan mata teduh.


“Maaf Ma, Jenni istriku. Aku telah bersumpah di depan altar untuk menjaganya seumur hidup,” sahut Chester.


“Mama pengen kenali dia lebih Ches itu pun jika kamu beri peluang,” ujar Mary tiba-tiba.


Mata Chester berbinar bahagia mendengar ucapan sang mama.


“Mama yakin?” tanya Chester memastikan.


“Kalau kamu tidak yakin ya tidak apa-apa,” sahut Mary dengan wajah ditekuk.


“Hmm, aku sih boleh saja tapi tidak tahu dengan Jenni, soalnya...” Chester tidak melanjutkan ucapannya.


“Maaf lupakan saja, setelah sidang berakhir Mama akan kembali ke NY,” ucap Mary.


“Ck, aku harus jauhkan wanita itu dari Chester kalau tidak dia akan berkuasa atas semua harta Chester,” gumam Mary dalam hati sambil memperhatikan punggung Chester yang menghilang dibalik pintu kamarnya.


Chester berjalan menuju ke kamarnya karena harus berganti untuk pergi ke kantor. Setelah setengah jam akhirnya Chester sudah selesai bersiap untuk menuju ke kantornya.


Dalam perjalanan ke kantor tiba-tiba ponselnya berdering, Chester mengambil ponselnya di dalam saku jas lalu melihat siapa pemanggilnya.


Rupanya sang asisten Luis yang meneleponnya. Chester menjawab panggilan tersebut.


“Tuan, maaf menganggu tapi wilayah sebelah barat diserang oleh Bad devils Tuan,” ucap Luis dari seberang sana.


“Kamu di mana sekarang?” tanya Chester.


“Dalam perjalanan ke sana Tuan,” jawab Luis.


“Baiklah aku serahkan padamu kalau keadaan tidak memungkinkan laporankan padaku, aku belum bisa ke sana pagi ini aku ada rapat dengan klien luar negeri tapi aku akan coba selesaikan secepatnya,” ucap Chester panjang lebar.


“Baiklah Tuan,” sahut Luis lagi.


Chester mematikan panggilan setelah selesai berbicara dengan Luis. Chester mengepalkan tangannya.


“Sial siapa yang berani masuk wilayahku,” gumam Chester.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Luis telah sampai dekat kawasan yang berdekatan dengan wilayah Chester. Dia mengarahkan beberapa anak buah untuk mengikuti langkahnya.


Bumm!!


Bunyi ledakan terdengar dari arah gudang mereka, Luis mempercepatkan langkahnya karena asap tebal terlihat dari arah gudang.


Setelah Luis dan anak buah sudah hampir dekat kawasan gudang mereka bersembunyi di balik semak-semak yang terdapat banyak ban yang ditimbun.


“Ck, mereka bakar di dari dalam,” gerutu Luis.


Luis memberi kode untuk mengambil tempat masing-masing dan dirinya sendiri akan masuk mengendap lewat pintu belakang gudang.


Bumm!!


Sekali lagi bunyi ledakan terjadi, entah apa yang para musuh lakukan di dalam sehingga terdengar bunyi ledakan dan mengeluarkan asap yang tebal.


Beberapa anak buah Chester tertangkap. Luis terpaksa membatalkan rencananya dan mundur, dia mengarahkan yang tinggal berusaha keluar dari tempat itu karena tempat itu terlihat lebih banyak musuh ketimbang jumlah mereka.


....


Jennixia tidak memasuki kampus hari ini karena dia berasa sangat lemas. Baru saja hendak melelapkan mata tiba-tiba ada bunyi ketukan pintu, Jennixia menoleh ke arah Mei.


Mei segera bangun untuk melihat siapa yang mengetuk pintu tetapi sudah di dahului dengan Jessi. Mata Mei melotot melihat siapa yang datang. Dia segera kembali memasuki kamar Jennixia.


“Nona, Nona...” panggil Mei sambil menggerakkan tubuh Jennixia.


“Ada apa Mei?” tanya Jennixia dengan mata yang tertutup.


“Arviy datang,” sahut Mei.


“Hahh!” Jennixia langsung membuka matanya dan mengambil posisi duduk.


“Pasti sebentar Ibu akan memanggil Nona,” ucap Mei.


“Bagaiman...” ucapan Jennixia terhenti apabila mendengar bunyi ketukan pintunya.


Tok..tok..tok..


“Jenni, temanmu ada menunggu di ruang tamu. Kamu keluarlah kasihan dia menunggu katanya mau hantar tugas dari kampus,” ucap Jessi dari balik pintu.


“Baik Ibu,” sahut Jennixia.


Benar saja tebakan mereka, kini Mei membantu Jennixia mengenakan pakaian sopan lalu menghantarnya keluar kamar.


Wajah Arviy yang sumringgah berubah datar apabila melihat kehadiran Mei dan jelas sekali dia menunjukkan wajah tidak suka kepada Mei.


“Hai, maaf menganggumu Jen,” ucap Arviy tersenyum.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2