
Renata mengirim foto yang dia ambil tadi kepada suaminya Alex.
[Foto]
[Terima kasih sayang.] balasan dari Alex.
Renata kembali bergabung di meja mereka tadi. Tampak Jennixia begitu ceria.
Banya pertanyaan yang diajukan oleh Jennixia kepada Renata, hal ini membuat Renata sudah tentu gembira karena bisa berbicara lama bersama adik iparnya.
Mei menangkap tatapan sendu yang terlihat jelas di wajah Renata, membuat Mei sedikit bingung.
"Mungkin dia teringat adiknya" batin Mei.
Setelah hampir jam masuk untuk mata kuliah, Jennixia menyuruh Mei membantunya untuk membayar semuanya lalu mereka berpamitan dengan Renata.
Renata memperhatikan punggung Rennia yang menghilang setelah masuk ke dalam kawasan sekolah. Dia tersenyum melihat tingkah Jennixia seperti anak kecil dan dengan sabar Mei melayaninya.
"Dia tumbuh menjadi wanita yang cantik." Gumamnya.
Selang 5 menit sebuah mobil berhenti depannya dan Renata memasuki mobil itu.
"Kita pulang." perintah Renata dengan sopirnya.
"Baik Nyonya."
Renata tidak sabar untuk menceritakan semuanya pada Alex. Walaupun awalnya dia tidak yakin rencananya akan berhasil dan tebakannya sebelum ini benar tentang Jennixia mempunyai jiwa membantu yang kuat terhadap sesama.
....
Chester berada dikantornya dia melihat ke arah jam yang melingkar ditangannya. Sudah jam 2 sore, dan dia harus kembali ke mansion untuk mempersiapkan Jennixia menghadapi orangtuanya.
Chester keluar dari ruang kantornya dan Nera sudah menunggunya di luar.
"Ner, baju gaun dan pesanan untuk Jennixia sudah sampai?"
"Sudah Tuan, semuanya sudah sampai di mansion." Jawab Jennixia yang berjalan di samping Chester.
"Ner, aku butuh bantuanmu." Ucap Chester serius tapi dia masih tetap fokus melihat ke depan.
"Ya?"
"Liana akan datang bersama Mama dan Papa jadi aku harap kamu bisa menjadi pendukungku untuk tenangin Jennixia jika sesuatu hal terjadi nanti." Ujar Chester.
"Baiklah Tuan." Jawab Nera mantab.
Walaupun Nera tidak tahu maksud Chester tapi dia pasti sesuatu akan terjadi nanti setelah kedatangan Liana dan orangtua Chester.
__ADS_1
Dia berharap Jennixia bisa kuat menghadapi mereka semua. Kini mereka berada di dalam mobil menuju ke mansion.
...
Di mansion.
Walaupun sebentae sore akan kedatangan orangtua Chester tetapi para pelayan mansion semua terlihat santai dan tidak ada persiapan sambutan yang dilakukan.
Jennixia membaca situasi ini, dia merasa aneh dan dia coba bertanya kepada Mei.
"Mei, kenapa tidak ada acara sambutan orangtua Chester?"
"Kata Tuan tidak perlu, lagian mereka akan datang untuk berapa minggu saja dan akan kembali ke NY." Jawab Mei.
"Tapi seharusnya dia harus merayakan kepulangan orangtuanya, mereka Nyonya dan Tuan Besar Mc Cloud."
"Ya benar Nona, tapi itu kalau mereka berada di tempat mereka. Sekarang mereka berada di tempat ini dan Nyonya besarnya adalah Nona." Sahut Mei dengan santai.
Jennixia menjadi malu mendengar ucapan Mei mengatakan padanya bahwa dia adalah Nyonya Besar rumah ini. Tapi kalau dia pikirkan memang benar karena dia merupakan istri sah Chester yang sudah terdaftar secara Negara dan agama.
"Nona bersiaplah sebentar lagi Tuan datang, atau mau saya bantu gosok tubuh munggil Nona?" Mei mulai menggoda Jennixia agar Jennixia cepat-cepat beranjak dari tempat dia duduk sekarang.
Benar saja Jennixia langsung mendelikkan matanya dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Awas kau Mei!" cetusnya.
Jennixia baru menyadari dia bukan berada di dalam kamarnya setelah selesai mandi, dia keluar menggunakan handuk kimono yang tersedia.
Dan sia* Chester sudah berada di dalam kamar itu duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.
"Kau kenapa ada di sini." Ucap Jennixia lalu menutup bagian dadanya yang sedikit terekspos.
Chester tersenyum miring, dia bangun dari duduknya dan menuju ke arah Jennixia.
"Mulai hari ini sampai ke depannya kita akan satu kamar agar orangtuaku tidak curiga sembarang." Ucapnya tepat di telinga Jennixia.
Jennixia merasa merinding apabila nafas Chester mengenai kulit lehernya. Tubuhnya tiba-tiba merasa hangat dan kaku.
"Jen..." Chester memanggil Jennixia yang terlihat melamun.
"Ya?" lamunan Jennixia membuyar dan dia baru sadar tangan Chester telah melingkari pinggang rampingnya.
"Setelah orangtuaku datang aku harap kamu bisa mempertahankan posisimu sebagai istriku dan Nyonya besar mansion ini." Ucap Chester lagi dengan wajah serius.
"Apa orangtuamu tidak menyukaiku?" tebak Jennixia karena ucapan Chester benar-benar membuatnya sedikit curiga.
"Biar mereka tidak menyukaimu tapi aku tetap menyukaimu. Hanya dirimu saja yang aku butuhkan." Chester menyakinkan Jennixia.
__ADS_1
Entah kenapa ada rasa aneh di dalam hati Jennixia, dia merasakan sesuatu yang bakal terjadi sebentar dan akan membuat dirinya sakit.
....
"Pah, sudah telepon Chester? Kita sudah hampir keluar ini loh." Ucap Mary Mc Cloud yang merupakan Mama Chester.
"Sudah tapi dia tidak mengangkatnya cih." Sahut Eild dengan nada kesal.
"Mungkin Chester lagi sibuk tante om, biar saja pasti dia sudah menyuruh orangnya untuk menjemput kita." Ucap Liana menenangkan kedua orangtua Chester.
Mary langsung saja mengandeng erat tangan Liana, dia merasa bersyukur karena bakal dapat menantu yang benar-benar memahami Chester.
Edward yang menjemput mereka telah membantu kedua orangtua majikan memasukkan koper ke dalam jok mobil.
Mary menarik tangan Liana agar membiarkan saja Edward melakukan semua tugasnya padahal Liana baru saja hendak memasuki barangnya sendiri.
"Lia, kamu tu calon istri Chester jadi jangan lakukan pekerjaan para pelayan rumah atau tugas para pengawal, awas kulit tanganmu rusak" Mary memberi nasihat kepada Liana.
Liana mengangguk dan tersenyum. Liana tidak menyangka bahwa orangtua Chester bakal memberinya dukungan yang besar untuk dirinya.
Walaupun awalnya dia sempat tidak yakin bahwa Chester tidak akan menerimanya tapi dengan dukungan kuat begini keyakinan bertambah.
"Sebentar lagi kita akan sampai di mansion Chester pasti dia sedang menunggumu," tambah Mary lagi dengan wajah sumringgah.
Tetapi setelah sampai di mansion, harapan orangtua Chester dan Liana sirna karena tidak ada acara penyambutan mereka.
"Loh ini kenapa sepi?" tanya Eild merasa aneh.
"Terus anda ingin yang bagaimana?" Sahut Chester dari arah tangga yang turun mengandengi Jennixia.
"Siapa dia Chester?" tanya Mary dengan wajah tidak suka.
Jennixia yang tadinya tidak merasa gugup kini merasa gugup sehingga telapak tangannya berkeringat.
"Kamu siapa? kenapa bergandeng dengan anakku hah!" bentak Eild yang terlihat marah.
"Diam!" Ucap Chester dengan suara lantang.
"Apa kalian datang hanya ingin berbuat ribut dan membentak Nyonya besar rumah ini." Ucap Chester dengan tegas.
"Apa?!"
Mereka bertiga kompak, apalagi Mary langsung saja berpura-pura terkena serangan jantung.
"Chester kamu puas! Mama kamu baru saja sampai ke sini kamu malah mengagetkannya." Bentak Eild sambil memapah Mary.
Bersambung...
__ADS_1