Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 92 Hamil


__ADS_3

Chester masuk terburu-buru masuk ke dalam mansion hingga hampir bertabrakan dengan Vivian.


“Eh Kak Chester sudah pulang, mau Vivi siapkan teh hangat?” tawar Vivian dengan sok mencari perhatian.


“Tidak terima kasih,” jawab Chester dengan dingin lalu melanjutkan langkahnya menuju ke lift dalam mansionnya.


“Eh Kak tunggu,” Vivian ingin mengejar Chester tetapi Chester telah menasuki lift dan pintu lift telag tertutup.


‘Shit batal lagi rencana aku mau mendekati Kak Ches,’ batin Vivian dengan wajah terlihat kesal.


Chester terlihat memang terburu-buru karena Jennixia tadi sempat menelepon dirinya dan mengatakan ada sesuatu yang penting harus dibicarakan.


Flashback on...


Jam sudah menunjukkan jam 10 pagi, saat ini Chester masih berada dalam ruang rapat.


Sedang asyik serius mendengar presentasi dalam ruangan rapat, Luis tiba-tiba datang lalu berbisik kepada Chester.


“Maaf Tuan, Nona ada telepon tadi. Katanya ada hal penting dia ingin bicarakan dan berharap jam makan siang Tuan kembali ke mansion,” bisik Luis.


“Bicara tentang apa?” tanya Chester perlahan karena dia tidak suka timbul rasa penasaran apalagi bersangkutan dengan istri kecilnya itu.


“Tidak tahu Tuan, Nona hanya bicarakan itu saja tadi,” jawab Luis dengan perlahan.


Chester mengangguk lalu kembali fokus kepada presentasi di depan tapi pikirannya mengkhawatirkan Jennixia.


‘Apa hal yang penting itu, ck jangan-jangan Jennixia sudah bosan padaku. Apalagi beberapa hari ini mode sering berubah-ubah,’ ucap Chester dalam hati.


Chester melamun, sepertinya pikirannya sudah ke mana-mana dan tubuhnya saja yang tinggal mendengarkan presentasi rapat.


“Tuan, Tuan,” panggil Luis ingin memecahkan lamunan Chester tapi Chester tetap masih terlihat fokus ke depan.


Luis memegang pundak Chester barulah Chester menoleh ke arahnya.


“Tuan, pegawai perencanaan lagi memberikan pertanyaan pada Tuan,” ucap Luis.


Chester langsung menoleh ke arah karyawan lain yang mengikuti rapat, mereka sedang menatap Chester dengan tatapan aneh karena Chester tidak seperti biasa.


Chester menghela nafas panjang lalu menjawab pertanyaan mereka dan mengulas hasil presentasi rapat.


Setelah rapat selesai, Chester tidak menunggu lama dia langsung saja kembali ke mansion apalagi nomor Jennixia sudah tidak aktif, dia mulai khawatir.


Flashback end...


Chester membuka pintu kamar mereka dengan jantung yang berdegup kencang.


“Sayang,” panggil Chester dengan suara lirih.


Jennixia yang masih menonton tv di dalam kamar mereka langsung saja menoleh ke arah Chester.

__ADS_1


“Eh Hubby,” jawab Jennixia dengan senyumana yang mengembang.


Sejak beberapa hari ini Jennixia telah menganti nama panggilan untuk suaminya, yang biasanya dia memanggil Chester kini dia telah nyaman dengan panggilan Hubby.


Chester mendekati Jennixia dengan perasaan sedikit lega karena Jennixia terlihat begitu senang akan kehadirannya.


“Hubby coba hubungi kamu tapi nomormu tidak aktif,” ucap Chester kini telah duduk di samping Jennixia.


“Hehe aku sengaja matikan ponsel,” jawab Jennixia menyengir.


“Sayang nakal,” Chester menarik gemas hidung mancung Jennixia.


Jennixia meringis kesakitan lalu mulai cemberut lagi, karena Chester suka sekali menarik gemas hidungnya.


“Terus ada apa ni suruh pulang jam makan siang, hmm giliran Hubby datang cemberut begitu lagi,” ucap Chester masih merasa ingin menggemas Jennixia tapi dia tahankan dulu karena mode Jennixia sering berubah-ubah.


“Habis Hubby suka usil,” jawab Jennixia dengan bibirnya yang mulai maju ke depan.


Chester tertawa perlahan dan mulai menci*m bibir Jennixia dan setelah ciu*an singkat itu Jennixia sudah kembali tersenyum senang.


“Hubby, aku ada kejutan untuk Hubby,” ucap Jennixia lagi dengan wajah yang terlihat berbinar.


“Kejutan apa?” tanya Chester tidak kalah penasaran.


“Hubby harus tutup mata dulu dan jangan intip kalau intip aku bakal marah,” jawab Jennixia dengan tersenyum-senyum.


Jennixia langsung mengambil sesuatu beda panjang dan kecil dari laci nakas sebelah ranjang mereka. Lalu membawa benda tersebut mendekati Chester.


Jennixia mengambil tangan Chester lalu meletakkan benda tadi di atas tangan Chester.


“Ok bisa buka mata,” ucap Jennixia.


Chester lantas membuka matanya dan melihat benda yang berada di telapak tangannya. Mata Chester membulat sempurna dia menatap tidak percaya.


“Bukankah ini ... ,” ucap Chester tergantung dia melihat ke arah Jennixia yang telah tersenyum gembira.


Jennixia mengangguk lalu berkata,


“Iya ini testpack.”


Chester langsung menarik Jennixia dan memeluknya lalu melepaskan lagi pelukannya dan berlari keluar.


“Semua perhatian!” teriaknya dia dari atas pagar lantai tiga.


Semua pelayan dan pengawal langsung berkumpul di bawah. Chester dengan wajah yang tersenyum bahagia membuat mereka bertanya-tanya ada apa.


“Mulai saat ini kalian harus bekerja extra!” perintah Chester dengan wajah yang bahagia.


Semua orang di bawah mengerutkan dahi mereka karena tidak mengerti ucapan sang majikan.

__ADS_1


“Nyonya kalian sedang hamil!” teriak Chester lagi dengan nada girang.


Sudah tentu para pelayan dan pengawal ikut bersorak sorai begitupun dengan Mary yang baru saja tiba di tempat itu karena mendengar suara teriakan Chester.


Cuma satu orang wanita saja yang mengepalkan tangannya dan kesal dengan ucapan Chester, dia adalah Vivian yang ingin merusak rumahtangga Jennixia dan Chester.


‘Aku akan pastikan anak itu tidak akan lahir!’ ucap Vivian dalam hati dengan penuh berambisi.


Vivian pergi dari tempat itu dengan wajah yang kesal, dia kembali ke kamarnya dengan mulut yang mengoceh.


Hal itu disaksikan oleh Mei dan Mary, mereka menatap Vivian dengan tatapan tajam.


‘Awas saja kalau kau berani menganggu menantu dan calon cucuku,’ batin Mary.


‘Aku harus bersama Nona 24 jam kalau begini, jangan sampai di berani menyentuh Nona dan aku akan sampaikan kepada kak Nera nanti,’ ucap Mei dalam hati.


Chester kembali masuk ke kamar dan mendapati Jennixia sedang senang melihat tingkahnya.


“Terima kasih Sayang, nanti dokter kandungan datang. Hubby sudah mengirim pesan kepada Nera untuk menghubungi dokter kandungan,” ucap Chester dengan raut wajah bahagia.


“Sama-sama Hubby, sekarang pengen gendong,” ucap Jennixia dengan manja.


Chester mengendong istrinya dan membawa ke ranjang mereka. Dia membaring Jennixia perlahan lalu tidak lupa mencium perut rata Jennixia.


“Anak Daddy baik-baik di dalam ya Sayang,” bisik Chester dekat perut Jennixia.


Jennixia tertawa geli mendengar ucapan Chester karena saat ini calon anak mereka yang di dalam perut masih sekecil kacang dan belum bisa mendengar.


Chester kembali menatap wajah cantik Jennixia.


“Sayang kamu jangan capek-capek ya, kalau mau turun ke bawah gunakan lift dan tidak boleh naik tangga. Nanti Hubby suruh Mei menemani Sayang saat Hubby kerja,” ujar Chester yang mulai terlihat posesifnya.


“Baiklah Hubby,” jawab Jennixia lalu mencubit gemas pipi Chester.


“Sayang ingin makan apa?” tanya Chester baru teringat kalau wanita hamil itu suka mengidam sesuatu.


“Mau makan bubur kacang hijau campur telur,” jawab Jennixia yang terlihat begitu bahagia.


“Eh hmmm nanti Hubby suruh koki buatkan,” ujar Chester.


Walaupun baru kali ini dia mendengar bubur kacang hijau dicampur telur padahal bukan biasanya pakai susu ataupun santan, tetapi Chester tidak mempermasalahkan itu, karena dia telah melihat sendiri bagaimana waktu Nera hamil dulu.


Bawaan wanita hamil memang aneh menurutnya.


“Selain itu mau apa lagi?” tanya Chester lagi.


Jennixia menggeleng karena memang saat ini dia tidak menginginkan sesuatu selain dari bubur kacang tadi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2