
Alex masih belum siuman, walaupun saat kritisnya telah lewat. Jessi akan bolak-balik memastikan kondisi kedua pria itu.
Setelah merasa puas beristirehat Chester bangun dari tempat tidurnya. Dia mengambil ponselnya yang terletak di dalam saku celananya.
Chester membuka ponselnya dan muncullah dilayar wajah Jennixia yang sedang tersenyum.
“Aku merindukanmu,” ucap Chester lirih lalu mencium foto Jennixia yang ada dilayar ponselnya itu.
Chester memeriksa beberapa notif yang masuk dan salah satu merupakan pesan dari Luis.
“Tuan, maaf tapi kami kehilangan jejak Sean dan Arviy. Setelah kami sampai di tempat terakhir posisi mereka, mereka telah tiada.” Begitulah isi pesan dari Luis.
“Ck, jangan harap kamu bisa terlepas!” ucap Chester dengan dingin.
Chester keluar dari ruangan inap itu lalu menuju ke arah ruang inap Alex. Dia memasuki ruang itu tanpa mengetuknya.
Terlihat sang Ibu telah tertidur duduk di samping branker Alex sambil mengenggam tangan Alex. Chester mendekati Jessi.
“Ibu,” panggilnya kepada Jessi.
Jessi terbangun karena sentuhan Chester pada pundaknya. Dia menoleh ke arah Chester.
“Kau sudah tidak pusing nak?” tanya Jessi.
“Sudah tidak Bu, hmm ada baiknya Ibu istirehat dulu. Sepertinya Ibu terlihat sangat mengantuk,” ucap Chester dengan sedikit tersenyum.
“Ya kamu benar, Ibu akan beristirehat di sofa saja supaya Ibu bisa mendengar jika Alex telah sadar.
Chester melihat ke arah sofa yang terlihat kecil dan sempit.
“Tapi tempat itu sempit. Ibu istirehat di kamar sebelah saja ya, Alex biar anak buahnya yang berjaga. Ibu jangan khawatir Alex baik-baik saja,” ucap Chester sambil membantu Jessi berdiri.
Jessi terpaksa menuruti ucapan Chester, dia tidak ingin membuat anak menantunya itu khawatir tentang dirinya. Kini Jessi berada di kamar istirehat yang bersebelahan dengan kamar inap Alex.
Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin dia pertanyakan pada Chester. Tapi Jessi merasa belum menemukan waktu yang tepat.
Jessi menatap langit kamar itu. Pikirannya sungguh berkecamuk.
“Kalau dia benar mafia seperti Alex, bagaimana keadaan Jennixia nanti. Apa aku harus memisahkan mereka lagi,” ucap Jessi lirih.
Jessi merenung ke masa lalunya. Air matanya mengalir tanpa diundang karena kejadian masa lalu masih saja membekas dihatinya.
‘Aku tidak ingin Jennixia merasakan hal yang sama,’ batin Jessi.
.....
Chester mengarahkan beberapa anak buah Alex dan anak buahnya untuk mengetatkan pengawasan di depan kamar inap Alex dan kamar Jessi. Karena Sean dan Arviy masih bebas di luar sana.
__ADS_1
Kini Chester telah berada di dalam mobil yang dikenderai oleh Edward. Mereka akan menuju ke markas untuk menemui para ketua mafia yang berhasil di tangkap.
Sepanjang perjalanan Chester coba menghubungi Nera dan Mei tapi tidak ada satu pun yang mengangkat ponsel mereka.
Firasat Chester mulai merasa tidak enak apalagi Nera dan Mei sempat membuat panggilan ke nomornya. Tidak ada satu pun panggilan mereka yang dia sempat jawab karena saat itu Chester sedang istirehat.
“Ed kita lihat Mama dulu, firasatku sungguh tidak enak,” ucap Chester kepada Edward.
“Baik Tuan,” sahut Edward.
Kini mobil mereka menuju ke arah yang berbeda. Chester akan pergi ke rumah sakit di mana Mary berada.
Chester coba membuat panggilan pada Luis untuk memberitahunya jika dia harus melihat keadaan Mary dulu. Sebelum mematikan panggilan Chester sempat bertanya pada Luis.
[“Luis, apa Nera atau Mei ada telepon kamu pagi-pagi tadi?”] tanya Chester.
[“Ada Tuan tapi saya tidak sempat menjawab karena sedang berada di lokasi Sean dan Arviy. Saya sudah telepon lagi tapi tidak ada jawaban sama sekali,”] sahut Luis dari seberang sana.
[“Baiklah kamu lanjutkan pekerjaanmu,”] ucap Chester lalu mematikan ponselnya.
‘Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu,’ batin Chester sambil membuat panggilan kepada salah satu anak buahnya yang berjaga di tempat Mary berada.
[“Hallo Tuan?”] ucap anak buahnya dari seberang sana.
[“Kamu di mana? Apakah Mama baik-baik saja? Tidak terjadi apa-apakan?”] pertanyaan beruntun keluar dari mulut Chester.
[“Baguslah, beritahu Nera dan Mei. Saya dalam perjalanan,”] ucap Chester menghela nafas lega.
‘Kenapa Mama terus-terusan cari Jenni, apalagi yang Mama ingin lakukan pada Jenni, cih jangan bilang Mama juga ingin menyalahkan Jenni. Oh tidak-tidak aku tidak akan biarkan Jenni terluka lagi. Cukup sudah selama ini aku buat dia menderita huhh,’ batin Chester.
Chester telah nekad untuk tidak mempertemukan Jennixia dan Mary. Dia tidak ingin Jennixia pergi lagi darinya dan dia tidak kesalahan yang pernah dia buat kembali terulang.
.
.
.
.
.
“Maaf Tuan, ponsel saya dan Mei dibuang entah ke mana oleh Bu Mary tadi sewaktu Bu Mary tiba-tiba mengamuk ingin bertemu Nona,” ucap Nera menjelaskan kenapa dia dan Mei tidak menjawab panggilan Chester.
“Bagaimana bisa ponsel kalian Mama ambil?” tanya Chester dengan nada mengintimidasi.
“Maaf Tuan, tadi Bu Mary memaksa untuk menelepon Nona. Saya dan Mei terpaksa mengikuti kemahuannya dan kami memberikan ponsel kami,” jawab Nera.
__ADS_1
“Awalnya Bu Mary biasa saja, tapi setelah merasa kesal karena nomor Nona tidak aktif padahal sudah menggunakan dua ponsel untuk menelepon Nona, Bu Mary membuang ponsel kami berdua ke luar jendela,” lanjut Nera lagi.
“Terus sudah cari dan tidak ketemu?” tanya Chester lagi.
“Saya sudah turun cari tapi tidak menemukannya,” jawab Mei pula.
“Huhh tidak perlu cari lagi pasti sudah dibawa oleh orang, lagian jatuhnya di atas bunga-bungaan,” ucap Chester.
“Tapi Tuan...” ucap Mei sedikit keberatan.
“Serahkan pada Nera, semua dia akan uruskan,” sahut Chester lalu memasuki kamar inap Mary.
Chester melihat keadaan Mary yang masih tertidur pulas. Kondisi Mary semakin membaik tapi kakinya belum bisa digerakkan sedikit pun.
“Aku harus mencarikan Mama perawat pribadi untuk merawatnya,” ucap Chester lirih.
.....
Di ruang eksekusi.
Luis tidak habis-habis menghajar kedua ketua mafia tersebut. Karena tidak ada satu pun jawaban tepat yang mereka berikan saat Luis bertanya.
“Mustahil kalian tidak tahu di mana Sean dan Arviy bersembunyi! Bukankah kalian bekerjasama?” ucap Luis yang semakin hilang kesabaran.
“Be-betu-ul a-ku ti-dak ta-hu,” jawab ketua dari Bad Devils.
Bugh!
Sebuah bogem mentah yang dilepaskan oleh Luis kembali mendarat diwajah ketua Bad Devils itu.
Ketua dari Dragon Eyes semakin merasa gementar. Hah memang mafia abal-abal kalau dilihat dari tingkat nyali mereka.
“KATAKAN!” bentak Luis pada keduanya.
“Ba-baik-lah, ka-lau Ar-viy di-dia pasti bersem-bunyi di rumah wan-nita yang ke-kemarin tapi Sean a-ku ti-dak pas-ti,” ucap ketua Dragon Eyes terbata-bata.
“Nah begitukan bagus,” sahut Luis.
“Kalian siram mereka berdua dengan air es, aku akan menunggu Tuan di atas sekali memberi informasi baru,” lanjut Luis lagi lalu langsung saja berjalan menuju ke arah ruang gantinya.
Bajunya terkena percikan darah sewaktu menghajar kedua pria itu. Dengan cepat dia membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai Luis mengenakan pakaian baru. Sewaktu hendak menata rambutnya, Luis tiba-tiba tersenyum.
“Sedang apa dia saat ini?” ucap Luis lirih.
Bersambung...
__ADS_1