Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 73 Ada apa?


__ADS_3

Mary tidak bisa berkata banyak karena semua bukti telah Chester tunjukkan padanya. Awalnya dia coba berdalih dan melemparkan semuanya pada Jennixia tetapi setelah melihat semua bukti rekaman cctv itu Mary terdiam.


Chester menyuruhnya untuk mengemasi barang-barangnya untuk kembali ke NY. Rasa berat untuk kembali karena tidak dirinya sendiri di rumah mewah hadiah dari mendiang putrinya.


“Ches, tidak bisakah beri mama kesempatan. Mama akan mengubah sikap mama, tolong mama tidak mau kembali ke NY mama bisa mati kesepian di sana,” ucap Mary merayu Chester.


Memang Chester merasa kasihan karena Mary akan hidup sendiri di sana tapi dia juga telah berjanji untuk tidak membuat Jennixia kembali terluka.


Oleh itu, Chester menolak permintaan Mary dengan wajah yang dingin.


“Siap-siaplah sekarang 3 jam dari sekarang pesawat akan berlepas,” ucap Chester lalu membalikkan badannya dan berjalan menuju ke arah lift dalam mansionnya.


“Mama tidak mau Ches atau mama akan ketemu Jenni, mama akan minta maaf padanya dan beri mama kesempatan untuk memperbaiki sikap mama,” sahut Mary lalu bergegas ingin menaiki tangga.


Ditangga telah ada pengawal yang menahan Mary dan tidak mengizinkannya untuk menaiki tangga tersebut.


“Kalian kemasi barang-barangnya lalu seretnya ke mobil dan jangan biarkan dia melewati tangga itu!” perintah Chester dengan tegas.


“Chester kamu tega dengan mama!” teriak Mary yang merasa teramat kesal dengan perlakuan Chester.


Chester mengabaikannya dan langsung memasuki lift untuk menemui Jennixia yang tadinya telah tertidur kembali setelah Chester memberitahunya tentang Mary.


‘Semua ini demi kebaikan kita semua, maafkan aku Ma. Aku cuma mau mama sadar dengan sifat Mama yang terlalu egois dan mementingkan diri sendiri. Mungkin dengan Mama tinggal sendiri di sana Mama bisa sadar, kenapa Papa meninggalkan Mama dan kenapa aku memaksa Mama pergi,’ batin Chester.


Sedangkan Mary yang masih dicegat untuk menaiki tangga mengomel sembarangan sambil memanggil-manggil nama Jennixia tapi sayangnya lantai 3 terlalu jauh untuk mendengar suara Mary yang tidak begitu lantang.


“Jenni, tolong jangan biarkan mama pergi. Mama tidak mau sendiri, mama janji akan menyayangimu tolong bujuk Chester!” teriak Mary berharap Jennixia turun menemuinya tapi hasilnya tetap nihil.


Setelah para pelayan mansion telah selesai membereskan barang-barang Mary. Kini giliran para pengawal menyeret Mary memasuki mobil yang telah disiapkan untuk menghantarnya.


Dalam mobil Mary coba pasrah bahwa akhirnya dia akan kembali ke rumahnya di NY.


‘Semua ini salah Jennixia, sejak dia masuk ke dalam keluarga kami bawaannya semua sial, awas saja kamu aku tidak akan pernah merestui hubunganmu dengan anakku!’ gerutu Mary dalam hati.


Mary menatap ke luar jendela tiba-tiba sebuah ide melintas di dalam benaknya. Dia mulai tersenyum tipis.


Wajah yang tadinya berkerut kini terlihat santai tapi para pengawal yang ditugaskan menghantarnya ke bandara hingga ke NY tidak mencurigai dirinya.


....

__ADS_1


Alex menatap tapak tangannya kanan yang siang tadi membekap mulut Jennixia. Ada rasa hangat dan sedih. Dia coba tersenyum di saat matanya mengalir butir-butir hangat.


‘Kakak janji akan memperbaiki hubungan kita dan menebus semuanya,’ ucap Alex dalam hati.


Renata terbangun karena tidak merasakan Alex berada di sebelahnya. Renata mengusap ruang di sebelahnya dan terasa sangat dingin.


Berarti Alex belum tidur sedar tadi. Renata bangkit untuk mencari Alex tapi matanya menangkap gorden balkon kamar sedang terbuka begitu juga dengan pintunya.


Renata yakin Alex berada di sana dan coba berjalan ke arah balkon itu. Setelah berada tepat di pintu balkon, Renata melihat Alex sedang serius menatap tapak tangannya.


Dia turut bingung sehingga dia mendekati saja untuk langsung bertanya.


“Kenapa tanganmu Bang?” tanya Renata.


Alex sedikit terkejut mendengar suara Renata.


“Kamu belum tidur?” bukan menjawab malah Alex kembali bertanya.


Renata mengambil tempat duduk di sebelah Alex lalu menatap Alex dengan tatapan sulit di artikan.


“Tadi sudah tapi terbangun setelah tidak merasakan Abang di sebelah Nata, hmm itu tangan kenapa? Sakit?” jawab Renata dan kembali bertanya.


“Tidak Sayang tidak sakit, cuma tadi sedikit kram dan sekarang sudah membaik,” jawab Alex berkelit karena tidak mau Renata terus mengkhawatirkan dirinya.


“Benar sudah baikan?” tanya Renata lagi dengan wajah memastikan.


“Benar Sayang,” jawab Alex tersenyum.


Senyuman Alex sangat terlihat dipaksakan membuat Renata sedikit curiga ini bukan berkaitan dengam tangan Alex yang tiba-tiba kram tapi ada hal lain yang dipikirkannya.


“Abang,” panggil Renata dengan wajah serius.


“Ya Sayang,” sahut Alex. “Kamu terlihat begitu serius kenapa?” tanya Alex kemudian.


“Abang memikirkan Jennixia kan?” ucap Renata menebak pikiran Alex saat ini.


Alex terdiam, memang dia tidak bisa menutupi pikirannya dari Renata. Dia mengalihkan tatapannya ke arah langit hitam yang dihiasi oleh beribuan bintang.


“Maaf Sayang, Abang tidak bisa berhenti memikirkannya,” jawab Alex.

__ADS_1


“Abang memikirkan kapan Jenni bisa menerima abang lagi, kapan abang bisa melihat senyumannya lagi, abang sungguh menyesal Sayang. Bisakah abang menebus semuanya kembali,” ucap Alex kemudian.


Renata menghela nafasnya panjang sebenarnya tidak juga tidak tahu apa masalah yang sebenarnya karena Alex sampai hari ini belum memberitahunya. Renata ingin bertanya tapi dia takut menyinggung masalalu sang suami tapi kalau tidak ditanyakan bagaimana dia bisa membantu mencari solusinya


“Abang, Nata ingin sekali membantu mencarikan solusi yang baik buat Abang dan Jenni tapi .....,” Renata menarik nafas dalam-dalam dan menghelanya pelahan sebelum menyambung ucapannya.


“Tapi Abang harus jelaskan awal masalah Abang dengan Jenni itu dibagaimana,” lanjut Renata.


Alex tidak tahu haruskah dia memberitahunya masa lalunya yang kelam itu yang lebih memilih harta ketimbang keluarganya.


....


Bunyi ponsel Chester terus berdering, hingga membuat Jennixia terbangun dari tidurnya karena ponsel Chester diletakkan di atas nakas sebelah ranjang mereka.


“Chester ke mana? Ini ponselnya kenapa di tinggalin siapa tahu ini penting,” ucap Jennixia setelah mengambil ponsel Chester dan melihat hanya nomor yang tertera dilayar ponsel itu.


Jennixia turun dari ranjangnya membawa ponsel itu, tujuan pertamanya adalah ruang kerja Chester. Dengan langkah yang cepat Jennixia menuju ke ruang kerja Chester.


Kebetulan pintu ruang kerja Chester terbuka, Jennixia langsung memasukinya dan dia menangkap sosok Chester sedang duduk di meja kerjanya sambil membaca kertas-kertas yang bertumpuk di atas meja itu.


“Ches,” sapa Jennixia.


Chester langsung mengangkat wajahnya dan mendapati Jennixia telah berada di dalam ruangannya. Chester berdiri lalu mendekati Jennixia.


“Kenapa bangun sayang?” tanya Chester pada Jennixia.


Chester tidak sadar Jennixia sedang memegang ponselnya karena memang bunyinya sudah berhenti tadi setelah Jennixia memasuki ruang kerjanya.


“Ini tadi ada yang telepon kamu,” Jennixia langsung memberikan ponsel Chester dan Chester langsung memeriksanya.


“Maaf kalau bunyinya membuatmu terganggu dari tidurmu,” ucap Chester dan tidak lupa dia mengecup dahi Jennixia.


Jennixia menjadi salah tingkah, baru saja hendak pamit kembali ke kamar tiba-tiba ponsel Chester kembali berbunyi dan rasa penasaran Jennixia mulai keluar.


Chester menjawab ponselnya lalu tiba-tiba suaranya meninggi dan wajahnya terlihat panik.


“APA?”


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2