
Jennixia terlihat terisak-isak semasa dirinya dalam pemeriksaan, sehingga dokter menyimpulkan Jennixia mengalami kekerasan dalam rumahtangga.
"Maaf Tuan, tapi kaki Nyonya terseliuh dan lututnya bengkak mulai melebam urmm..." Terang dokter yang memeriksa Jennixia.
Dokter itu tidak berani melanjutkan ucapannya untuk memberi saran agar jangan bertindak terlalu keras tetapi tatapan mata Chester seperti ingin menerkam dirinya.
Chester sepertinya tahu apa yang dipikirkan oleh sang dokter.
"Maaf dok, istri saya tadi terjatuh dari tangga dan saya tidak melakukan kekerasan padanya." Ucap Chester dengan tegas.
Jennixia tidak mempedulikan Chester dan dokter tersebut yang sedang berbincang-bincang karena dipikirannya saat ini adalah Mei.
Sehingga dia merasa Chester menyentuh puncak kepalanya barulah dia menoleh ke arah Chester.
"Sayang, sudahlah jangan menangis lagi." Ucap Chester yang terpancar kesedihan di matanya.
"Jangan menyentuhku, selagi Mei belum sadar kau jangan berani menyentuhku." Sahut Jennixia lalu menepis tangan Chester yang berada di puncak kepalanya.
Chester tertegun, dia menarik tangannya lalu menatap Jennixia dengan penuh kesedihan.
"Mei akan baik-baik saja."
Jennixia menatap Chester dengan tajam setelah mendengar ucapan Chester.
"Aku tidak memaafkan mereka jika terjadi sesuatu kepada Mei."
Chester mengangguk, dia mengerti dengan perasaan Jennixia saat ini karena Mei merupakan orang yang sangat dekat dengan Jennixia dari awal mereka masuk ke dalam dunianya.
Jennixia menatap bajunya yang terkena percikan darah Mei, dia mengusap darah Mei lalu kembali menangis.
"Kenapa kau melakukan itu Mei, kalau kau tiada siapa temanku siapa yang mau dengar curhatanku lagi." Gumam Jennixia di sela-sela tangisannya.
....
Renata berjalan menelusuri koridor ruang pemeriksaan. Tapi dia tidak bisa memasuki lorong yang dipenuhi oleh pengawal Chester yang sedang berjaga. Renata terpaksa duduk di kursi lorong itu mungkin saja mereka ada mengatakan sesuatu.
"Dengar-dengar semua ni terjadi gara-gara Nona Liana."
"Mungkin juga karena Nyonya Mary dan Tuan Eild."
"Tuan Eild yang melempas pot kaca itu."
"Kejam."
"Padahal Nona Jenni adalah Nyonya di rumah itu."
"Mungkin mereka tidak menyukai Nona Jenni dan inginkan Nona Liana menjadi menantu."
__ADS_1
"Aku tidak menyukai Nona Liana yang terlihat sombong itu."
"Eh dengar-dengar Mei mengalami koma."
"Pasti Nona Jenni bertambah marah."
"Harap Nona Jenni tidak meninggalkan mansion kalau tidak pasti Nona Liana yang berkuasa bersama orangtuanya Tuan."
"Kita berdoa aja."
Begitulah bisik-bisik yang terdengar di telinga Renata dari para pengawal Chester.
"Apa sebenarnya yang berlaku, kenapa Mei koma?" Gumam Renata dalam hati.
"Jennixia bagaimana, kenapa mereka tidak menyebutkan keadaannya," lanjutnya lagi dalam hati.
Renata semakin merasa khawatir, dia mengirim pesan kepada dua orang anak buahnya yang sedang menyamarkan diri menjadi cleaning service untuk datang ke tempatnya.
Sedangkan di dalam kamar, Jennixia mengacuhkan Chester, kata maaf dan rayuan Chester tidak menembusi dinding kekesalannya.
"Kalau aku tidak berada di sini pasti tragedi buruk ini tidak akan berlaku." Ucap Jennixia dalam hati.
Dia terus menatap noda merah yang ada di bajunya. Dia teringat bagaimana Mei memperlakukannya dengan baik dan hangat.
Jennixia kira dia harus bertemu dengan Mei dan itu berarti dia harus meminta bantuan Chester untuk membawanya.
Demi untuk melihat keadaan Mei, Jennixia menurunkan rasa marahnya.
Chester tersenyum tipis tapi dia ragu untuk membawa Jennixia bertemu dengan Mei dalam keadaan Mei yang sedang koma.
"Tapi kondisi Mei..." Ucap Chester kala Jennixia menimpalinya.
"Tolong biarkan aku bertemu dengan Mei." Jennixia makin mengotot tapi tidak dengan suara keras malah suaranya terdengar serak karena menahan rasa sedihnya.
"Baiklah, aku ambil kursi roda dulu." Chester mengambil kursi roda yang telah di sediakan di ruang itu lalu membantu Jennixia duduk di atas kursi itu.
Chester membantu mendorong kursi roda itu, wajah yang biasa memaparkan kedinginan kini terlihat teduh. Mereka keluar dari ruangan itu dan menuju ke ruang inap Mei.
Renata melihat Jennixia jelas menggunakan kursi roda, dia segera menutup mulutnya menggunakan tangannya.
"Jen..." Ucapnya perlahan."
Ingin sekali Renata menyusuli Jennixia tapi para pengawal siaga di depan dan belakang. Renata hanya bisa berharap anak buahnya bisa mencari tahu keadaan Jennixia.
...
Jennixia menutup mulutnya dan matanya berkaca-kaca. Kepala Mei diperban dan tangannya bersambung dengan selang infus.
__ADS_1
Mei belum siuman sejak dia hilang kesadaran tadi, mungkin karena syok yang terjadi kepada kepalanya yang terkena benturan pot kaca.
Jennixia tidak bisa berkata apa-apa. Dia menarik perlahan tangan Mei lalu diusapnya.
"Maafkan aku." Ucapnya tanpa suara.
Bunyi isakan dari Jennixia membuat Chester dan para pengawal lainnya menundukkan kepala mereka, ada yang keluar menjauh dari ruang inap Mei karena turut merasa sedih.
Sudah hampir 2 jam Jennixia berada di ruang Mei. Chester telah membujuknya untuk kembali ke ruang inapnya tapi Jennixia bersikeras masih tetap ingin bersama Mei.
Jennixia ingin menunggu Mei siuman. Dia tidak tega meninggalkan Mei sendiri apalagi Mei mengalami kondisi yang sangat miris ini adalah sebab melindungi dirinya.
"Jen, kau juga butuh istirehat lutut dan kakimu masih sakitkan." Bujuk Chester lagi.
"Diamlah, aku tidak ingin mendengarkan suara daru seorang penipu." Ketus Jennixia.
"Jen, aku tidak pernah menipumu. Kenapa sih kau tidak mempercayaiku padahal aku suamimu Jennixia." Ujar Chester lagi kini dengan nada kesal.
"Hehh, suami? Aku menyesal menjadi istrimu." Sahut Jennixia.
Ucapan Jennixia membuat hati Chester bagai tertusuk panah yang menembusi sampai ke dadanya. Chester semakin tidak mengerti dengan Jennixia.
"Kau sudah menyerah? Padahal peperangan baru saja mula." Jawab Chester datar.
"Kalau peperangannya seperti ini lebih baik aku mundur, aku tidak ingin ada yang terluka karenaku." Sahut Jennixia.
"Apa kau sudah tidak mencintaiku Jen?" suara Chester kembali sendu.
Jennixia memilih tidak menjawab pertanyaan Chester. Dia membiarkan Chester yang menebak pikirannya mau itu benar atau tidak semua terserah pada Chester.
Setelah menunggu setengah jam Jennixia tidak memberi jawabannya, Chester memilih keluar dari ruang inap Mei. Dia duduk di kursi lorong koridor di depan ruang inap Mei.
"Ck, aku tidak bersedia jika harus kehilanganmu Jen! Aku sudah menantimu dengan sabar selama 5 tahun tapi kalau ini yang ku terima ada baiknya aku menghilang saja dari muka bumi ini." Gumamnya yang masih bisa terdengar oleh pengawalnya dan Nera yang kebetulan baru sampai di tempat itu.
"Maaf menganggu Tuan." Sapa Nera.
"Hmm." Sahut Chester yang masih tertunduk.
"Ini rekaman yang terjadi di dalam ruang kerja Tuan dan ruang makan." Nera memberikan tab yang dia bawa dari mansion.
Chester menyambutnya dengan malas. tapi dia perlu memeriksa apa yang terjadi dan bisa membuktikan dirinya tidak bersalah.
Mujur saja dia sempat menekan tombol untuk mengaktifkan cctv ruang kerjanya ketika Mary masuk membawakannya minuman.
Chester sudah tahu minumannya di campur dengan obat, tapi dia kira dosis yang di campurkan di minumannya sangat kecil.
Tapi setelah mencoba minum dengan seteguk saja Chester langsung merasa pusing dan mengantuk, dia tidak sangka obatnya begitu kuat mujur saja dia masih meminumnya seteguk kalau secangkir mungkin besok atau luas baru dia akan sadar.
__ADS_1
"Aku akan balas perbuatan kalian jika Jennixia memilih tetap meninggalkanku." Ucap Chester berapi-api.
Bersambung...