
"Jen, kamu yakin perutmu sudah tidak sakit?" tanya.Chester kepada Jennixia yang tampak diam sepanjang perjalanan mereka.
"Ya, ini sudah tidak sakit kayak kemarin." Jawabnya sambil memandang ke luar jendela mobil.
Chester merasa aneh saja, tadi Jennixia tampak antusias sekarang dia tinggal diam saja. Memang susah untuk mengenal sifat anak muda sekarang begitulah pikir Chester.
Chester bergeser mendekati Jennixia, dengan perlahan dia menarik tangan Jennixia lalu diletakkannya di atas telapak tangannya.
Jari Chester memasuki celah jari Jennixia dan menggenggamnya. Chester tersenyum melihat jari tangan Jennixia yang terlihat mungil itu, menggemaskan menurutnya.
Jennixia hanya memperhatikan Chester tanpa membantah, bibirnya kembali melengkung apabila melihat binar yang terpancar dari wajah Chester.
Chester di mata Jennixia seperti anak kecil yang bangga karena menggenggam tangan ibunya. Sedang asyik memperhatikan Chester tiba-tiba tubuh Jennixia seperti melayang hampir mengena ke kursi mobil di sebelah sopir.
Bughhh...
Sreeetttt...
Mujur saja tangan Chester cepat menangkap Jennixia lalu mendekapnya dengan erat. Mobil mereka berjalan keluar dari arah yang sama dan masuk ke arah yang bertentangan.
Entah apa yang berlaku Jennixia hanya menutup matanya dan memegang erat jas Chester. Bunyi ban mobil bergesekan dengan jalan raya berdeging ditelinga Jennixia.
Ngiiiiiingg.....
Mobil berhenti dalam keadaan mengejut, tubuh Chester tergerak maju ke depan tapi dia masih saja mendekap Jennixia dengan erat.
Baru saja hendak membuka mata tiba-tiba suara klakson mobil truk besar dari arah depan mengejutkan Jennixia. Dia melihat ke arah depan, mobil truk berada benar-benar di depan mereka, Jennixia menjerit karena panik.
Tuuuuttttt
Tuuuuttttt
Tuuuuttttt
Inikah akhri dari kebahagiannya, Jennixia kira dia belum sempat mencerita kepada Chester tentang semua yang dia rasa dan apa yang berlaku kepada dirinya.
Kepala Jennixia mulai terasa berat dan pandangan matanya mulai kabur, akhirnya Jennixia kehilangan kesadarannya.
Chester terus memanggil Jennixia.
"Jen, bangunlah." Chester semakin panik.
"Ed, langsung ke rumah sakit, aku akan coba menelepon Nera untuk menghantar beberapa pengawal." Lanjutnya lagi.
Nafas Chester terburu-buru bukan karena panik hampir dilanggar mobil truk tapi panik melihat keadaan Jennixia yang terlihat sangat pucat.
Setelah menelepon Nera, Chester kembali menepuk pipi Jennixia, dan dia baru sadar tubuh Jennixia mulai memanas.
"Jen, ayo sadarlah Jen. Huftt." Ucap Chester panik.
__ADS_1
"Sia*** siapa pun kau yang coba bermain denganku akan aku habisi." Geram Chester.
Mobil mereka parkir di perkarangan rumah sakit, Chester mengendong Jennixia ala bride style masuk ke ruang ugd, salah satu kenalan dokternya langsung maju dan menangani kondisi Jennixia.
Chester mondar mandir, dia tidak bisa duduk diam, amarahnya mulai memuncak ingin sekali dia menghabisi nyawa seseorang saat ini karena berani membuat istri kesayangannya kaget dan pingsan.
Nera dan Mei sampai di rumah sakit dengan langkah yang terburu-buru. Bebebrapa pengawal telah mengambil posisi masing-masing termasuk pengawal bayangan Chester.
Dokter keluar dari ruang pemeriksaan dan bertemu dengan Chester yang sedari tadi berdiri berdekatan dengan pintu.
"Bagaimana?" tanya Chester dengan raut wajah marah tapi masih menunjukkan jika dirinya sangat mencemaskan Istrinya.
"Tuan, Nona mengalami syok berat sebelum kehilangan kesadarannya, suhu tubuhnya mendadak panas karena detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat, saya sudah suntik cairan obat untuk menurunkan panasnya." Terang dokter itu.
"Nona akan dipindahkan ke ruangan inap." Lanjutnya lagi.
Chester menganggukkan kepalanya, seiring datanglah Nera dan Mei. Jennixia yang berada di atas branker di dorong menuju ke ruang inap yang telah di sediakan untuknya.
Chester, Nera dan Mei menyusuli perawat yang mendorong branker Jennixia, sehingga sampai di ruang inapnya, Chester membantu mengangkat Jennixia untuk dipindahkan ke ranjang ruang inapnya.
Wajah Jennixia yang terlihat sangat pucat membuat Chester semaki marah. Baru kali ini dia tidak memperhatikan kondisi sekitarnya sebelum keluar bersama Jennixia.
"Tuan..." Tegur Nera perlahan.
"Cari tau siapa yang melakukan ini, dapatkan semua orang yang terlibat!" Jawabnya tegas.
"Ya Tuhan semoga Nona Jennixia baik-baik saja." Begitulah doa Nera sebelum keluar dari ruang inap Jennixia.
"Mei, pergilah beli beberapa buah dan cemilan jangan lupa airnya. Aku tidak mau Jennixia sadar dan memakan makan rumah sakit aku takut kecolongan lagi."
Ucap Chester memberi arahan pada Mei.
Mei mengenggam tangan Jennixia sebelum keluar dari ruang inap Jennixia. Tangisan Mei pecah saat berada di luar kamar Jennixia tapi dia tetap harus kuat agar Jennixia juga bisa cepat sadar begitulah pikirnya.
Dua pengawal menemani Mei untuk berbelanja. Agar tidak ada yang tiba-tiba datang membuat rusuh lagi.
Chester menjaga Jennixia di dalam ruang inapnya, dia menggenggam tangan kanan Jennixia lalu berulang kali di ciumnya.
Air mata yang dia tahan sedari tadi, akhirnya luruh, Jennixia membuat dunianya menjadi kacau, perasaab cuek dan dingin itu tidak berlaku jika bersama istri kecilnya ini.
Ting!!
Pesan masuk ke ponsel Chester, dia cepat membacanya dan bibirnya tiba-tiba menyeringgai.
"Aku akan membalasnya untukmu sayang." Bisik Chester di telinga Jennixia.
Kini Chester meluangkan waktunya menjaga Jennixia sebelum melakukan eksekusi terhadap orang-orang yang terlibat tadi.
Chester mengusap-usap pipi Jennixia, sehingga dia melihat mata Jennixia mulai bergerak-bergerak dan terbuka perlahan.
__ADS_1
"Jen?" panggil Chester. Tidak lupa dia menekan tombol untuk memanggil dokter.
Jennixia menatap ke arah Chester.
"Aku masih hidup?" tanya Jennixia dengan mata berkaca-kaca.
Chester langsung memeluk tubuh Jennixia lalu meminta maaf padanya berulang kali sehingga dokter sampai barulah Chester melepaskan pelukannya dan memberi ruang dokter untuk memeriksa Jennixia.
"Puji Tuhan, Nona sudah semakin stabil, tolong jangan panik dan cemas ya." Pesan dokter tersebut sebelum meninggalkan Jennixia bersama Chester.
Chester kembali mendekati Jennixia.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Aku cuma agak kaget, aku kira kita bakal mati." Jawab Jennixia polos.
"Shhttt, sudah jangan ingat kejadian itu lagi, sebentar Mei akan datang bawa buah dan cemilan kamu makan ya." Ujar Chester.
Jennixia tidak menjawab dia hanya menatap Chester lalu berkata.
"Jangan tinggalkan aku, aku takut."
.
.
.
.
.
Plaaakkk...
Bugh...
Sebuah tamparan mendarat di pipi anak buah Arviy, tidak puas dengan menampar Arviy melayangkan bogem mentah ke wajah anak buahnya.
"KAN SUDAH BERULANG KALI AKU KATAKAN! KALAU ADA GADIS ITU JANGAN SERANG SETA*" Suara dengan nada yang tinggi itu kedengan sangat kuat hingga telinga anak buahnya di buat berdengung.
"Cepat katakan padaku bagaimana keadaan wanita itu!" Cetusnya lagi.
"Wa...ni..i..ta i...tu.. di han...tar ke... ke... rum...ah saki...t Tu...tuan." Jawab anak buahnya yang mulai gementar karena ketakutan.
"Tidak becus! Keluar kalian!" Arviy mengusir anak buahnya dengan melempar buku-buku yang berada dekatnya.
Arviy merasa amat geram karena memilik anak buah tidak mendengar perintah dengan jelas. Asistennya hanya berdiri dekat pintu melihat sang tuan dalam keadaan sangat emosi.
Bersambung...
__ADS_1