
Flashback on...
Alex telah membebaskan Anderson yang merupakan ayah tirinya. Tetapi sebelum dia benar-benar membebaska pria itu dia membuat perjanjian.
"Kau harus baca semua ini, barulah aku akan membebaskanmu!" ucap Alex dengan wajah dingin.
"Baiklah," jawab Anderson lalu membaca semua perjanjian yang ditulis oleh Alex.
"Tunggu apa tidak berbahaya jika aku bebas?" tanya Anderson karena dia yakin selama ini pasti Arviy sedang mencarinya.
"Apa kau tidak tahu? Aku telah membunuh Arviy dan Sean hehh kau pasti takutkan mereka," jawab Alex dengan santai.
Anderson sedikit terkejut dia menatap wajah Alex yang begitu serius dan sangat menakutkan. Tetapi dia juga merasa lega tidak akan berada dalam ancaman.
"Anakku Vivian bagaimana?" tanya Anderson lagi ketika mengingat anak kesayangannya.
"Vivian adik tiriku itu baik-baik saja tapi dia sedang hamil anak Arviy. Ingat Anderson, kau tidak boleh menyakitinya juga karena Jennixia akan membantunya dan aku tidak mau melihat Jennixia kembali bersedih karena dirimu membanding-bandingkan mereka! Aku melepaskanmu untuk memberimu peluang hidup tapi jika kau melanggar salah satu perjanjian ini, bukan hanya aku yang menghancurkanmu tetapi juga Chester suami Jennixia," terang Alex dengan penekanan dan juga ancaman.
"Baiklah aku berjanji akan berlaku adil," jawab Anderson sambil tertunduk.
"Sekarang kau bersiaplah, aku akan menghantarmu ke rumah Ibu," ucap Alex lalu melemparkan pakaian baru ke arah Anderson.
"Aku tidak suka menunggu, jadi cepat bersihkan dirimu dan pakai pakaian itu," lanjut Alex lagi.
Alex langsung saja keluar dari ruangan khusus di mana selama ini Anderson disekap. Dia sengaja tidak membunuh Anderson karena sang ibu yang masih saja mencari suaminya yang hilang entah ke mana.
Oleh itu, Alex lebih memilih untuk menghantar Anderson kembali tapi dengan bersyarat. Chester juga telah mengetahui hal ini, karena Alex tidak mau dia kecolongan lagi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Alex dan Anderson masing-masing sibuk dengan diri sendiri. Alex terus saja mengerjakan pekerjaannya sehingga tanpa sadar mereka telah memasuki kawasan rumah Jessi.
Mobil berhenti tepat di hadapan pagar gerbang rumah Jessi. Kebetulan Jessi dan Vivian sedang duduk santai di luar rumah sambil memakan cemilan.
Canda dan tawaan Jessi bersama Vivian terhenti. Jessi langsung berdiri karena di tahu mobil itu adalah milik Alex dan benar saja Alex telah keluar dari mobil dengan senyuman yang merekah di bibirnya.
"Ibu," panggil Alex lalu berjalan menuju ke arah Jessi.
Alex menghamburkan pelukannya kepada Jessi, dan hanya tersenyum ke arah Vivian yang terlihat sedikit malu-malu.
"Kenapa tidak bilang mau ke sini? Anak menantu dan cucu ibu mana?" tanya Jessi menoleh ke arah mobil.
"Mereka tidak datang Bu dan Renata hanya menitip salam kepada ibu," jawab Alex. "Alex membawa seseorang yang ibu tunggu-tunggu," lanjutnya lagi.
Alex menoleh lalu menganggukkan kepalanya dan keluarlah sosok pria yang telah Jessi cari-cari selama ini.
Jessi dan Vivian mematung melihat kedatangan Anderson. Dengan langkah perlahan Jessi mendekati Anderson yang juga berjalan menuju ke arahnya.
"Sayang," ucap Anderson pada Jessi setelah Jessi berada tepar di hadapannya.
"Kau ke mana saja selama ini Anderson? Kau tidak tahu apa yang dialami anak-anakmu dan aku," ucap Jessi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mujur saja waktu itu Alex menangkap dirinya kalau tidak dia akan mati dibunuh oleh Arviy atau pun mata-matanya. Sedikit bersyukur walaupun tujuan Alex sebenarnya ingin menyekap dirinya.
"Syukurlah, Vivian mari. Ini Ayahmu datang," ucap Jessi lalu memanggil Vivian yang berdiri di teras rumah mereka.
Vivian berlari kecil dan langsung menghamburkan pelukan pada Anderson. Tangisan Vivian pecah karena dia juga tidak menyangka sang Ayah masih hidup padahal Arviy sedang mengincar Anderson juga waktu itu.
"Sudah Ayah sudah pulang, semuanya akan baik-baik saja. Kamu jangan terlalu menangis awas pengaruh pada kehamilanmu," ucap Anderson lembut sambil mengusap kepala belakang Vivian.
Vivian sedikit kaget karena Ayahnya mengetahui tentang kehamilannya. Tetapi dia kembali teringay pasti Alex telah menceritakan tentang dirinya.
Sejak kepulangan Anderson keluarga mereka sedikit ceria dan Anderson dengan antusias ingin bertemu dengan Jennixia yang juga merupakan anaknya.
....
Hari ini Jessi, Andersob dan Vivian dijemput oleh sopir Chester untuk membawa mereka ke mansion Chester untuk menghadiri acara ulang tahun Jennixia.
__ADS_1
Flashback end...
"Ayah ... ," ucap Jennixia dengan lirih.
Anderson terus mendekati Jennixia dan kini mereka telah berhadapan.
"Jenni, ayah minta maaf nak. Ayah tahu ayah salah dan banyak sekali berbuat hal jahat pada kamu, ayah sungguh menyesalinya. Tolong maafkan ayah," ucap Anderson yang mulai menangis.
Jennixia tidak bisa berkata apa-apa karena jujur saja dia masih teringat bagaimana ayah tirinya ini menjualnya dan memperlakukan dirinya. Sungguh miris sekali.
"Kalau kamu tidak bisa memaafkan ayah, ayah tidak akan memaksa dan ayah akan pergi karena ayah tidak mau acara kamu menjadi kacau karena kehadirian ayah. Tetapi sebelum ayah pergi kamu tersenyumlah dan selamat ulangtahun nak, semoga kamu sehat selalu bersama calon bayi dan semoga kamu bisa menjadi ibu dan istri yang baik untuk keluarga kecil kalian. Ayah pamit ya," ucap Anderson lagi.
Anderson tidak berani menyentuh Jennixia sedikit pun, walaupun hati kecilnya ingin sekali dia mengusap kepala Jennixia yang selama ini tidak pernah dia lakukan.
Anderson memutar tubuhnya dan berjalan dengan gontai menuju ke arah pintu utama.
'Tuhan jika kau berikan aku kesempatan, aku ingin menjadi ayah yang baik untuk anak-anakku dan tidak pernah lagi membanding-bandingkan mereka, tapi jikalau tidak ada kesempatan Engkau jagalah anak-anakku berikan mereka kebahagian pada keluar kecil mereka,' doa Anderson dalam hati.
Jennixia masih kaku di tempat, punggung sang Ayah semakin tidak kelihatan. Suasana seketika mendadak hening, semua mata tertuju pada Jennixia.
'Apakah kali ini Ayah benar-benar mengakuiku? Ayah sudah mengakuiku?' batin Jennixia bertanya pada dirinya sendiri.
Chester mendekati Jennixia lalu memegang pundak Jennixia.
"Sayang? Kau baik-baik saja?" tanya Chester mulai khawatir karena Jennixia terlihat diam dan tanpa sadar air matanya sudah bercucuran dengan derasnya.
Jennixia langsung sadar, lalu mencari sosok sang Ayah. Dia mulai mengejar Anderson yang hampir mencapai pintu utama mansion.
"AYAH!" teriak Jennixia sekuat hati.
Langkah Anderson terhenti, dia menoleh melihat Jennixia buru-buru mendekatinya. Anderson mulai khawatir karena dia tahu Jennixia juga sedang hamil.
"Stop! Jangan berlari kamu sedang hamil Jen," ucap Anderson yang langsung bergegas menuju ke arah Jennixia.
"Ayah," panggil Jennixia.
Jennixia yang memang haus akan kasih sayang seorang Ayah selama ini membuatnya sedikit cengeng.
__ADS_1
"Ayah benar mengakui Jenni?" tanya Jennixia dengan mata yang penuh berharap.
Bersambung...