
Chester kembali ke markas. Setelah sampai di markas dia melebarkan langkah menuju ke ruang ahli radioaktif dan nuklir. Setelah berada di depan ruangan itu Chester langsung saja masuk.
“Bagaimana?” tanya Chester dingin.
“Maaf Tuan, ini beneran alat kontrol untuk meledakkan bom yang sudah dipasang,” jawab ahli radioaktif yang memeriksa.
“Apa bomnya aktif atau setelah kita gunakan alat kontrolnya barulah bomnya aktif?” tanya Chester hendak memastikan.
“Kemungkinan aktif Tuan, karena ini Cuma tinggal di tekan dan akan meledak dan saya juga dapati alat ini tidak boleh rusak kalau rusak berarti otomatis semua bom yang sudah dipasang meledak,” jawab ahli itu lagi.
“Masukkan ke peti dan biarkan dia disatu tempat yang jauh dari kata jatuh maupun rusak,” perintah Chester pada ahli itu.
“Baik Tuan,” jawab ahli itu dengan gerak cepat dia mengambilkan peti brankas yang kosong lalu disimpannya di dalam.
Chester telah keluar dari ruangan penanganan radioaktif dan nuklir. Kini dia menuju ke ruang eksekusi untuk menemui kedua pria yang meruoakan mata-mata Arviy dan Sean.
Dari luar ruangan terdengar bunyi teriakan yang bersahut-sahutan. Dengan wajah datar Chester memasuki ruangan eksekusi itu.
Dia melihat wajah kedua pria itu sudah babak belur dibuat oleh Luis. Chester mendekati Luis.
“Bagaimana mereka sudah bicara?” tanya Chester dengan menatap tajam ke arah kedua pria itu.
“Belum Tuan mereka tidak menjawabnya dan sanggup dipukuli,” jawab Luis.
“Gunakan cara seperti biasa saja paksa sehingga mereka membuka suara, aku serahkan padamu. Aku akan memperhatikannya dari belakang,” ucap Chester lalu mengambil tempat duduk di sofa yang agak jauh dari tempat Luis dan kedua pria itu.
Luis mengangguk mengerti apa yang dimaksudkan dengan cara seperti biasa itu. Dia langsung berjalan ke arah peralatan yang tajam dan mengambil beberapa paku 10 dan palu.
Dia membawa ke hadapan kedua pria tersebut.
“Masih tidak mau katakan di mana letaknya bom-bom itu?” tanya Luis dengan nada mengintimidasi.
Mereka masih tidak ingin menjawab entah apa alasannya sehingga Luis sudah hilang sabar lalu menancapkan paku dipundak salah satu pria itu lalu dia memukul paku itu menggunakan palu.
Aaaarrrgghhh!!
Pria itu berteriak karena paku telah memasuki pundaknya. Pria satu lagi mulai gementar.
“Tuan, Tuan saya akan kasih tahu!” teriak pria yang satu lagi.
__ADS_1
Luis tersenyum miring mendengar ucapan pria itu lalu mendekatinya.
“Katakan di mana?” tanya Luis.
“Sial-an jangan shhtt jangan katakan! Kalau shhtt tidak kelu-arga kita semua akan mati shhtt,” ucap pria yang terluka tadi dengan menahan sakit perih yang dia rasakan di pundaknya.
“Aku takut mati sialan! Kau tidak lihat mereka ini bukan manusia!” sahut pria satunya lagi.
“Tuan aku akan memberitahu anda di mana letaknya bom-bom itu,” lanjut pria itu lagi.
“Baiklah, hei kamu bawa pria yang ini ke ruangan lain,” ucap Luis lalu memberi perintah pada anak buah yang lain.
Setelah pria itu dibawa pergi, Luis berjalan mendekati Chester.
“Tuan,” panggil Luis.
8
“Kau lanjutkan bermain dengannya, biar aku yang mengintogerasinya,” ucap Chester lalu berdiri dan langsung keluar dari ruangan itu.
Luis tersenyum miring lalu kembali menuju ke arah pria yang tertancam paku di pundaknya tadi. Luis kembali menyiksa pria itu hingga putuslah nyawa pria itu barulah dia berhenti.
Para anak buah yang lain telah mengurusi mayat pria itu dan membersihkan ruangan eksekusi itu lagi. Karena Chester tidak mau ada jejak secuil pun yang tinggal di dalam ruangan itu.
Peralatan yang digunakan juga kembali dibersihkan lalu disusun rapi di atas meja khas.
.
.
.
.
.
“Kak ini sudah hampir lima hari, Kak Alex dan Chester tidak memberi kabar pada kita,” ucap Jennixia sambil memanyunkan bibirnya.
“Sabarlah pasti mereka masih sedang menyelesaikan masalah diluar,” jawab Renata sambil menepuk perlahan pundak Jennixia.
__ADS_1
Jennixia mengangguk dan menatap kedua tangannya. Dia mengingat terakhir kali Chester dan Alex memegang tangannya.
‘Cepat pulang,’ batin Jennixia.
Jennixia menyesal karena mengabaikan Alex sebelum mereka pergi dan dalam hati dia berdoa agar mereka kembali pulang dalam keadaan baik-baik saja.
Apalagi kemarin Jennixia bermimpi tentang Alex terkena tembakan lalu jatuh ke jurang tapi dia tidak menceritakan pada Renata karena dia tidak mau Renata khawatir apalagi beberapa hari ini Renata terlihat begitu pucat dan banyak melamun.
Renata telah menyiapkan makanan untuk makan siang mereka, tiba-tiba pintu utama ruangan itu berbunyi dan terbuka.
Renata dan Jennixia langsung menoleh ke arah pintu utama. Suapan pertama tidak mendarat di dalam mulut mereka karena telah kembali ke dalam piring.
Wajah yang ditunggu-tunggu telah datang tapi yang mengagetkan adalah Alex duduk dikursi roda yang di dorang oleh Jessi.
“Abang,” Renata langsung berlari ke arah Alex dengan air mata yang telah meluncur ke pipinya.
Jennixia masih mematung di tempat, dia menatap sang Kakak yang duduk di kursi roda.
“Jenni,” panggil Jessi.
“E-iya Bu?” jawab Jennixia.
“Kemarilah,” ucap Jessi lagi.
Jennixia menuju ke arah sang Ibu dan langsung menghamburkan pelukan, lalu dia berpindah pada Alex.
“Kak Alex,” ucap Jennixia lalu memeluk Alex.
“Jangan khawatir Kakak baik-baik saja,” ucap Alex sambil mengusap perlahan punggung sang adik.
Jennixia melepaskan pelukan lalu bertanya, “Chester?”
“Dia masih mengurusi sesuatu, mungkin beberapa hari lagi dia akan pulang dan akan menjemputmu,” jawab Jessi sambil tersenyum.
Alex dan Jessi sengaja pulang lebih dulu karena khawatir akan Renata bersama anak-anak dan Jennixia. Chester telah mengetahuinya tapi dia masih belum pulang karena mau menuntaskan semua musuh mereka.
Jennixia mengangguk walaupun dia tidak tahu masalah apa yang Chester selesaikan tapi dia pasti Chester akan kembali pulang menjemputnya.
Bersambung....
__ADS_1