Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 98 Kejutan Acara Ulangtahun


__ADS_3

Jennixia telah selesai berdandan, walaupun tidak mengenakan makeup yang tebal wajah Jennixia terlihat semakin cantik hanya dengan bedak tipis dan liptint favoritnya.


Jennixia melihat dirinya pada cermin yang terletak di dalam kamar tidur mereka. Senyumannya mulai mengembang dan merasa puas dengan penampilannya.


Lalu dia kembali mendekat ke arah ranjang mereka lalu mengerakkan tubuh Chester yang sedari tadi belum bangun dari tidurnya.


"Hubby bangunlah ini sudah hampir jam 8 malam, aku saja telah selesai bersiap dan Hubby masih belum mandi," ucap Jennixia sambil menggerakkan tubuh Chester.


Chester memaksa matanya terbuka, sebenarnya dia tidak benar-benar tidur, dia hanya menahan rasa perih dibagian lambungnya. Mungkin yang dia rasa adalah efek makan nasi goreng masam tadi.


Sudah dipastikan setelah ini Chester pasti mengarahkan pada koki untuk membuang semua jeruk nipis yang ada di dalam dapur. Chester tidak akan membiarkan Jennixia mengidam masam lagi dia takut akan menjadi seperti dirinya saat ini.


Jennixia menggerakkan tubuh Chester semakin cepat, karena Chester sepertinya masih ingin tidur.


"Tumben Hubby legit banget ih," gerutu Jennixia sudah mulai kesal.


"Iya iya ini hubby bangun," Chester mengucek matanya lalu segera mengambil posisi duduk.


Sewaktu dia menatap Jennixia tiba-tiba matanya menjadi segar. Chester cukup tertegun dengan penampilan Jennixia yang terlihat begitu cantik.


"Sayang sangat cantik, aku tiba-tiba rasa ragu untuk membiarkanmu keluar dari kamar kita," terang Chester yang terlihat begitu tertegun.


"Ini biasa saja, Hubby cepatlah mandi awas keburu sampai teman-teman Hubby," Jennixia cepat-cepat menarik-narik kecil Chester agar mau bergerak dari atas ranjang.


Tiba-tiba ide jahil terlintas dipikiran Chester, dia langsung saja menarik tangan Jennixia yang sedang menarik-narik tangannya agar bergerak. Jennixia langsung masuk ke pelukan Chester.


Tangan nakal Chester mulai bermain-main di punggung Jennixia. Hingga dia merasa memegang kancing dress yang dikenakan. Chester langsung menarik kancing dress Jennixia ke bawah.


"Hubby kita akan terlambat," Jennixia memberontak kecil agar terlepas dari Chester yang sedang haus belaian.


"Siapa suruh Sayang terlalu cantik inikan juniornya juga lagi tegak," sambil mengusap punggung Jennixia yang telah terekspos.


"Ih Hubby kita belum bisa kata dokter tunggu setelah 3 bulan," ucap Jennixia lalu memundurkan dirinya dari pelukan Chester.


"Terus ini bagaimana?" Chester mulai merengek dan berharap Jennixia mau menidurkan kembali junior saktinya itu.


Jennixia tersenyum, sebenarnya rasa berat karena bedak tipisnya akan terkena keringat lagi tetapi dia takut akan ada godaan lain yang akan datang jika dia tidak memenuhi keinginan Chester.


Oleh itu, Jennixia melakukan apa yang harus dia lakukan sehingga air kehidupan Chester keluar memenuhi rongga mulut dan wajahnya.


"Maaf Sayang," ucap Chester lalu mengambil tisu untuk membersihkan wajah Jennixia.


"Tidak apa-apa yang penting Hubby puas," jawab Jennixia sambil tersenyum.


Setelah selesai membersihkan wajah Jennixia, Chester membawa Jennixia ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya karena takut aroma air kehidupan tadi terhidu oleh orang lain.


Jennixia terpaksa menganti pakaiannya karena terkena air kehidupan Chester yang begitu banyak. Setelah Chester sudah dipastikan masuk ke dalam kamar mandi barulah Jennixia masuk ke ruang walk in closet.

__ADS_1


Jennixia kembali memilih dress lain dan mulai mencocokkan lagi dengan pakaian kemeja yang akan Chester gunakan.


.


.


.


.


.


.


Chester menggandeng tangan Jennixia sejak keluar dari kamar mereka. Warna baju mereka abu-abu terlihat begitu cocok pada mereka.


Setelah keluar dari lift, suasana mansion terlihat agak sunyi dengan lampunya sangat suram membuat Jennixia kebingungan.


"Jangan bilang Hubby tidak bayar listrik, ini bagaimana sih? Kalau tamu kita datang bisa masuk kita," ucap Jennixia panik.


"Mana sepi lagi, kek rumah-rumah angker. Hubby cepat buat sesuatu," lanjut Jennixia lagi.


"Hubby ke sana dulu Sayang di sini saja ya, jangan bergerak ya. Hubby takut kamu kesandung," ucap Chester.


"Ok ok Hubby cepat ke sana dulu cari cara hidupin lampunya," jawab Jennixia.


Chester mengangguk lalu meninggalkan Jennixia di depan lift. Jennixia sebenarnya agak takut dengan kegelapan tapi dia percaya semuanya bakal baik-baik saja apalagi dia sedang berada dalam mansion milik suaminya.


Kreekk..krekk..krekk..


Terdengar seperti bunyi seretan, Jennixia mulai berwaspada mujur saja dia senantiasa membawa pisau kecil yang diberi oleh suaminya dulu.


Baru saja hendak melangkah untuk melihat bunyo seretan tadi, tiba-tiba lampu menyala berserta suara yang sedikit riuh.


"SELAMAT ULANGTAHUN NONA JENNIXIA!" ucapan kompak dari orang-orang yang ternyata telah berada dekat dengannya.


Jennixia sedikit kaget, dia menutup mulutnya dan memperhatikan setiap wajah yang sedang berada di hadapannya saat ini. Mata Jennixia mulai berkaca-kaca.


Chester keluar dari antara mereka dengan mendorong sendiri kue ulangtahun yang mempunyai ketinggian 4 tingkat.


Jennixia semakin tidak percaya, air matanya sudah bercucuran dan membasahi pipinya, Mei mendekatinya lalu memberi Jennixia tisu untuk menghapus air matanya.


"Selamat ulangtahun Sayang, panjang umur dan sehat selalu. Semoga Sayang menjadi istri dan mommy yang baik untuk aku dan anak-anak kita," ucap Chester setelah berdiri berhadapan dengan Jennixia.


Jennixia mengangguk, air matanya semakin mengalir. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena baru kali ini dia merasa ulangtahunnya disambutan.


Jennixia memeluk Chester lalu Chester mengecup puncak kepalanya.

__ADS_1


"Jangan menangis Sayang, kau tau aku tidak menyukai jika kau menangis," bisik Chester. "Tersenyumlah cintaku, hari ini hari bahagiamu," lanjutnya lagi.


Jennixia segera menghapus air matanya lalu tersenyum menatap Chester.


"Terima kasih Hubby," ucap Jennixia.


Lalu Chester mengusap pipi Jennixia dan memberi ruang Jennixia untuk berhadapan dengan para tamu mereka.


Jennixia telah berdiri dihadapan semua orang, dia tersenyum lalu mulai menundukkan kepalanya.


"Terima kasih semua, aku tidak akan pernah melupakan hari ini. Ini merupakan sambutan ulangtahunku yang tidak bisa aku lupakan, terima kasih," ucap Jennixia dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


Jessi dan Mary maju dan mendekati Jennixia. Mereka sama-sama menghamburkan pelukan kepada Jennixia.


"Selamat ulangtahun Sayang," ucap kedua-duanya.


Jessi mencium dahi Jennixia lalu berkata, "maafkan ibu yang belum menjadi ibu sempurna untukmu, ibu harap kamu bahagia dan bisa menjadi ibu yang lebih baik kepada suami dan anak-anak kalian."


"Terima kasih Ibu," jawab Jennixia.


Selesai Jessi barulah Mary kembali memegang kedua tangan menantunya itu.


"Mama tau selama ini mama jahat banget sama kamu, tapi mama mohon kamu jangan pernah berdendam dan maafkan mama. Mama janji akan jadi mama yang baik untuk kalian dan calon cucu mama," ucap Mary dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ma, kita sudah sepakat melupakan waktu itu. Mama tidak perlu ingat lagi, kita manusia yang tidak sempurna dan pasti akan berbuat kesalahan. Terima kasih Ma, terima kasih karena telah menerima Jenni sebagai menantu Mama," jawab Jennixia lalu memeluk Mary kembali dengan erat.


Kini giliran Alex dan Renata serta anak-anaknya mendekat ke arah Jennixia.


"Kak," panggil Jennixia dengan nada lembut.


Alex memeluk Jennixia, dia bersyukur Jennixia sudah tidak berdendam dengannya malah lebih menjadi sedikit manja ketika bersama dengan dirinya.


Sedang Alex dan Jennixia berpelukan melepas rindu dan mengobati hati yang merasa bersalah dengan masa lalu, tiba-tiba seseorang berdehem.


"Ehemm, maaf menganggu tapi Jenni juga Kakakku," ucap Vivian yang terlihat cemburu.


Jennixia dan Alex serempak menoleh ke arah suara itu. Alex tersenyum lalu membuka sebelah tangannya.


"Bukan hanya Jennixia tapi aku juga Kakakmu. Kemarilah," ucap Alex lalu mengajak Vivian untuk berpelukan bersama mereka.


"Kak ... ," Vivian terharu mendengar ucapan Alex, dia melihat ke arah Jennixia yang juga telah membuka tangannya untuk menyambut Vivian.


"Kemarilah kau tetap adik kami," ucap Jennixia pula.


Dengan langkah yang perlahan Vivian mendekati Alex dan Jennixia. Air matanya telah menguyur seluruh wajahnya dia menerima pelukan dari keduanya. Rasa hangat menjalar ke dalam hatinya, dia tidak pernah merasa sebahagia ini karena selama ini sang Ayah sering mengekang hidupnya dan membuatnya benci pada keduanya.


Selesai mereka bertiga berpelukan datanglah seorang lagi yang sebenarnya pernah berada dalam hati Jennixia, dia mendekat dengan wajah rasa bersalah.

__ADS_1


"Jenni ... ,"


Bersambung....


__ADS_2