Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 11 Rencana Arviy


__ADS_3

Arviy menatap foto yang di kirim oleh orang yang dia sewa, senyumannya menyungging.


"Wanita ini cantik, pantasan saja kau sanggup keluarkan uang miliaran deminya." Ucapnya sambil menatap foto Jennixia. "Aku akan merampasnya darimu Chester!" Lanjutnya lagi.


Arviy telah menyuruh beberapa anak buah terus membuntuti ke mana perginya Chester dan Jennixia. Asistennya juga telah menyelidiki tentang Jennixia.


Arviy mencoba untuk mendekati Ayah tiri Jennixia agar bisa menghasutnya dan membuat Jennixia berpaling padanya.Hari ini dia akan bergerak langsung bertemu dengan Ayah tiri Jennixia.


Setelah sampai di kediaman orangtua Jennixia, Arvi telah menyiapkan sejumlah uang yang hampir sama dengan jumlah uang yang Chester pernah beri kepada Ayah tiri Jennixia.


Uang itu digunakan untuk memancing Ayah Jennixia untuk bertemu dengan Jennixia. Arviy di persilakan masuk oleh Ayah tiri Jennixia yang dipanggil dengan Anderson.


Anderson merasa bingung dengan kedatangan seorang pemuda tampan dan berpakaian elegan seperti orang kaya pada umumnya, ditambah lagi pemuda itu datang menggunakan mobil Ferrari 250 GTO dan di temani oleh beberapa anak buahnya yang menaiki mobil SUV hitam.


Mata Anderson mulai berbinar, mungkin inilah yang dikatakan rezeki datang tanpa diundang. Dia mempersilakan mereka masuk ke dalam rumahnya yang sederhana itu.


Arviy langsung saja mengatakan intinya kepada Anderson. Dia mulai mengerutkan alisnya.


"Tapi anakku itu telah dibeli oleh seseorang dengan harga 1miliar dan kemarin saya baru menerima 800juta lagi, uang yang Tuan tawarkan tidak sebanding dengan uang yang orang itu beri di saat aku memintanya.",


Arviy mengenggamkan kedua tangannya, ingin sekali dia menghancurkan pria di depannya ini karena berani menolaknya tapi dia harus bermain cantik dan sabar. Arviy menghela nafas panjang agar dia bisa kembali tenang.


"Baiklah, kalau begitu aku menawarkanmu 3miliar bagaimana?" tanya Arviy sambil tersenyum penuh arti.


"Ti-tiga miliar?" Anderson menjadi gugup mendengar uang 3miliar ditawarkan padanya. Dia menelan salivanya dengan bersusah payah.


"Bagaimana?"


"Baiklah, tapi apa syaratnya?" Anderson memyetujuinya karena uang sebesar itu dia tidak akan sia-siakan.


Tidak lupa juga Anderson menanyakan syaratnya karena uang yang di tawar sebesar itu pasti akan memiliki syaratnya dan tidak hanya diberi cuma-cuma.


"Bawa anakmu itu kepadaku." Jawab Arviy dengan penuh penekanan dan seringgai di wajahnya.


Anderson menyetujuinya, dia berjanji akan membawa Jennixia kepada Arviy tapi tidak dalam waktu terdekat ini karena dia harus mencari tempat dan waktu yang sesuai.

__ADS_1


Sepertinya perjanjian telah di terima, hari ini Anderson menerima uang sebanyak 1 miliar dan sisanya akan diberikan setelah dia membawa Jennixia kepadanya, Arviy juga memberi waktu kepada Anderson dalam 2 minggu dan hitungannya di mulai dari hari ini.


Sore telah datang, Arviy bersama anak buahnya telah pulang. Anderson bersama anak kandungnya Vivian kini sedang berbincang-bincang untuk rencana mereka pergi liburan setelah melunasi uang rumah sakit istrinya.


Tapi setelah Vivian menyatakan ingin berlibur sedikit jauh Anderson menarik kembali niat ingin membayar rumah sakit istrinya


Anderson tidak menanggapi serius tentang Jennixia, yang dipikirannya sekarang adalah uang dan uang. Mungkin setelah dia puas menghabiskan uang yang diberi oleh Arviy dan Chester barulah dia akan mencari Jennixia.


...


Ditempat Jennixia dan Chester berada.


Chester kini berada di bandara bersama Jennixia, mereka berada di dalam mobil karena belum lagi jam berangkatnya.


Chester tampak memperhatikan wajah cemberut Jennixia, dia terkekeh melihat bibir mungil Jennixia yang maju ke depan.


"Hei, kamu marah?" tanya Chester lalu mengambil tangan Jennixia untuk dia genggam.


Jennixia tidak menjawab pertanyaan Chester dia malah makin memaling wajahnya, menandakan dia memang sedang kesal.


Chester menarik perlahan dagu Jennixia agar mau menatap dirinya, tanpa aba-aba Chester langsung saja menyambar bibir Jennixia lagi dan lagi kejadian itu berulang.


"Jen, maaf aku harus pergi. Kamu jangan nakal ya, di kampus tidak boleh dekat-dekat dengan pria lain, ingat kamu sudah punya aku, aku ini suami kamu." Ujar Chester sambil ibu jarinya mengusap-usap pipi gebu Jennixia.


"Jangan pergi lama-lama atau Jenni bakal kesepian." Jawabnya sambil memajukan bibir mungilnya itu.


"Hufft ok sayang tidak akan lama, ehmm tapi bisakah aku meminta sesuatu?"


"Apa?"


"Jangan panggil dirimu dengan nama lagi, cobalah gunakan AKU KAMU ok?"


Jennixia mengangguk dia akan mencoba mengikut saran Chester.


Chester menyuruh dia mencoba memanggil dirinya dengan aku. Percobaan pertama dan kedua tampak begitu payah tapi setelah yang ketiga Jennixia sudah mulai terbiasa.

__ADS_1


Sedang asyik bercanda, Chester dan Jennixia di kejutkan dengan kedatangan Luis yang mengatakan sudah waktunya untuk berangkat.


Chester pamit kepada Jennixia dan menyuruhnya menunggu kepulangannya.


Jennixia dibawa pulang oleh Edward, entah kenapa dia tiba-tiba merasa sunyi seperti ada sesuatu yang hilang di dalam dirinya setelah berpisah dengan Chester tadi.


Mungkin bibit cinta dan sayang telah hadir dalam diri Jennixia terhadap Chester atau hanya perasaannya saja, dia juga tidak mengerti. Dia coba melupakannya tapi bayangan wajah Chester terus saja mengacau dalam pikirannya.


Setelah sampai di mansion, Mei sudah menyiapkan air hangat untuk Jennixia berendam karena seharian berjalan akan membuatnya lelah. Kecekatan Mei menjaga Jennixia memang dipuji oleh Chester dan Nera.


Apalagi dalam beberapa minggu ini pasti Jennixia akan terus bergelayut dengan dirinya.


"Mei." Jennixia memanggil Mei dengan nada yang kurang bersemangat.


"Ya, Nona?" Sahut Mei yang sedang mengeringkan rambut Jennixia.


"Mei, bisakah Jenni menggunakan AKU KAMU ketika bersamamu?"


Mei tersenyum senang.


"Sudah tentu Nona."


"Ok, mulai sekarang aku akan menggunakannya." Sahut Jennixia dengan tertawa kesenangan.


Jennixia mulai bercerita tentang kesehariannya kepada Mei dan mulai besok dia akan mulai kuliah. Jennixia menjadi tidak sabar karena impiannya selama ini akhirnya tercapai.


Jennixia bersyukur bisa bertemu kembali dengan Chester walaupun statusnya kini istri dari Chester tapi Chester sama sekali tidak melarangnha untuk melanjutkan impiannya, dukungan yang besar Chester berikan kepada Jennixia.


"Mei, apa kamu mau ikut aku ke kampus besok?" tawar Jennixia dengan penuh harapan kepada Mei.


"Ehm, maaf Nona tapi nanti saya akan ikut menjemput Nona." Jawaban Mei membuat Jennixia cemberut tapi bibir Mei terukir senyuman.


"Tidurlah Nona, besok harus bangun awal karena kelas Nona mulai jam 8 pagi." Ujar Mei lagi sambil menaikan selimut hingga ke leher Jennixia.


"Baiklah selamat malam Mei." Ucap Jennixia patuh.

__ADS_1


***Bersambung...


Jangan lupa teruskan mendukung yaahh readerssskuuu, kalo ada salah ejaan tolong beritahu authornya yaa, di kolom komentarr.. Sekian sampai jumpaa 😘😘😘***


__ADS_2