Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 6 Pernikahan


__ADS_3

Chester duduk di sofa sambil menyilangkan kedua kakinya. Dia menatap tajam ke arah Nera yang sedang berdiri tidak jauh dari hadapannya.


"Sekarang katakan, siapa Mei?" Ucap Chester kepada Nera.


"Mei seorang gadis yang saya bawa dari pendesaan Tuan, kedua orangtuanya sudah terbilang sangat berumur dan ekonomi keluarganya juga sangat buruk." Terang Nera tentang dari mana kedatangan Mei.


Chester menghela nafas panjang sedikit lega karena Mei cuma orang biasa saja.


"Lalu bagaimana dia bisa seakrab itu dengan Jennixia?"


Persoalan macam apa itu, benar ya Chester agak cemburu dengan Mei yang berhasil membujuk Jennixia.


Nera menceritakan tentang Mei yang sering bersama Jennixia apalagi umur mereka tidak jauh beda, Jennixia mudah bergaul dan mudah akrab hanya bersama Mei.


"Mei sangat memanjakannya, Nera." Suara yang tadinya kedengaran kini berubah sendu.


Tidak Chester sangka bahwa dia akan kalah jika bersama Mei, padahal Mei hanyalah seorang pelayan yang dia bayar untuk menjadi pelayani pribadi Jennixia.


"Tuan..." Nera memanggil Chester.


Lamunan Chester membuyar, dia menatap ke arah Nera yang memberi kode mata. Chester mengikut arah di mana mata Nera tujukan.


Senyum Chester kembali mengembang, karena melihat kedatangan Jennixia yang menuju ke arahnya. Chester lantas berdiri dari duduknya lalu mendekat ke arah Jennixia.


"Jen..." Panggil Chester dengan lembut, sambil menuju ke arah Jennixia.


Mei meninggalkan Jennixia yang sedang melangkah ke arah Chester. Seperti sepasang kekasih yang baru saja bertemu, mereka berdua dengan langkah yang tidak terburu-buru menuju ke sesama mereka.


Kini Jennixia tepat berada di hadapan Chester, dia hendak mengatakan permintaan maaf karena salahfaham dengan Chester tapi saat ini tengkorokan terasa sangat kering.


Jennixia menundukkan kepala karena berasa malu dengan tatapan Chester.


Dia mulai meremas gaun yang ia kenakan.


"Jen, maafkan aku..." lirih Chester yang terdengan jelas di telinga Jennixia. "Aku bisa menjelaskannya semuanya Jen." lanjutnya lagi.

__ADS_1


Jennixia menggelengkan kepalanya.


"Mei telah menjelaskan kepada Jenni. Tidak seharusnya Jenni memarahi Om, Jenni berterima kasih karena Om mau menyelamatkan Jenni." Ungkap Jenni sambil menatap wajah tampan Chester.


Walaupun Chester masih saja kesal karena Jennixia memanggilnya dengan panggilan Om, tapi dia masih bahagia mendengar pengakuan Jennixia. Dia harus berterima kasih dengan Mei, tapi dalam masa yang sama dia sedikit cemburu dengan kehadiran Mei di sisi Jennixia.


Sulit memang pikiran Chester, dia hanya mau Jennixia lebih mendengarkan dan bergantung pada dirinya seorang, tidak ada orang lain lagi termasuk pelayan pribadi Jennixia.


Untuk saat ini Chester tidak permasalahkan hal itu, dia masih saja harus bersyukur Jennixia karena Jennixia mau bertemu dengannya.


Chester mengiring Jennixia ke ruang makan untuk melanjutkan acara makan siang mereka yang sempat tertunda hampir 2 jam yang lalu.


....


Seminggu telah berlalu, Chester mendapat sebuah surat yang berisi ancaman dari para musuh yang sering mengincar keberadaannya. Dalam waktu yang sama Ayah tiri Jennixia kembali mencari dirinya untuk meminta sejumlah uang untuk merawat Ibu kandung Jennixia.


Apalagi Ayah tirinya mengancam akan menikahkan Jennixia dengan pria kaya yang bisa melanjutkan perawatan Ibu kandung Jennixia. Hal itu membuat Chester menjadi marah.


Chester memanggil Jennixia untuk bertemu dengannya. Ada hal yang sangat penting yang harus dia sampaikan.


Chester memasang wajah serius yang kelihatan tegas dan dingin. Dia melempar sebuah map di depan Jennixia.


"Bacalah dan tandatangan. Dan ingat aku tidak menerima penolakan."


Jennixia sempat dibuat bingung tapi dia tetap membuka map tadi lalu membacanya dengan seksama. Netra mata Jennixia membulat sempurna.


"Om, inikan perjanjian pernikahan?" Ucap Jennixia kaget. " Om, jangan ngadi-ngadi Om, awas Om dicap pedofil," sambungnya dengan ketus setelah membaca penuh isi map tersebut.


Chester sedikit tertohok mendengar perkataan "pedofil" yang disebutkan Jennixia.


"Jenni, kau bukan dibawah umur lagi." Sahut Chester. "Kau tidak bisa menolak Jenni, atau Ibumu akan diberhentikan perawatan medisnya" lanjut Chester lagi dengan sedikit berkelit.


Jennixia tampat kaget karena Chester membawa perihal kesehatan Ibunya dengan masalah ini, tidak ada pilihan lain untuk Jennixia dia terpaksa menerima perjanjian pernikahan seperti yang diarahkan oleh Chester.


Dia mengambil pulpen yang berada di atas meja kerja Chester lalu dengan tangan yang gementar dan air mata mulai meluruh ke permukaan kertas, Jennixia menandatangan surat perjanjian itu.

__ADS_1


"Om jahat!" Jerit Jennixia lalu berlari keluar dari ruang kerja Chester.


Seperti belati menusuk hati Jennixia begitulah rasa sakitnya. Sudah tidak mempunyai masa depan karena dijual Ayah tirinya kini orang yang ia percaya akan menjaganya, tiba-tiba mengancamnya untuk menandatangani perjanjian pernikahan jika tidak pengobatan Ibunya akan diberhentikan.


Miris sungguh miris, tapi Jennixia tidak tahu alasan dibalik Chester melakukan hal itu, awalnya ini hanya rencana B untuk rencana awalnya tapi Chester juga terpaksa karena takut kehilangan sosok yang telah memenuhi ruangan hatinya.


....


Keesokan harinya, di dalam kamar Jennixia, matanya yang kelihatan sembab karena menangis semalaman membuat Nera dan Mei turut merasa sedih.


Jennixia memilih diam sepanjang Mei dan Nera membantunya berdandan dan memakai gaun pengantin. Dirinya sudah menjadi seperti boneka yang cantik tapi tidak ada raut bahagia diwajahnya.


Chester berdiri di depan pintu kamar dan memberi kode kepada Mei dan Nera untuk keluar, karena dia akan berbicara sedikit dengan Jennixia.


Kini hanya tinggal mereka berdua, Jennixia masih betah menatap ke arah pantulan wajahnya di depannya cermin, tatapan matanya sungguh menyedihkan.


"Jen, bisakah tersenyum sedikit saja untuk hari ini?" sapa Chester yang kini sudah berlutut di sampingnya.


Tidak ada jawaban dari Jennixia, membuat Chester semakin merasa bersalah.


"Tersenyumlah Jen, setelah pernikahan kita ini, aku akan mengikuti semua kemauanmu yang penting kau tetap berada di sisiku." Chester berharap Jennixia menanggapinya.


"Dan aku akan mendaftarkanmu disalah satu kampus yang terkenal, aku mendengar dari Nera bahwa kau ingin sambung kuliahmu dalam bidang komputer. Kau maukan?" sambungnya lagi.


Kali ini Chester berhasil membuat Jennixia sedikit tergerak, karena saat ini Jennixia menatapnya dengan tatapan berbeda.


"Benarkah? Apa Jenni bisa seperti gadis-gadis di luar sana?" ucap Jennixia dengan sedikit antusias.


"Sudah tentu bisa, setelah menikah kamu bisa kuliah, bisa jalan-jalan di mall tapi kamu harus ingat waktu karena masih ada suamimu di rumah menunggumu." Ujar Chester dengan bersemangat.


Jennixia mengangguk cepat, dia berubah menjadi bersemangat karena dia kira masa depannya akan bertambah hancur setelah menikahi Chester.


Chester tersenyum melihat wajah cantik Jennixia kini mulai kembali tersenyum dan raut wajahnya sudah berubah menjadi bahagia.


"Kamu gadis yang pintar, tetaplah tersenyum seperti ini." Ucap Chester sambil mengusap perlahan puncak kepala Jennixia.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2