Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 54 Kekacaun di Mansion


__ADS_3

Jennixia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang kesal. Dia terus-terusan menggerutu karena tanda biru itu ada beberapa pada lehernya.


Jennixia sudah tidak memperdulikan perih diintinya, yang ada dalam pikirannya bagaimana harus dia sembunyikan tanda yang ada di lehernya.


Jennixia menatap dirinya di depan cermin. Dia mendengus kesal, karena bajunya tidak ada yang menutupi hingga ke lehernya.


“Ck, ini semua gara-gara Chester. Dan ini harus bagaimana ih,” Jennixia menggosok terus bagian lehernya sehingga leher putihnya memerah.


“Aaaaaarrghhh,” pekik Jennixia dalam walk in closet.


Jennixia tidak ada pilihan lain melainkan terpaksa membiarkan tanda itu begitu saja. Dan yang tambah membuatnya kesal adalah Chester telah duduk cantik di meja makan bersama Mary dan Liana.


“Apa-apaan ini,” gerutu Jennixia.


Chester menoleh ke arahnya karena mendengar suara Jennixia. Dia berdiri lalu menghampiri Jennixia.


“Sayang, kamu mau ke mana?” tanya Chester.


“Kenapa? Biar kamu bisa dilayani wanita itu!” ketus Jennixia.


Chester merasa bingung dengan ucapan Jennixia, padahal dia sudah dari tadi berada di ruang makan karena dan Mary bersama Liana baru saja memasuki ruang tersebut.


Jennixia meninggalkan Chester berdiri mematung, dia berjalan mendekati ruang meja makan lalu mengambil posisi duduk.


Liana menundukkan wajahnya, Mary pula tetap menatap sinis ke arah Jennixia dan Jennixia hanya terlihat datar, dia tidak memperdulikan kehadiran kedua wanita itu.


Chester segera menyusul setelah melihat Jennixia telah berada di ruang meja makan.


“Sayang, kamu mau makan apa? Biar aku suapkan ya,” Chester coba melancarkan pujuk rayunya.


Jennixia menoleh ke arah Chester, suatu ide terlintas di pikirannya. Jennixia berdiri dan mendekati Chester, lalu langsung duduk dipangkuan Chester.


Sengaja Jennixia ingin memanas-manasi Mary. Jennixia menunjuk roti panggang dan selai strawberry, dengan cekatan Chester mengolesi selai tersebut di atas roti panggang setelah itu di potong-potongnya menjadi kecil-kecil.


Chester menyuap Jennixia dengan berhati-hati, membuat Mary dan Liana serasa menjadi nyamuk di tempat itu.


Saat Jennixia mengambil cangkir yang berisi coklat hangat, tiba-tiba Mary merampas cangkir itu dari tangan Jennixia dan menyiram Jennixia menggunakan coklat hangat itu.


Mata Chester terbelalak melihat perlakuan Mary. Raut wajahnya mulai memerah dan terlihat jelas amarahnya.


Jennixia yang terpaku di tempat, merasakan wajahnya disiram air hangat beraroma coklat, membuatnya hatinya sedikit kesal.


Baru saja Chester hendak melepaskan amarahnya kepada Mary, Jennixia sudah lebih dulu menepis piring dan cangkir di atas meja hingga berjatuhan ke atas lantai.


Prangg!


Hal itu membuat mereka yang berada di ruangan itu terdiam. Jennixia turun dari pangkuan Chester lalu memilih serpihan piring yang berada di atas lantai tersebut.


Jennixia mendekati Mary, lalu menodongkan serpihan yang dia ambil tadi ke arah leher Mary.

__ADS_1


“Katakan kenapa kau membenciku! Hahh? ” teriak Jennixia.


Mary terdiam di tempatnya, dia takut untuk bergerak, karena mungkin Jennixia akan nekad mencederakan dirinya.


Chester coba menenangkan Jennixia karena sudah hampir 2 hari ini mood Jennixia sangat mudah emosi. Walaupun Chester tahu, apa yang dilakukan oleh Mary adalah salah tapi dia tidak mau Jennixia sampai nekad melukakan Mary.


“Jen, kamu naik ganti ya,” bujuk Chester.


“Kamu diam! Jangan campur urusanku!” emosi Jennixia sudah semakin tidak teratur sehingga dia membentak Chester.


Chester lagi-lagi tidak bisa berbuat apa-apa karena wajah Jennixia saat ini sungguh mengerikan.


Jennnixia masih menodongkan serpihan tadi sehingga sebuah panggilan suara yang kuat dan tegas membuatnya terdiam dan serpihan di tangannya akhirnya jatuh ke lantai.


“JENNIXIA PETER!”


Suara yang kuat dan tegas itu, membuat emosi Jennixia luruh, dan tubuhnya sedikit gementar. Jennixia takut untuk menoleh ke belakang karena dia cukup mengenali sosok yang memanggilnya itu.


“Jennixia menjauh dari serpihan pecahan itu,” perintah sosok itu lagi.


Dengan langkah yang perlahan, Jennixia mundur berapa langkah ke belakang tapi masih tidak berani untuk berhadapan dengan sosok itu.


“Lihat wajah Ibu Jennixia,” ucap Jessi dengan penuh penekanan.


Rupanya sosok yang membuat Jennixia gementar ketakutan adalah Jessi, iaitu Ibunya karena Ibunya saja yang memahami karakter aslinya dan merupakan obat penenangnya.


“Maafkan Jenni, Ibu...” ucap Jennixia dengan suara seraknya.


Jessi menghela nafas, dia menatap putri semata wayangnya, bajunya telah basah oleh minuman coklat.


“Apa yang terjadi?” tanya Jessi pada Chester.


“Maafkan Chester Bu, tapi...” Chester tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Karena tidak mungkin dia mau memberitahu semua ini adalah ulah dari Mary, bisa saja dia dipecat menjadi anak menantu.


Mary yang melihat keadaan Jennixia seperti sangat takut kepada Jessi pun akhirnya memanfaatkan situasi.


“Cih, beritahu kepada anakmu yang sombong itu, jangan sok berkuasa di sini! Kalau boleh pergi tinggalkan tempat ini!” ucapnya sambil bersedekap dada.


“Apa maksud anda? Anak saya sombong dan sok berkuasa?” tanya Jessi yang terlihat bingung.


“Iya anak anda sombong! Dia telah menjual dirinya kepada anakku...” ucapan Mary terhenti saat Chester bersuara.


“Stop Ma! Mama lebih baik bawa wanita itu masuk kamar sebelum aku menjadi anak yang benar-benar durhaka!” ancam Chester pada Mary.


Raut wajahnya kini terlihat sangat marah karena perlakuan Mary yang semakin menjadi-jadi.


“Kamu bela-belain terus jala** itu...”

__ADS_1


Plakk!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Mary, dan itu adalah hadiah dari Jessi yang tidak tega melihat anaknya terus dihina.


Chester terdiam, dia menatap wajah Jessi yang penuh dengan air mata yang bercucuran. Rasa bersalah dan menyesal memenuhi ruang kepalanya.


Mary terdiam sejenak, dia ingin membalas perbuatan Jessi tapi tangannya langsung ditarik oleh Chester untuk pergi dari tempat itu.


Pikiran Chester menjadi sangat kacau, ingin sekali dia melepaskan semuanya pada Mary tapi pikirannya masih waras. Mujur saja Mary adalah Ibu kandungnya.


Chester membawa Mary masuk ke kamar yang di tempati oleh Mary dan disusuli oleh Liana. Chester melepaskan kasar tangannya lalu menatap Mary dengan tatapan tajam bak singa lapar.


“Kalau sampai terjadi sesuatu dengan hubungan rumahtanggaku, Cbester tidak akan segan-segan mengusir Mama dari tempat ini!” ancam Chester.


“Oh kamu lebih pilih Ibu dan anak itu! Ok, sekarang Mama akan pergi! Akkhhh...” Mary kembali berpura-pura meremas bagian dadanya.


Nafasnya mulai ngos-ngosan, dia mengambil sesuatu dari dalam sakunya dan di masukkan ke dalam mulutnya tanpa disadari oleh Chester..


Tiba-tiba mulut Mary mengeluarkan darah, Liana langsung berlari ke arah Mary dan mulai panik.


“Panggilkan dokter kenapa dilihat saja!” pekik Liana.


“Nggak usah, tante butuh istirehat aja,” sahut Mary dan meminta Liana untuk memapahnya.


Chester terlihat panik melihat Mary tiba-tiba muntah darah tapi pikirannya saat ini mulai berserabut. Dia mematung di tempat sehingga Mary memanggil namanya.


“Chester! Ka-mu kelu-ar dan jangan tunjukkan diri kamu di sini!” ucap Mary dengan nafas yang tersengal-sengal.


Chester masih tidak berganjak dari tempatnya, dia menatap Mary dengan wajah yang teduh.


“Lia, usir Chester dari kamar ini,” ucap Mary lagi kepada Liana.


Liana mendekat ke arah Chester, baru saja dia hendak menarik tangan Chester tapi Chester sudah menjauhinya dan mundur, Chester akhirnya memilih keluar dari kamar itu.


Chester kembali ke ruang makan tapi dia tidak melihat Jennixia maupun mertuanya Jessi. Chester makin panik dia bertanya kepada pelayan yang berada di situ.


“Jenni dan mertuaku ke mana?” tanya Chester.


“Tadi Bu Jessi menarik Nona naik ke atas Tuan,” sahut salah satu pelayan itu.


Tanpa banyak bertanya lagi, Chester langsung menuju ke liftnya agar bisa naik ke lantai 3 dengan cepat.


Ting!


Bersamaan dengannya bunyi pintu lift, Jennixia juga baru keluar dari kamar dengan membawa tas pakaian, Chester membulatkan matanya dan berlari ke arah Jennixia.


“Jen!”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2