Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 89 Arviy dan Sean ditangkap


__ADS_3

Hari berganti, setiap penjuru yang tertanam dengan bom sudah dipindahkan ke tempat yang lebih aman.


Chester memerintahkan anak buahnya untuk membawa semua bom itu ke dalam hutan yang tidak berpenghuni. Kini kawasan luar dan dalam markas mereka telah aman.


Sudah genap seminggu Chester tidak bertemu dengan Jennixia sehingga rasa rindu sudah membuncah di dadanya. Chester mengarahkan anak buahnya untuk menangkap Sean dan Arviy hari ini juga karena dia mau masalah ini selesai pada hari ini.


Para anak buah Chester dan Alex segera mengambil posisi mengepung Arviy dan Sean di dalam hutan yang berdekatan dengan gedung itu.


Terlihat Arviy dan Sean masih sedang memakan makanan kaleng dan memasak nasi menggunakan kompor portabel.


Mereka seperti sedang bermain masak-masakan bersama. Makan di wadah yang kecil dan minuman berbagi demi berhemat untuk melanjutkan hidup.


“Gas kaleng ini sudah hampir habis, kita harus segera keluar Sean,” ucap Arviy.


“Sebentar malam aku akan mengaktifkan ponsel dan meminta bantuan orang-orang terpercaya dari luar Negeri. Mungkin sekitar 2 hari baru mereka akan sampai, kita harus bertahan,” terang Sean.


“Baiklah, untuk malam ini kita harus puasa dulu karena stok semakin menipis,” jawab Arviy sambil menyimpan kembali barang-barang makanan dan masakan mereka.


“Yang penting selamat, tapi aku rasa Chester dan Alex telah menyerah karena tidak menemui kita,” ujar Sean yakin.


“Sudah tentu, lagian kalau mereka belum menyerah pasti mereka telah menemukan kita hahaha, tapi mustahil mereka tidak akan terpikir tempat ini lagi pula tidak ada jejak yang kita tinggalkan,” sahut Arviy mantab.


Sean dan Arviy benar-benar yakin bahwa mereka tidak akan ditemukan padahal tanpa mereka sadar anak buah Alex dan Chester telah berada di sekeliling mereka.


“Eh aku mau buang hajat dulu,” pamit Sean pada Arviy.


Arviy mengangguk lalu memasuki pondok mereka untuk beristireha karena sudah berapa hari tidak tidur dengan nyenyak.


“Aku akan tidur sedikit sementara Sean masih di luar,” ucap Arviy lirih lalu memejamkan matanya.


Sean tidak pergi terlalu jauh karena khawatir akan ditangkap oleh anak buah Chester. Dia memilih tempat di yang tidak jauh tapi tertutup dari arah pondok mereka.


Baru saja hendak membuka kancing celananya, Sean tiba-tiba berhenti bergerak apabila melihat 3 orang dari berpakaian tertutup sedang mengacukan senjata ke arahnya.


Sean mundur perlahan, dia coba menenangkan pikirannya agar dia bisa kabur dari tempat itu.


Semakin jauh dia mundur pikirnya ada peluang untuk dia melepaskan diri ternyata dari belakangnya ada seseorang yang menunggu lalu memukul bagian tengkuk leher belakangnya.


Sean hilang kesadarannya, mereka langsung saja menyuntik obat tidur agar Sean tidak akan terbangun cepat.

__ADS_1


Salah satu anak buah Chester membopong Sean seperti karung beras, mereka membawanya kembali ke mobil.


Anak buah Alex pula langsung saja menghampiri pondok di mana Arviy sedang tertidur pulas. Dengan perlahan mereka menyuntik bagian leher Arviy.


Hal yang sama terjadi pada Arviy. Mereka berdua dibawa ke markas Chester untuk dieksekusi.


Chester yang telah menerima laporan langsung saja keluar dari rumah sakit dan menuju ke markasnya. Senyuman miring dibibir Chester terlihat jelas.


Tidak lupa dia mengabari Alex tentang Arviy dan Sean. Walaupun kemarin Alex sempat menyerahkan padanya tapi dia yakin Alex juga ingin memperlakukan perhitungan pada mereka karena sempat bermain-main dengan keluarganya.


Seperti yang Chester duga, mobil Alex masuk ke kawasan markasnya setelah dia hampir masuk ke dalam markasnya.


“Aku kira kau tidak akan datang,” sindir Chester.


“Ck, aku sudah sembuh dan sudah bisa bermain dengan mereka,” jawab Alex ketus.


“Hmm bagaimana dengan Jenni?” tanya Chester kali ini suaranya sedikit sendu.


“Kalau rindu jemput dia saja, tapi aku ingatkan jangan buat dia melarikan diri lagi,” jawab Alex.


“Malam ini aku akan jemput dia, di luar sudah aman juga dan aku yakin tidak akan ulangi kesalahanku lagi,” ujar Chester dengan penuh yakin.


Chester dan Alex mendekati kedua pria yang terikat di tempat itu. Chester memerintahkan untuk menyiram keduanya menggunakan air es agar keduanya sadar.


Byurrrr...


Uhukk..uhukk


Terdengar bunyi batuk dari kedua pria itu. Tubuh yang basah dan mengigil kedinginan membuat mereka sadar.


Prokk..prok.


Terdengar bunyi tepuk tangan setelah mereka membuka mata, mereka lantas melihat ke arah pria yang bertepuk tangan itu.


“Alex. Chester!” ucap kedua serempak.


“Suprise!” ucap Chester pada mereka.


“Hai Sean, Arviy. Bagaimana keadaan kalian?” tanya Alex dengan wajah menyindir.

__ADS_1


“Ba*ingan kau! Pengkhianat!” teriak Sean dengan penuh amarah.


“Wow sabar, sabar. Santai saja Sean lagi pula kau dulu yang cari hal. Jennixia dan wanita yang kau culik kemarin itu Ibuku!” jelas Alex dengan tatapan tajamnya.


Arviy dan Sean tampak kaget, pantasan Alex tiba-tiba saja berteman dengan musuhnya sendiri. Rupanya target mereka merupakan keluarga Alex.


Arviy tidak berkata apa-apa dia hanya menundukkan kepala, karena mau protes juga sama tetap tidak ada bedanya. Apalagi saat ini mereka dalam kawasan Chester.


Arviy pasrah dengan apa yang akan terjadi tapi dia telah meninggalkan sesuatu untuk menghancurkan rumahtangga Chester dan Jennixia. Arviy begitu berharap rencana B yang dia sudah buat berjalan lancar.


“Sekarang kalian bakal nikmati rasa neraka dunia bagaimana,” ujar Chester dengan sinis.


“Aku sumpah kau akan hancur suatu saat nanti Chester! Alex!” pekik Sean yang masih saja menunjukkan kebenciannya.


Chester mendekati Sean lalu mencengkaram erat dagunya, lalu Sean membuang ludah ke wajah Chester tapi sayangnya Chester sempat mengelak karena tahu dia akan melakukan hal itu.


“Lakban mulut mereka karena aku tidak mau mendengar suara mereka saat aku mulai bermain nanti,” ucap Chester pada anak buahnya yang berada di tempat itu.


Chester tersenyum miring, dia mengambil pisau silet yang terletak di atas meja.


“Lex kau mau lihat cara aku bermain dengan mereka?” tanya Chester sambil memegang pisau silet.


Alex terlihat serius, dia juga penasaran bagaimana cara Chester mengeksekusi para musuhnya.


“Baiklah tapi Sean untukku saja,” jawab Alex datar.


“Ok deal,” sahut Chester.


....


Ok guyss maaf adegan eksekusinya author skip saja karena takut kayak kemarin naskah ditolak, jadi kalian bisa bayangkan saja Chester buat apa dengan pisau silet itu ya..


....


Chester sedang membersihkan tubuhnya dari noda da*ah yang mengenai dirinya. Sedikit pun tidak ada rasa menyesal setelah membuat Arviy harus kehilangan nyawanya.


Saat ini dia telah bersiap dan bersemangat untuk menjemput istri kecilnya yang sudah seminggu jauh darinya.


"Semua telah selesai kita akan hidup bahagia Sayang," ucap Chester sambil mencium foto Jennixia yang ada layar ponselnya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2