Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 63


__ADS_3

Setelah sampai di mansion, Jennixia disambut dengan meriah oleh para pelayan dan pengawal. Mereka sungguh merindui celoteh Jennixia walaupun Jennixia baru saja pergi kemarin tapi bagi mereka Jennixia membawa warna dalam mansion ini.


Jennixia tersenyum sumringgah karena pelakuan mereka yang menyambutnya walaupun dari sudut sana terlihat jikalau Mary menatap sinis ke arahnya.


Hal itu tidak menjadi masalah bagi Jennixia karena dia memang mengenal sikap dan watak Mary yang masih saja tidak menyukainya.


Mary mendekati Jennixia dan Chester.


“Hai anak menantu mama,” ucap Mary dengan senyum yang terlihat sekali dibuat-buat.


Senyum Chester mengembang mendengar ucapan Mary, pikirnya Mary telah menerima kehadiran Jennixia sebagai istri dan menantunya.


Jennixia tersenyum kikuk, dia menoleh ke arah Chester dan Chester menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang antusias.


“Maaf, mungkin selama ini mama sering jahat denganmu tapi mama sadar mama telah dibodohi oleh Liana, maafkan mama ya,” ujar Mary dengan lembut.


Jennixia terpaksa menerima tangan yang Mary karena tidak ingin membuat Chester kecewa walaupun dia sadar wajah Mary terlihat sangat berpura-pura.


“Tidak apa-apa, kita lupakan dan buka lembaran baru. Jenni juga harus minta maaf karena sudah kasar dengan bu Mary,” sahut Jennixia.


“Baiklah sayang tapi tolong jangan panggil Bu lagi ya, panggil Mama saja seperti Chester,” ucap Mary lagi sambil mengusap perlahan tangan Jennixia.


“Baiklah Ma,” jawab Jennixia mantab dan luluh karena usapan lembut Mary.


“Hum, Bu Jessi saya minta maaf karena telah banyak menyakiti anak anda,” Mary beralih kepada Jessi.


“Ya Bu, tidak apa-apa saya sudah maafin tapi saya juga harus meminta maaf karena telah menampar anda kemarin,” sahut Jessi dengan wajah berbinar.


“Ya Bu, kita lupakan saja hal yang sudah berlalu ya,” ucap Mary lagi.


Jessi mengangguk antusias dia merasa bersyukur karena bisa berbaikan dengan mertua Jennixia. Harapannya dia tidak ingin kejadian seperti kemarin berlaku lagi dan semuanya baik-baik saja.


Entah kenapa Mei yang memperhatikan gerak gerik Mary dia merasa curiga. Tapi Mei tidak ingin membuat kacau di momen bahagia Tuan dan Nonanya. Mei hanya akan memperhatikan lebih sikap Mary ke depannya.


Chester mengajak mereka semua duduk di ruang tengah untuk mengobrol. Jessi dan Mary terlihat begitu akrab mereka bercerita seakan melupakan Jennixia dan Chester yang juga berada di tempat itu.


Chester tidak berhenti tersenyum, dia menatap wajah Mary yang terlihat bahagia lalu menoleh ke arah Jennixia yang juga tersenyum melihat ke arah Mary dan Jessi.


“Sayang, syukurlah Mama telah sadar,” bisik Chester tepat di telinga Jennixia.


“Ya syukurlah,” sahut Jennixia lirih.


....


Brugghh!

__ADS_1


Alex terlihat mengamuk setelah mendengar laooran anak buahnya.


“Ck, cepat buat janji dengan Sean! Aku ingin menemuinya,” ucap Alex dengan nada emosi.


“Sial apa yang bajin*an itu rencanakan,” gumam Alex.


Sedangkan di sisi lain Sean sedang bertemu dengan pemimpin mafia Dragon Eyes, mereka membincangkan tentang kematian beberapa anak buahnya yang telah mati dan menghilang dalam penyerangan siang tadi.


Pemimpin Dragon Eyes sangat murka, kebenciannya makin bertambah terhadap Chester dan keinginan untuk menghancurkan Chester semakin kuat.


“Jadi apa rencana kau seterusnya Roy?” tanya Sean.


“Aku butuhkan kelemahannya dan akan menggunakan itu untuk menghancurkannya,” jawab Roy sang pemimpin Dragon Eyes.


“Hum ok, aku mengerti nanti aku kirim beberapa foto seorang wanita yang menjadi kelemahannya saat ini,” ucap Sean.


“Wanita? Sejak kapan Chester ada wanita?” tanya Roy karena dia juga tidak tahu tentang Jennixia.


“Woww kau ketinggalan cerita, dia membeli wanita yang seharusnya menjadi bagian dari klubku hehh kau pasti akan tertarik menurutku,” sahut Sean dengan senyum miring.


Roy meminta Sean mengirimkan cepat kepadanya tentang wanita yang menjadi kelemahan Chester. Rasa penasaran tentang wanita itu semakin tinggi karena dia juga merupakan seorang mafia yang jomblo seperti Chester sebelumnya.


“Pasti cantik jikalau Chester sampai tergila-gila padanya,” gumam Roy dalam hati.


Setelah pertemuan bersama Roy, Sean mendapat panggilan telepon dari asisten Alex dan memintanya untuk bertemu.


Beberapa menit kemudian, tibalah Alex di kafe tempat mereka sepakati bersama Sean. Alex memasuki kafe itu dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dalam kafe.


Seorang pelayan kafe mendekati Alex.


“Tuan Alex?” tanya pelayan itu.


“Ya benar,” jawab Alex.


“Mari ikuti saya, Tuan Sean ada di ruang VIP,” ucap pelayan itu lalu menunjukkan jalan kepada Alex.


Alex mengikuti langkah pelayan itu sehingga sampai di depan ruang VIP itu.


“Silakan Tuan,” ucap pelayan itu setelah mengetuk dan membukakan gorden ruangan VIP itu.


Alex mengangguk lalu memasuki tempat itu. Terlihat Sean telah duduk di sana sambil tersenyum.


“Hei, lama tidak bertemu Lex,” sapa Sean.


“Aku terlalu sibuk, maaf apa kabarmu?” sahut Alex dengan bertanya kabar.

__ADS_1


Sebelum Alex langsung ke intinya dia sempat berbasa basi dengan pertanyaan lain. Hingga dia rasa waktunya telah tepat barulah Alex menanyakan tujuan dia ingin bertemu.


“Sean, Arviy ada menemuimu?” tanya Alex dengan wajah serius.


“Ya kemarin, kamu sepertinya penasaran Lex,” jawab Sean menaikan sebelah alisnya.


“Anak buahku yang melaporkan,” ujar Alex. “Aku jadi sedikit penasaran karena kemarin saja aku bertemu dengannya lewat kamu,” lanjut Alex lagi.


“Hmm katanya kamu tidak bisa diharapkan dan orangmu juga sedikit lambat,” ucap Sean. “Dia mencari musuh Chester untuk menjatuhkannya,” lanjut Sean lagi.


“Jadi bagaimana sudah ketemu musuh Chester lagi?” tanya Alex dengan hati yang tiba-tiba saja berdebar.


“Sudah, Bad Devils dan Dragon Eyes tambahan lagi dengan aku sendiri,” sahut Sean dengan tersenyum miring.


“Kau sendiri? Maksudnya?” Alex dibuat bingung.


Sean menjelaskan kenapa dia ikut berpatisipasi dalam rencana Arviy karena dia ingin merebut kembali Jennixia setidaknya setelah Chester hancur.


Tangan Alex yang berada di bawah meja langsung saja mengepal, ingin sekali dia meninju Sean saat ini ketika Sean juga ingin merebut Jennixia.


“Aku tidak patut membiarkan mereka, aku harus bertemu Jennixia,” ucap Alex dalam hati.


Alex coba mengontrol raut wajahnya agar Sean tidak curiga dengan dirinya.


“Aku kayaknya harus mundur saja lagian dia sudah menemukan musuh yang tepat,” ucap Alex pada Sean.


“Kalau kau mau kita berlima bisa bekerjasama untuk menghancurkan Chester dan wilayahnya nanti kita bisa bagikan. Kalau aku hanya mau wanitanya saja,” tawar Sean.


“Hmm baiklah nanti infokan padaku saja,” sahut Alex.


Setelah selesai perbincangan itu, Sean pamit dulu karena harus mengawasi pekerjaan anak buahnya di klub miliknya.


Alex menatap kepergian dengan raut wajah memerah. Rahangnya mulai menegas.


Bughh!


Alex melepaskan satu pukulan di atas meja, entah kenapa Jennixia menjadi para incaran orang-orang jahat ini. Alex sendiri tidak mengerti. Besok dia berharap bisa berjumpa dengan Jennixia dan berharap Jennixia tidak menolak untuk bertemu dengannya.


Cuma masalahnya sekarang bagaimana dia harus berjumpa dengan Jennixia dan mungkin kehadirannya bisa memperburukkan kondisi Ibunya Jessi.


Alex belum mendapat kabar tentang Jennixia yang telah kembali ke mansion Chester karena dia menyuruh anak buahnya hanya memperhatikan gerak gerik Arviy.


Alex mengeluarkan foto lama Jennixia lalu tersenyum.


“Kakak akan menyelamatkanmu,”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2