Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 56 Penyesalan


__ADS_3

Jennixia kembali ke rumah lamanya, setelah memasuki rumahnya Jennixia dan Jessi begitu terperangah karena dalam rumah itu terlihat sangat berantakan.


Jennixia meneguk air liurnya, pecahan kaca di mana-mana. Pakaian berserakan di sofa dan atas lantai.


Jennixia menghela nafas panjang lalu menggulung lengan bajunya.


“Ibu, istirehat saja di kamar, biar Jenni dan Mei bereskan ini,” ucap Jennixia.


Awalnya Jessi menolak dia tetap hendak membantu Jennixia dan Mei tapi setelah semua jurus bujuk rayu Jennixia keluar akhirnya Jessi terpaksa masuk ke kamar dan beristirehat.


Jennixia meminta maaf pada Mei karena harus terlibat dalam keluarga tapi Mei sama sekali tidak mempermasalahkan karena memang dia merupakan pembantu pribadi Jennixia.


Jam sudah menunjukkan jam 2 sore, akhirnya Jennixia dan Mei selesai berkemas-kemas. Dan satu jam yang lalu Jessi meminta izin untuk memasakkan mereka makanan siang.


Edward yang masih setia berada di sana menemani Jessi untuk berbelanja makanan untuk dimasak. Lebih kurang 10 menit mereka berada di toko yang tidak jauh dari kawasan rumah Jennixia.


Kini Jessi juga telah selesai memasak makanan siang.


“Marilah kita makan dulu setelah itu baru istirehat,” ucap Jessi pada Jennixia dan Mei yang terlihat tepar di msofa ruang tamu.


Jennixia dan Mei bangun dan menuju ke arah meja makan. Dan Jessi mulai menyendokkan mereka nasi dan lauknya.


“Bu, Mei biar ambil sendiri,” ucap Mei.


“Duduk saja, biar Ibu yang buat,” sahut Jessi.


“Pak Edward makan dulu, setelah selesai makan baru pergi,” lanjut Jessi lagi yang melihay Edward sedang menjawab ponselnya.


“Terima kasih Bu,” ucap Edward seraya duduk di kursi bersebelahan dengan Mei.


“Selamat makan semua,” seru Jennixia dengan bahagianya.


Jennixia menunjukkan wajah bahagianya agar Jessi tidak khawatir dengan dirinya. Dalam hatinya dia merasa berdosa karena meninggalkan suaminya.


Tapi dia tidak punya pilihan lain, selagi mertuanya berada di mansion itu pasti banyak kejadian yang parah akan berlaku.


....


Alex telah mendengar kabar bahwa Jennixia sudah kembali ke rumahnya bersama Ibunya. Alex mulai terlihat khawatir karena dia yakin Arviy pasti akan mengambil kesempatan atas hal ini.


Oleh itu, dia harus segera bergerak dan bertemu dengan Jennixia. Alex mengambil jaketnya lalu keluar dari kantor dengan tujuan rumah yang pernah dia tinggal dulu.


Perjalanan menuju ke rumah itu cukup memakan 1 jam ditambah lagi dengan jalan yang terlihat macet.


Sekitar jam 3 sore Alex telah sampai di hadapan rumah itu. Dia keluar dari dalam mobilnya dan menuju ke arah teras rumah.


Baru saja hendak menekan bel rumah, pintu rumah telah terbuka dan wajah yang dia lihat adalah wajah Jennixia.


Alex sempat tidak percaya bahwa dia sedang berhadapan dengan Jennixia. Mata mereka beradu tapi tatapan pada anak mata Jennixia terlihat sungguh dingin dan datar.

__ADS_1


Edward memecah lamunan Alex.


“Maaf, Tuan cari siapa?” tanya Edward yang kebetulan tidak mengenali Alex.


Alex menatap Edward lalu mengalihkan kembali pandangannya pada Jennixia.


“Jen,” sapa Alex dengan wajah tersenyum.


Raut wajah Jennixia tidak berubah tetap saja menunjukkan wajah dingin dan datarnya.


“Anda siapa?” tanya Jennixia.


Alex mengerutkan dahinya, dia ingin mencapai puncak kepala Jennixia tapi Mei telah lebih dulu menarik Jennixia ke belakangnya dan Edward siap melindungi mereka.


“Tuan, Nona kami bertanya anda siapa? Apa mungkin anda salah alamat?” tanya Edward lagi karena dia bisa menghidu aroma tidak beres.


“Sa—ya...” ucapan Alex terhenti apabila Jessi keluar.


“Kau...” Jessi langsung jatuh pingsan karena kaget melihat kehadiran Alex.


Mujur saja Edward sempat menyambut Jessi sebelum terjatuh ke lantai. Wajah Alex terlihat cemas dia hendak membantu tetapi Jennixia telah bersuara.


“Kau lihat! Kehadiran kau memburukkan keadaan, sekarang pergi! Jangan pernah datang lagi,” teriak Jennixia kepada Alex.


Mei dan Edward saling berpandangan mereka terlihat bingung tetapi mereka coba tidak bertanya saat ini.


“Jen, aku...”


Alex terpaksa pergi dengan wajah yang ditekuk. Dia tidak menyangka Jennixia akan mengusirnya.


“Sebenci itu Jennixia padaku, dan Ibu...” gumamnya sambil mengamati pintu rumah yang telah kembali tertutup rapat.


Alex memasuki mobilnya dan melaju keluar dari perkarangan rumah. Tidak bisa dia sembunyinya rasa sedih dan menyesal atas perbuatannya masa lalu.


Alex melajukan mobilnya menuju pulang ke rumahnya, saat ini dia butuh istrinya untuk melepaskan semua rasa sedihnya dan rasa kacau yang membuncah di dadanya.


....


Chester telah memanggil dokter pribadinya untuk merawat Mary. Sudah hampir sejam yang lalu Mary telah siuman tapi raut wajahnya terlihat begitu menyedihkan, tatapan matanya kosong.


Chester mungkin bisa menebak pikiran Mary, tapi sudah berbagai cara Chester coba untuk mengajak Mary berbicara tapi hasilnya tetap sama.


Mary menatap kosong ke arah dinding, matanya terlihat berkaca-kaca, pikirannya sungguh kacau balau. Dia tidak menyangka suaminya masih saja menipunya.


Flashback On...


2 tahun ke belakang.


Mary melemparkan foto-foto Eild bersama wanita ke arah Eild yang sedang duduk minum kopi.

__ADS_1


“Apaan ini! Siapa wanita ini hah?” bentak Mary dengan raut wajah bengisnya.


Eild tampak gugup dia memilih salah satu foto itu dan mengamatinya. Eild coba menguras pikirannya untuk memberi alasan yang tepat.


“Inikan foto-foto model Chester, kebetulan Papa ada di sana dan Chester mengajak Papa barengan mereka,” Eild sengaja menjual Chester karena dia tahu Mary tidak mungkin untuk bertanyakan hal ini kepada Chester.


Karena Mary pikir ini adalah sumber uang mereka jadi dia tidak boleh menuding Chester sembarangan.


“Papa yakin hah?” tanya Mary lagi.


“Yakinlah Ma masa Papa mau bohong,” sahut Eild.


“Atau Mama curiga Papa selingkuh?” lanjut Eild lagi dengan kembali bertanya.


Mary menelisik wajah Eild, tidak ada gurat kebohongan tapi tetap saja Mary masih belum yakin.


“Siapa tahu Papa benar-benar selingkuh,” sahut Mary.


Eild mendekati Mary lalu mengecup dahinya.


“Papa tu sayang Mama seorang sehingga maut memisahkan,” gombal Eild dengan wajah nakalnya.


Setelah malam itu Mary memilih percaya kepada Eild tapi beberapa bulan kemudian terdapat wanita cantik mendatangi Eild dan menyuruhnya untuk bertanggungjawab atas dirinya dan anaknya.


Mary kembali dibuat murka, sehingga Eild harus membayar wanita itu untuk meninggalkannya. Mulai dari hari itu Mary berubah dingin dan tidak seperti biasanya.


Eild takut Mary memberitahu Chester dan menyuruh Chester meninggalkan dirinya karena dari kecil lagi Chester tidak pernah menyukai Eild biarpun Eild adalah Papa kandungnya.


Mungkin ini dinamakan firasat seorang anak. Eild berkali-kali membujuk Mary hingga dia tidak pernah keluar dari rumah selama 3 bulan untuk menyakinkan Mary bahwa dia akan berubah.


Eild mendekati Mary yang sedang duduk di sofa.


“Mama, kita keluar kencan yuk,” ajak Eild untuk merayu Mary.


Sebenarnya Mary sedikit terharu tapi dia masih sengaja memasang wajah cuek agar Eild bisa berubah.


“Sudah 3 bulan kejadian itu, dan dia sudah menunjukkan bahwa dia berubah dan tidak ke mana-mana berapa bulan ini, mungkin aku harus menerima ajakannya,” batin Mary.


Mary mengangguk dan mereka akhirnya baikan sehingga 2 tahun berlalu, Eild membawa Liana dan memperkenalkan kepada Mary.


Awalnya Mary mulai curiga tapi setelah Eild mengatakan ingin menjodohkan Chester dengan Liana, akhirnya rasa curiganya pun hilang.


Liana sering tidur di rumah mereka melayani mereka layaknya seperti anak mantu. Hal itu membuat Mary yakin untuk menjodohkan Liana dan Chester apalagi setelah tahu asal usul Liana yang merupakan anak konglomerat.


Mary kembali tergiur dengan hal berbaur harta, dia tidak akan melepaskan Liana dan memastikan Liana akan menjadi menantunya.


Flashback end...


Tapi semuanya kembali hancur karena kenyataan yang dia dapat, berarti selama 2 tahun ini Eild masih saja terus menipu dirinya.

__ADS_1


“Aku akan buat kau menyesal!” batin Mary.


Bersambung...


__ADS_2