Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 76 Mary sadar


__ADS_3

Chester kembali ke rumah sakit setelah hampir 2 jam berkeliling hinhha jarak yang sedikit jauh tapi tidak juga bertemu dengan Jennixia.


Chester menyuruh pengawalnya untuk melanjutkan pencarian karena dia juga masih memikirkan kondisi Mary.


Setelah sampai di ruang Mary, Chester melihat wajah sang Ibu yang masih belum sadar. Chester kembali duduk di sofa.


Dia mengacak-acakkan rambutnya. Tiba-tiba rasa stress memuncak di bagian hujung kepalanya.


“Jen kau ke mana, jangan bercandalah aku tidak tanpamu,” ucap Chester lirih. Sungguh egois diri Chester yang sebenarnya.


....


Eild mengizinkan Jennixia untuk tidur di tempat itu bersama Liana. Karena tadi Jennixia memberinya uang sebanyak 10 juta.


Tidak tega sebenarnya tapi Eild tidak mau ketahuan rasa kasihan pada Jennixia. Eild mengenggam uang tadi di tangannya.


“Chester, kau akan menyesal jika suatu saat wanita ini benar-benar meninggalkanmu,” ucap Eild lirih.


Eild belum tahu keadaan Mary saat ini. Karena Jennixia tidak enak hati ingin menceritakannya apalagi keadaan Liana yang sedang hamil.


.


.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan jam 6 pagi. Belum ada laporan baik tentang Jennixia dari para anak buah dan pengawalnya.

__ADS_1


Chester coba berpikir jernih dan menebak ke mana Jennixia akan pergi. Tidak mungkin dia akan kembali ke rumah Jessi sedangkan Jessi hari ini baru akan pulang ke rumah.


Chester mengacakkan terus rambutnya. Hingga tiba-tiba dia mengingat rekaman kejadian dalam toko pakaian sewaktu berada di mall.


Chester memanggil Nera untuk mencari tahu lebih lagi siapa pria dan wanita itu. Dia sebenarnya rasa familiar dengan wajah wanita itu tapi dia tidak ingat pernah bertemu di mana.


“Aku hanya perlu menunggu laporan,” ucap Chester sendiri karena tidak ingin terlalu pusing.


Tiba-tiba Chester mendengar suara bergerak dari arah ranjang Mary. Dia langsung menoleh dan matanya segera membulat.


Chester bangun dari duduknya lalu berjalan dengan cepat menuju ke arah ranjang Mary.


“Ma, mama sudah sadar,” ucap Chester antusias.


Chester segera menekan tombol untuk memanggil dokter yang berjaga. Selang berapa menit dokter memasuki kamar inap Mary dengan dua orang perawat yang mengikutnya.


Dokter memeriksa keadaan Mary yang terlihat hanya diam saja. Dia menghela nafas perlahan.


“Lakukan yang terbaik Dok, saya tidak mau Mama saya kenapa-kenapa,” jawab Chester.


“Untuk sekarang biarkan pasien istirehat dulu dan kalau boleh temani saja Mama anda Tuan. Coba mengajaknya mengobrol hal-hal positif saja,” Dokter memberi saran pada Chester.


“Baiklah akan saya coba,” sahut Chester.


Setelah selesai pemeriksaan dokter dan kedua perawat itu keluar meninggalkan Chester sendiri bersama Mary di dalam kamar inap itu.


Chester mengenggam tangan Mary.


“Ma, maafkan Chester karena bersikap terlalu keterlaluan terhadap Mama. Mama cepat sembuh ya, nanti kita jalan-jalan di taman dan di mall lagi dan Mama bisa belanja sepuasnya,”


Mary tidak menjawab, tatapannya terlihat kosong. Mungkin kecelakaan ini memang menimbulkan trauma berat bagi Mary.

__ADS_1


Chester terus duduk di samping Mary dan membawanya bercerita hal-hal yang membahagiakan.


“Ches masih ingat waktu Chester berumur 10 tahun waktu itu. Mama mengejar Chester dan Kak Chelsie dengan rotan di tangan karena Chester melempar ayam-ayam yang Mama pelihara,” Chester tertawa kecil.


Entah kenapa hatinya terasa sedih ketika mengingat zaman mereka masih kecil. Zaman di mana keluarga mereka hidup sederhana dan sang Mama tidak seperti saat ini.


Akan tetapi Chester tidak pernah mempermasalahkan tentang perubahan Mary. Walaupun sempat bertengkar hebat setelah kematian Kakak karena harta membutakan Mary.


Setelah Mary mengatakan dia menyesal hati Chester kembali luluh. Lagian sebelum Chester menjadi orang kaya yang sukses memang kehidupan mereka susah makanya wajar saja baginya jika Mary sedikit menggilai harta.


Sebenarnya kalau dipikirkan cara Chester ada benarnya juga tapi saat ini Mary sudah bukan sedikit menggilai harta tapi menggilai harta dengan keterlaluan hingga membawa kehancuran dalam rumahtangga dan keluarganya.


Chester belum menyadari hal itu tapi percayalah di saat Jennixia benar-benar memilih pergi, penyesalan akan selalu datang dari belakang begitu juga dengan kesadaran.


....


Saat ini Jennixia telah berada di dalam kamar tamu di rumah Alex. Jennixia coba melelapkan matanya tapi dia tidak bisa tertidur. Dja terus memikirkan Chester, dia tidak menyangka Chester tidak mengejarnya dan menghentikan langkahnya setelah keluar dari kamar inap Mary.


Hampir saja dia tidur di pondok yang terbuka, mujur saja Alex datang menjemputnya. Walaupun dengan terpaksa mengikuti Alex karena Jennixia sebenarnya takut untuk tidur di pondok dekat taman yang terlihat menyeramkan.


Jennixia duduk di pinggir ranjang. Dia menatap ke sekitar ruang kamar tamu itu.


“Mungkin aku harus dengar penjelasan Alex dan tapi aku takut Chester menemui Ibu pasti Ibu khawatir,” ucap Jennixia lirih.


Sebenarnya Jennixia sadar akan tatapan tulus dan rasa bersalah yang ada di netra mata Alex tapi entah kenapa hatinya masih merasa sakit mengingat kejadian dulu.


Mungkin Jennixia harus mencoba memaafkan Alex, tapi dia sendiri bingung harus bagaimana.


“Tapi aku harus bagaimana,” ucap Jennixia lagi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2