
Jennixia sudah mulai khawatir, dia kembali memasuki kamar itu dan menutup pintunya. Jennixia mencari tasnya tapi dia tidak temui karena memang Chester melepaskan tas Jennixia tadi di sofa ruang kantornya.
Mata Jennixia berkaca-kaca dia mulai teringat dengan pujukan Chester, menyesal dia mengacuhkan Chester tadi pagi.
"Aarrghh pasti dia tidak tau kalau aku diculik hisk hisk.." Gumam Jennixia.
Suara tangisan Jennixia makin kuat karena ketakutan dan tiba-tiba seseorang membuka pintu lalu berlari ke arahnya. Pandangan mata Jennixia yang terlihat buram karena air mata memenuhi pelupuk matanya
"Jen, kamu kenapa?"
Suara familiar terdengar ditelinga Jennixia dia menggosok-gosok matanya lalu menatap Chester.
"Pasti ini cuma bayang-bayang saja huaaaaa." Tangisan Jennixia makin kencang setelah melihat wajah Chester.
Chester yang kebingunan dengan ucapan Jennixia pun mengusap perlahan puncak kepala Jennixia.
"Jen ini aku, suamimu." Ucap Chester lembut.
"Hisk hisk mana mungkin kau suamiku aku sedang diculik hisk hisk." Jennixia terisak-isak masih tidak percaya.
Chester menggelengkan kepalanya. Dengan sabar dia memeluk Jennixia. Dan setelah itu Jennixia terdiam lalu mendongakkan kepalanya melihat Chester.
"Bukan bayangan? Ehm." Gumamnya dan seperti biasa jurus untuk menyakinkan dirinya adalah dengan mencubit lengan Chester.
"Akkkhhh." pekik Chester yang terasa sakit dengan cubitan Jennixia.
Wajah Jennixia berbinar setelah dia memastikan bukan bayangan saja, dia membalas pelukan Chester dengan erat, seketika dia lupa bahwa dia masih lagi kesal dengan Chester.
Sekitar 30 detik Jennixia dan Chester saling berpelukan. Sehingga Jennixia melepaskan tangannya dan kembali ke mode kesalnya.
"Ini kantormu?" tanya Jennixia dengan nada dingin.
"Iya ini kantorku, ehh bukan kantor kita sayang." Sahut Chester dengan ucapan ingin menggombal istri kecilnya itu.
Jennixia menatap malas ke arah Chester walaupun dalam hatinya begitu senang karena ucapan Chester berhasil membuatnya berbunga-bunga.
"Sebentar kita jalan-jalan dulu ya." Ajak Chester dengan tersenyum penuh berharap.
Jennixia yang ingin mengiyakan kembali diurungkannya karena masih ingin dalam mode kesal.
"Aku pengen pulang."
Wajah Chester berubah sedih, dia menatap raut wajah Jennixia yang sedang kesal.
"Kita jalan-jalan baru nanti kita pulang ya." Chester masih coba membujuk Jennixia.
"Nanti Mamamu bilang aku wanita yang mempergunakanmu saja." Ketus Jennixia.
"Biar aku yang mengurusi hal itu, kamu mau ya." Bujuk Chester lagi.
__ADS_1
Mau tidak mau Jennixia terpaksa mengikuti Chester, karena dia juga malas mau pulang ke mansion bertemu dengan para lansia dan wanita gunung gede itu.
Sore hingga jam 10 malam Chester meluangkan waktu bersama Jennixia, walaupun Jennixia masih terlihat cuek dan dingin Chester tetap penuh sabar.
Setelah sampai di mansion, Jennixia yang sudah tertidur selama perjalanan pulang pun digendong oleh Chester memasuki mansion.
Orangtuanya tergesa-gesa mendekati Chester begitu Liana yang memperlihatkan wajah irinya terhadap Jennixia.
"Ches, ke mana kamu malam-malam begini baru pulang?" tanya Mary sambil menatap sinis Jennixia yang berada dalam gendongan Chester.
"Lagi luangkan waktu bersama istri." Jawab Chester lalu meneruskan langkahnya menuju ke lift untuk naik ke kamarnya.
"Ck, wanita itu lagi-lagi buat hal Ma." Ucap Eild dengan dingin.
"Aku tidak akan biarkan wanita itu lama-lama di sini tunggu saja besok aku akan mengusirnya." Sahut Mary dengan marah.
"Lia, kamu jangan risau. Pasti wanita itu akan pergi dari sini, serahkan semua pada tante," lanjut Mary lagi.
Liana mengangguk dan mereka pun bubar kembali masuk ke kamar tidur masing-masing.
.
.
.
.
.
Jennixia menatap wajah Chester yang terlihat tenang di saat tidur.
"Kalau suatu saat kau meninggalkanku aku lebih memilih mati daripada Ayah tiriku menjualku lagi." Ucapnya perlahan.
Setelah mengucapkan kata yang menyedihkan itu, Chester langsung membuka matanya dan menatap Jennixia dengan tatapan sulit diartikan.
"Kau tidak akan melepaskanmu sekalipun kiamat mendatang." Ucap Chester dengan suara khas baru bangun tidurnya.
Chester makin mengeratkan pelukannya dan dibalas oleh Jennixia.
"Jen, pengen itu..." Chester memberi kode menginginkan gunung berkembar Jennixia.
Jennixia yang sudah mengerti langsung saja menarik ke atas bajunya dan membiarkan Chester mengeksekusi gunungnya seperti biasa.
Semakin hari memang ukuran gunung Jennixia semakin membesar walaupun tidak sebesar semangka tapi lumayanlah untuk digemas-gemas oleh Chester.
...
Jennixia harus mengikuti sarapan pagi bersama kedua orangtua Chester dan Liana. Awalnya berasa kesal tetapi ide membuat mereka iri terlintas di pikiran Jennixia.
__ADS_1
Jennixia berdiri dari duduknya dan berdiri di samping Chester. Chester yang terlihat bingung pun langsung saja menatapnya.
"Kenapa sayang?" tanya Chester.
Telinga Liana memanas dan wajahnya memerah mendengar Chester memanggil Jennixia dengan kata sayang. Dia mengepalkan kedua tangannya.
"Pengen duduk dipangkuanmu, bokongku sakit duduk dikursi ini." Jawab Jennixia.
Chester langsung saja tersenyum dan menarik perlahan Jennixia untuk menduduki pahanya. Jennixia yang bertubuh mungil ini tidak mempersulitkan Chester.
"Sekalian aku suap ya." Ucap Chester mengabaikan Liana dan kedua orangtuanya yang berada di situ.
Jennixia mengangguk lalu menatap sinis ke arah mereka bertiga yang merasa tidak puas hati.
Hati Chester berbunga-bunga karena Jennixia sudah tidak mencueki dirinya. Dengan telaten dia menyuap sarapan Jennixia hingga tandas.
Mary yang terlihat tidak bisa menahan amarah pun langsung saja bersuara.
"Ekhem, Ches orangtua Liana telah menanyakan tanggalnya kalau kau belum pikirkan biar Mama dan Papa yang tentukan."
Jennixia sempat tertunduk dan Mary tersenyum kemenangan karena berhasil membuat Jennixia sadar dengan posisinya tapi senyumannya tidak bertahan apabila Jennixia mengangkat wajahnya dan tersenyum kepadanya.
"Cup!!"
Jennixia menautkan bibirnya dibibir Chester membuat mereka melotot dengan tindakan Jennixia.
Chester yang ikut kaget tadinya akhirnya membalas tautan bibir Jennixia dengan ******** lembut. Chester tahu ini adalah cara Jennixia membuat mereka semakin berapi-api terutamanya Liana.
Chester yang semakin menguasai tautan bibir mereka dengan intens itu tanpa sadar tangan kanannya memegang gunung berkembar Jennixia.
Bughh..
Tautan bibir mereka terlepas karena kaget bunyi hentakan meja itu, dan Chester dan Jennixia segera melihat ke arah bunyi yang di buat oleh Liana ternyata.
Dengan wajah merah padam, Liana menatap tajam ke arah Jennixia lalu meninggalkan meja makan itu dan berlari memasuki kamarnya.
"Kamu wanita perusak!" bentak Mary lalu menyusuli Liana ke kamarnya.
Eild yang berwajah murka menatap tajam ke arah Jennixia.
"Sampai calon menantuku kenapa-kenapa awas kamu." Ancam Eild.
Jennixia tidak menanggapi mereka, dia menatap datar dengan kepergian mereka bertiga.
"Kau berhasil, terima kasih sayang." Bisik Chester di telinga Jennixia.
"Pasti mereka tambah membenciku ehm tapi aku tidak peduli karna aku sudah pikir aku akan bertahan apa yang sudah menjadi milikku." Sahut Jennixia mantab.
Chester mengeratkan pelukannya, Jennixia telah membina mentalnya sendiri kini dia tidak perlu terlalu khawatir hanya saja dia masih takut jikalau orangtuanya kembali melukai Jennixia di saat dia tidak berada di mansion.
__ADS_1
Bersambung...