Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 21


__ADS_3

Rasmi belum siap menjadi istri seutuhnya untuk Ersam Arsenio Dewantara. Ersam sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut, lagian dia sangat mengerti karena kondisi Rasmi yang masih baru kehilangan suami pertamanya bahkan belum cukup enam bulan.


"Maafkan aku Abang, aku belum siap untuk memenuhi tanggung jawab aku sebagai istri Abang," batinnya Rasmi yang melihat punggung suaminya yang melenggang pergi dari depan pintu kamarnya menuju salah satu kamar tidur yang kosong.


Dia terus memandangi kartu nama itu yang dominan biru putih tersebut seraya mengeja satu persatu huruf nama dari perusahaan tersebut.


"Apa aku besok ke sana saja sempat aku keterima jadi karyawannya, lagian Ridah juga bekerja di sana, aku akan meminta ijin kepada Abang Ersam semoga dia mengijinkan aku untuk bekerja," cicitnya lalu perlahan kelopak mata indahnya dengan bulu mata yang cukup panjang dan lentik itu tertutup.


Keesokan harinya, Rasmi pagi-pagi sekali menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga. Rasmi juga berniat untuk meminta ijin mencari pekerjaan.


"Semoga saja Abang Ersam mengijinkan aku untuk bekerja, aku bosan juga setiap hari tidak punya rutinitas yang pasti," gumamnya Rasmi seraya mengaduk nasi goreng seafood buatannya sendiri.


Sudah pukul setengah delapan, semua orang sudah berada di dalam dapur siap untuk menikmati masakan yang begitu lezat dan menggugah selera makan kedua pria ganteng dengan kharisma mereka masing-masing.


Erga menatap makanan itu dengan kedua matanya yang berbinar cerah seperti anak kecil saja, "Sepertinya masakan kakak ipar nikmatnya tidak ada duanya deh," pujinya Erga Prayoga Albert.

__ADS_1


Rasmi yang mendengar pujian dari adik iparnya itu tersenyum simpul," terima kasih,tapi jangan terlalu memuji dulu sebelum rasanya dicicipi," tukasnya Rasmi yang menyediakan teh hangat dalam poci beserta gelasnya.


"Tidak perlu merendah gitu, karena saya itu paling jeli kalau liat makanan yang dari tampilannya saja sudah menggugah selera makan apa lagi rasanya yang pasti tidak kalah jauh beda, iay kan Abang?" Erga menatap ke arah Ersam yang sedari tadi diam-diam memperhatikan Rasmi.


Ersam tersentak terkejut mendengar perkataan dari mulut adik angkatnya itu," a-nu i-tu benar sekali," ucapnya Ersam yang gagap karena kaget sekaligus malu karena ketahuan diam-diam mengagumi istrinya sendiri.


Erga tersenyum penuh kemenangan melihat tampang lucunya Ersam pria yang dicap tak berguna itu hanya taunya minum minuman alkohol dan menghabiskan masa mudanya di beberapa bar dan club malam,tapi kenyataannya sudah berhasil membangun beberapa cabang perusahaannya sendiri tanpa sepengetahuan papa dan kakaknya.


"Apa aku bilang kalau Abang yang sudah mengatakan masakan kamu enak pasti hasilnya enak," tampiknya Erga sambil mengunyah makanannya yang baru saja melayang masuk kedalam mulutnya itu yang tidak bisa diam untuk mengoceh.


Ersam menatap tajam ke arah Erga, sedangkan yang ditatap malah sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun sudah menjadi penggangu dari pengantin baru tersebut. Erga hanya tersenyum smirk menanggapi tatapan dari orang yang sudah membantunya sejak mereka masih berumur lima belas tahun.


"Kenapa, aku mau ngomong dengan Abang Ersam seperti rasanya grogi dan segan padahal sebelum kami nikah perasaan seperti ini tidak pernah ada," batinnya Rasmi Wulandari seraya mengaduk-aduk sisa makanannya yang ada di atas piring kosong yang hanya tersisa beberapa butir nasi saja.


Ersam memberikan kode kepada Erga untuk segera pergi dari sana karena sepertinya dia melihat ada raut wajah kegelisahan yang dirasakan oleh istrinya itu dan sedikit ragu untuk mengatakan apa yang dia rasakan.

__ADS_1


Erga yang ditatap seperti itu segera mengerti dan berpamitan untuk kembali ke dalam kamarnya," Abang,kakak ipar aku harus masuk ke dalam kamar dulu mau siap-siap berangkat kerja soalnya, makasih banyak atas sarapannya, semoga lain waktu aku masih bisa menikmati makanan buatan tangannya kakak ipar," tuturnya Erga yang segera cabut dari tempat duduknya itu karena tidak ingin menggangu kedua pasangan suami istri tersebut sambil mengambil secangkir teh hangat dengan pisang goreng yang disediakan oleh Rasmi khusus untuk mereka.


"Sepertinya ada yang mengganjal pikiranmu,katakan saja pada Abang sempat Abang bisa bantu," imbuhnya Ersam sembari menyesap tehnya itu.


Rasmi menatap ke dalam kedua bola mata suaminya itu tanpa berkedip sedikitpun," saya ingin meminta ijin sama Mas eehh Abang untuk mencari pekerjaan, apa saya boleh bekerja di luar?" tanyanya Rasmi yang sedikit merasakan keraguan dan kecemasan jika suaminya itu menolak mentah-mentah permintaannya.


Ersam terdiam karena masih menikmati minumannya itu," silahkan bekerja apapun yang kamu inginkan, asalkan kamu tidak melupakan kewajiban kamu sebagai istrinya Ersam Arsenio Dewantara," timpalnya Ersam.


Mimik wajahnya Rasmi seketika berubah dari cemas menjadi bahagia seketika itu. Tanpa ragu langsung menggenggam tangan Ersam dengan penuh suka cita.


"Makasih banyak Abang, insya Allah aku tidak akan kecewakan Abang dan juga pasti tidak akan melupakan kewajiban aku sebagai istrinya Abang asalkan untuk sementara jangan minta yang itu dulu Abang," ujarnya Rasmi yang refleks menundukkan kepalanya seketika selesai berbicara.


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya yah! mampir juga dinovel aku yang judulnya:


Majikan Ayah Dari Anakku

__ADS_1


Rindu Bintang Kejora


Makasih banyak all readers..


__ADS_2