Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 32


__ADS_3

"Kalau begitu silahkan tinggalkan kami di sini karena aku masih ada urusan pekerjaan dengan Rasmi agar pekerjaan dihari pertamanya bekerja tidak terdapat kesalahan sedikit pun," terangnya Erga dengan tatapan dinginnya ke arah Mety.


"Baik Pak,"


Erga pun mulai menjelaskan lebih detail lagi tugasnya Rasmi tanpa memberikan kesempatan dan waktu kepada Rasmi tentang siapa dan Ersam bekerja dimana.


Rasmi sama sekali tidak punya kesempatan untuk berbincang-bincang santai dengan Erga sahabat baik sekaligus adik angkatnya Ersam Arsenio Dewantara suaminya.


"Selamat Anda diterima bekerja di perusahaan kami dan Anda akan bekerja sebagai sekretarisnya CEO perusahaan kami mulai besok jadi saya harap Anda besok datang tepat waktu kalau perlu datanglah sebelum jam kerja dimulai untuk mengindari keterlambatan Anda," imbuhnya Erga Prayoga Yudistira.


"Terima kasih banyak Pak Erga, syukur Alhamdulillah saya diterima bekerja di perusahaan Bapak," timpalnya Rasmi Wulandari Nasution.


Rasmi sebenarnya ingin bertanya sesuatu tapi, baru saja ingin membuka suaranya untuk bertanya Erga segera menghentikan usahanya.


"Selanjutnya!" Teriaknya Erga karena sangat tahu apa yang akan dikatakan oleh Rasmi jadi terpaksa dengan cara seperti itu menghentikan upayanya kakak iparnya untuk bertanya.


Rasmi tersenyum simpul saja ke arahnya Erga lalu berjalan ke arah luar. Dia hendak merayakan keberhasilannya itu dengan Ridah sahabatnya tapi, Ridah Khaerani Azizah sudah dua hari balik ke kampung halamannya.


"Sayang sekali Ridah pulkam padahal aku rencananya mau traktir dia makan sabu-sabu di restoran favoritku," cicitnya yang masih mampu didengar oleh orang lain yang kebetulan berjalan di belakangnya sedari tadi mengikuti langkah kakinya itu.


"Kalau temannya enggak ada mungkin Mbak bisa traktir saya makan," gurau pria yang sudah berdiri di sampingnya Rasmi.


Rasmi menatap lekat pria itu dan berusaha untuk mengingat siapa pria tersebut.


"Mungkin kamu sudah lupa dengan saya, tapi saya tidak mungkin melupakan Anda Mbak cantik," tukasnya pria itu dengan memperlihatkan senyuman lebarnya.


"Apa Anda pria beberapa hari lalu yang tak sengaja menjatuhkan tumpukan buku ke atas punggung kakiku kan?" Tebaknya Rasmi yang masih menghafal dan mengingat dengan jelas pria itu.


Pria itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu," Hehe maaf gara-gara saya kamu harus menderita, sebagai permintaan maafku gimana kalau saya traktir kamu makan kamu pilih resto yang kamu suka,aku yang akan bayar," terangnya pria itu.


Rasmi terdiam sesaat jiwa matrenya mulai keluar lagi, Rasmi terdiam sesaat sebelum memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari pria itu.


"Oke kalau gitu,tapi ngomong-ngomong kita sudah bicara panjang lebar tapi, aku belum tahu namanya Anda siapa," ujarnya Rasmi.


Pria itu mengulurkan tangannya ke depannya Rasmi," Herdiansyah Hutapea,"


Rasmi menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, "Rasmi Wulandari Na… Arsenio," ujar Rasmi yang sedikit tergagap ketika akan menyebut nama paling belakangnya karena bingung mau sebut nama ayahnya atau suaminya sendiri.


"Kok nama belakangnya sama dengan CEO kita yah Arsenio?"

__ADS_1


Herdi hanya tersenyum tipis menanggapi sikapnya Rasmi, mereka kemudian berjalan beriringan menuju basemen parkiran sembari bercakap-cakap santai.


"Kamu baru di sini yah?" Tanyanya Herdi yang mulai penasaran dengan Rasmi perempuan yang sudah mampu menarik perhatiannya sejak pertama kali mereka bertemu dulu.


Rasmi tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari Herdy," iya Pak saya baru disini kebetulan tadi baru ikut tesnya penerimaan karyawan baru," jelas Rasmi.


"Kamu diterima kan?" Tanyanya balik Herdy.


"Alhamdulillah, keterima Pak," jawab Rasmi singkat.


"Jangan panggil bapak dong aku masih muda juga," sanggahnya Herdy.


Rasmi menatap ke arah Herdy," jadi aku panggil siapa dong karena aku yakin Anda atasan saya disini," kilahnya Rasmi yang semakin nyambung arah pembicaraan keduanya hingga tanpa mereka sadari jika ada sepasang mata elang yang tajam memperhatikan gerak-gerik keduanya.


"Panggil saja Herdy, tidak pakai embel Bapak oke," ucapnya Herdy yang langsung berhenti ketika Rasmi sudah sampai di depan motornya.


"Kok berhenti?" Tanyanya Herdi yang keheranan kenapa Rasmi berhenti di parkiran motor karena sesuai dengan pikirannya dan dugaannya Rasmi memakai mobil ke perusahaan sesuai dengan apa yang dipakai oleh Rasmi mulai dari hijab hingga sepatunya semuanya barang bermerk dengan harga yang cukup mahal tentunya.


"Aku naik motor ke kantor Pak,"


"Oh gitu,kalau gitu kita ketemu di Resto yang ada di ujung jalan depan nama restoran Korean Food Court," terang Herdy.


Brak….!!


Pintu itu di banting dengan cukup kuat hingga menimbulkan suara.


Prang!!


Suara vas bunga itu sudah hancur menghantam tembok besar tersebut.


"Aahh!! Brengsek beraninya menggoda istriku di depan mataku!!" Geramnya Ersam Arsenio Dewantara yang baru saja datang menginjakkan kakinya.


Sedangkan di dalam ruangan pribadi yang cukup besar. Seseorang meluapkan amarahnya saking jengkelnya melihat istrinya berjalan bareng beriringan dengan seorang kepala menejer pemasaran perusahaannya sendiri.


Rencana awalnya Ersam akan berangkat langsung ke perusahaan papanya tapi, ia mendapatkan informasi dari Erga jika Rasmi salah satu orang yang mencari pekerjaan di perusahaannya dan sekaligus sudah diterima sebagai sekretarisnya sendiri.


Karena sebab itu lah,dia lebih memilih untuk ke perusahaannya dari pada berangkat ke tempat lain. Amarah dan emosinya belum stabil gara-gara ulah ibu tiri dan papanya yang menjodohkannya dengan perempuan lain yang membuatnya pusing sekarang ditambah dengan permasalahan istrinya saat ini.


Erga yang kebetulan akan membawa beberapa berkas ke dalam ruangannya Ersam tanpa sengaja melihat kondisi abangnya yang kacau itu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Kenapa Abang?" Perkataannya terhenti setelah melihat genggaman tangannya Ersam bagian kiri mengeluarkan darah segar yang cukup banyak.


Erga segera menelpon nomor hpnya Mety untuk menyuruh officer boys untuk membersihkan kekacauan yang diciptakan oleh Ersam dan juga memanggil dokter perusahaan untuk segera datang.


Ersam segera ditangani oleh dokter Fatma salah satu dokter yang bekerja di klinik perusahaannya. Dokter Fatma diam-diam menyukai Ersam.


"Apa yang terjadi Pak Erga?" tanyanya Dokter Fatma.


"Cepat obati saja tanganku Anda tidak perlu banyak tanya!" ketusnya Ersam.


Dok Fatma segera duduk di hadapan Ersam seraya membuka perlengkapan medisnya itu. Dengan hati-hati dan telaten ia mengobati lukanya Ersam.


"Tahan sedikit yah pak mungkin akan terasa sakit dan perih," tuturnya Dok Fatma.


"Tidak perlu banyak bicara lanjutkan saja pekerjaanmu," bentaknya Ersam Ersam.


Fatma sedikit kecewa dan sedih dibentak seperti itu. Tetapi karena, Fatma menyukai Ersam sehingga ia lebih memilih diam dari sabar.


Erga memperhatikan dengan seksama perubahan raut wajahnya Ersam dan juga Fatma secara bergantian, "Apa yang terjadi padanya kenapa ia sekacau ini, apa aku melewatkan sesuatu yang sangat penting sepertinya," gumam Erga.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam salah satu Restoran Korea ternama, Rasmi dan Herdy sedang menikmati acara makan siang bareng mereka.


"Ya Allah... ini tidak baik aku seharusnya tahu lebih dulu jika Pak Herdy menyewa ruangan khusus seperti ini," batinnya Rasmi yang mulai gelisah dan cemas juga jika apa yang dipilih dan dilakukannya menimbulkan fitnah mengingat dia perempuan yang sudah bersuami.


Rasmi sedikit canggung dan merasa tidak enak karena Herdy memilih ruangan privat sehingga hanya mereka berdua saja yang berada di dalam ruangan tersebut. Herdy malah tidak tahu dengan situasi yang dialami oleh Rasmi. Herdy mengira jika Rasmi adalah wanita single yang belum menikah.


Hingga nada dering hpnya Rasmi mampu memecahkan ketakutannya itu dan bisa tersenyum lebar karena ada seseorang yang menelponnya.


"Telpon yang tepat,"


Rasmi menatap ke arah Herdy yang sedang memasukkan beberapa potong daging mentah ke dalam panci khusus.


"Maaf Pak saya keluar untuk terima telpon dulu yah," pintanya yang berpamitan kepada Herdy.


Tanpa menunggu jawaban dari Herrdy, Rasmi sudah ngacir ke arah luar.


"Siapa yah yang nelpon pakai nomor baru segala lagi,"


Rasmi sedikit menjauh dari tempatnya semula untuk menerima panggilan dari seseorang yang belum diketahuinya siapa orang itu.

__ADS_1


Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...


__ADS_2