Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 64


__ADS_3

Rasmi menepuk lembut lengan suaminya itu. Dengan senyuman yang sedari tadi mengembang di sudut bibirnya Ersam dan Rasmi.


Rasmi segera menata makanan yang dia sudah persiapkan sedari tadi. Nasi yang dipesan olehnya pun sudah berada di atas meja. Ada ayam geprek, lalapan sayur kacang panjang, kol, mentimun serta sayur sop pelengkapnya dan tidak lupa tempe dan tahu goreng mendoang sudah tersaji dan tertata rapi di atas meja yang masih hangat itu.


Ersam berbisik di telinganya Ersam," kamu semakin lihai membuatku takjuv dan tak berdaya dengan perlakuanmu ini,"


Rasmi segera menarik tangannya Ersam untuk masuk ke dalam ruangan pribadi suaminya itu.


Rasmi membalas bisikan suaminya itu," apa Abang sudah puas untuk memperlihatkan kepada sekretarisnya Abang yang berpakaian seksi seperti wanita penghibur itu?"


"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini juga sayang, Abang bisa makan di kafe kok," ujarnya Ersam.


"Kenapa harus makan di kafe sedangkan aku masih sanggup masakin Abang, apa Abang pengen makan masakan dari wanita lain sehingga tidak mengijinkan aku masak!" Ketusnya Rasmi yang langsung menghentikan langkahnya ingin mengambil piring untuk suaminya itu.


Rasmi segera meraih tasnya lalu hendak pergi dari hadapan suaminya itu. Tapi, Ersam buru-buru untuk menarik dengan kuat tangannya Rasmi. Hingga Rasmi tidak bisa pergi dari sana malahan dia tertarik hingga tubuhnya tidak seimbang dengan terjatuh di atas pangkuannya Ersam Arsenio Dewantara sang calon papa muda itu.

__ADS_1


"Ya Allah… kenapa yah Ibu hamil itu rada-rada sensitif gimana gitu! Padahal saya itu cuma canda kok kenapa meski dimasukin dihati,"


Rasmi memalingkan wajahnya ketika akan mengecup bibir Rasmi, Ersam yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum menanggapi sikap dari istrinya itu.


"Turunkan aku bang, saya mau pulang daripada kehadiranku disini enggak diharapkan," tuturnya Rasmi yang berusaha berontak dari atas pangkuannya Ersam.


Ersam malah mengeratkan pelukannya itu dan ia juga menggendong Rasmi ke dalam ruangan khusus untuk beristirahat sejenak dari rutinitas padatnya sehari-hari. Tubuh Rasmi diturunkan dengan perlahan, Ersam mulai membuka dasinya dengan jasnya lalu dilempar ke sembarang arah. Rasmi melihat suaminya itu dengan tatapan matanya yang buas seperti seorang singa yang siap menerkam mangsanya yang sudah kelaparan.


Rasmi dengan berat hati harus kembali memenuhi keinginan suaminya itu. Ersam tersenyum penuh kemenangan karena, Rasmi sama sekali tidak melakukan perlawanan sehingga dengan leluasa ia mengekspansi tubuh istrinya di siang hari bolong itu.


"Pak Ersam sudah pasti menjaga jarak dariku, berarti kesempatanku hanya pada pak Erga Prayoga Yudistira saja, ikan ini juga cukup lumayan besar harus masuk ke dalam perangkapku dan kalau tidak salah sebentar pak Erga akan tinggal di perusahaan untuk lembur sedangkan Pak Ersam pasti pulang dengan istrinya ini saat yang tepat untuk menjalankan aksiku, tapi aku harus berkerja sama dengan pihak keamanan, tapi ngomong-ngomong yang jaga ini malam siapa aku harus cari tahu dan bekerja sama dengannya," batinnya Methy Putri Meutia Hatta dengan senyum liciknya.


Methy segera berjalan ke arah lift dan berencana menemui Marco Reus pria yang berjaga sip sore hingga malam. Methy meminta ijin untuk keluar sebentar dan berencana akan memulai melancarkan aksinya itu.


Methy sedang sibuk mencari cara untuk menggaet Erga sedangkan di dalam ruangan rahasia, Ersam dan Rasmi saling bertukar rasa untuk kebahagiaan pasangannya masing-masing.

__ADS_1


Suara riiin tiiii haaaan dan deee saaa Hasan dari kedua bibir pasangan suami istri memenuhi ruangan yang lebih mirip hotel bintang lima serta dengan berbagai fasilitas penunjangnya.


"Ijinkan aku untuk menjenguk calon putraku," pemintanya Ersam sebelum mee naan caaap kan si jago di dalam sangkarnya itu.


Peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya keduanya walaupun suhu AC pendingin ruangan tersebut sangat dingin tapi, tidak mampu meredam rasa panas dari apa yang ditimbulkan oleh gesekan dari keduanya itu.


Methy bertemu dengan Marco Reus di salah satu kafe tidak jauh dari perusahaan diwaktu jam istirahat. Methy tertawa renyah bahagia karena, rencananya sudah ia bayangkan akan berjalan dengan sempurna.


"Berarti kamu sejak awal bekerja di sini kau sudah tertarik pada Mbak Ridah Khaerani Azizah Wijaya?" Tanyanya Netty dengan sesekali menyeruput secangkir kopi susu yang sudah dia pesan.


"Iya benar sekali, tapi aku selalu ditolak mentah-mentah olehnya, jadi dengan rencana kerjasama kita ini saya bisa menikmatinya malam ini," ucapnya Marco dengan tatapan sinisnya itu.


"Oke kita sepakat untuk bekerjasama dan ini yang harus kamu berikan di dalam minumannya, usahakan jangan sampai ketahuan dari orang lain karena, malam ini adalah malam yang paling bagus dan tepat untuk kita beraksi, semoga rencana kita berdua berhasil dan Ingat ruangan yang rencananya kita pakai itu harus kamu jaga dan tidak boleh ada orang yang masuk ke sana," ujarnya Methy dengan melirik sekilas ke sekelilingnya ketika memberikan sebotol obat ke dalam tangannya Marco.


"Oke, siap dan ingat chat aku sebelum beraksi agar kita barengan bekerja,"

__ADS_1


"Ok!" Jawab singkat Metty lalu bangkit dari duduknya karena ia tidak ingin ada yang curiga pertemuannya dengan Marco ketahuan dan terendus oleh pihak lain.


__ADS_2