Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 54


__ADS_3

Rasmi sebenarnya masih ragu dengan kasih sayang yang ditujukkan oleh Ersam Arsenio Dewantara untuknya.


"Sejak kita masih sekolah aku sudah diam-diam suka padamu, walaupun kita satu kelas dulu tapi, aku tidak punya keberanian untuk mengatakan cintaku padamu,"


"Masya Allah… mulia banget hatinya istriku ini,kalau seperti ini aku sangat bahagia mendengar perkataan dari kamu sayang, dan aku tidak salah menikahimu dan menjadikan kamu sebagai pendamping hidup dan calon dari ibu anak-anakku."


"Tapi, Abang apa benar Abang mencintai saya dengan tulus karena kenapa banyak orang yang merasa Abang hanya kasihan padaku, sehingga rela menikahiku dalam keadaan seorang janda dengan berbagai macam spekulasi apapun itu," terang Rasmi dengan penuh kelembutan.


Rasmi tercengang mendengar perkataan dari mulut suaminya itu,"berarti kita sama, aku juga sejak masih sekolah sudah mulai sayang sama Abang hanya saja aku merasa minder dan tidak percaya diri untuk mengatakan pada Abang, sehingga rasa cintaku pada Abang aku tutupi rapat-rapat dengan menjalin persahabatan dengan Abang," ungkap Rasmi Wulandari Nasution.


Ersam dibuat terkejut dengan kejujuran dari Istrinya itu, ia tersenyum bahagia mendengar perkataan dari istrinya. Ersam tak bosan-bosan mengecup punggung tangan istrinya itu.


Berselang beberapa menit, mobil mereka sudah terparkir di tempat khusus parkiran mobil. Mereka sudah mengambil nomor antrian untuk memeriksakan kondisi kesehatannya Rasmi dan juga calon bayi mereka.


Ersam menggandeng tangan istrinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Layaknya pasangan suami istri yang mabuk cinta pertama. Mereka tak segan menunjukkan kemesraan mereka di depan umum. Ersam sengaja melakukan hal itu, agar Rasmi yakin kepadanya akan cintanya itu.


"Kamu duduk di sini, saya akan mendaftarkan namamu di sana," pintanya Ersam.


"Oke," jawabnya Rasmi.


Rasmi memperhatikan satu persatu dari sekian banyak pasien ataupun pengunjung rumah sakit khusus ibu dan anak itu membuat Rasmi bahagia, karena dirinya diantar jemput suaminya untuk memeriksakan keadaannya walaupun Ersam sangat sibuk, tapi selalu meluangkan waktunya di saat ia butuhkan.


"Makasih banyak ya Allah Engkau mengirimkan seorang suami yang baik, bijaksana, bertanggung jawab, sayang sama aku dihidupku ini, padahal aku seorang janda yang dinikahinya tapi, rasa cintanya yang aku rasakan melebihi dari mantan suamiku almarhum Eko Prasetyo," batinnya Rasmi.


Ersam bertemu dengan seorang dokter spesialis kandungan yang terbaik di rumah sakit itu. Kebetulan dokter itu adalah sahabat dari kakaknya Erick Aryanta Dewantara yang sekaligus menjadi dokter kandungannya Renata Kusmanto Dewantara.


Setelah berbincang-bincang sesaat, Ersam segera memanggil istrinya dan diperiksa tanpa harus menunggu lebih lama dalam antrian.

__ADS_1


"Selamat sore dokter," sapa keduanya setelah dipersilahkan masuk.


Kedua pasangan suami istri itu pun duduk saling berhadapan dengan dokter Amel Alvi Damayanti. Rasmi dan Ersam saling berjabat tangan bergantian dengan dokter Amel.


"Silahkan duduk, rupanya kamu sudah punya istri, kenapa pada saat nikahannya enggak ngabarin," tuturnya dokter Amel.


Rasmi dan Ersam tersenyum," dadakan nikahnya dok jadi kami tidak sempat mengundang banyak orang," elaknya Ersam yang tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Anak muda emang maunya serba instan," candanya dokter Amel.


Setelah bertanya beberapa pertanyaan seputar masalah kehamilannya Rasmi, dokter Amel meminta Rasmi untuk berbaring di atas bangkar rumah sakit.


"Maaf Bu Rasmi,saya akan menyingkap sedikit pakaiannya agak ke atas supaya memudahkan untuk melihat calon Dede bayinya," pintanya Dokter.


"Baik dokter," balasnya Rasmi dan segera menjalankan perintah dokter sedangkan Ersam terus bersama mendampingi istrinya itu.


Dokter Amel mengoleskan jel khusus ke atas permukaan kulit perutnya Rasmi sehingga memudahkan untuk melakukan tes melalui alat USG untuk melihat kondisi keseluruhan kesehatan Rasmi dan juga tentunya sang jabang bayi.


Dokter Amel memutar-mutar alat tepat di atas perutnya Rasmi yang sudah agak kelihatan buncitnya, walaupun masih kecil.


Dokter Amel tersenyum," selamat Ersam ternyata kamu akan memiliki dua sekaligus calon bayi loh," jelasnya dokter Amel Alvi Damayanti yang tersenyum bahagia melihat calon anak kembarnya Rasmi dan Ersam.


"Mereka kembar Dok!" Beo keduanya yang tatapan mata mereka tertuju pada dokter.


Dokter Amel menganggukkan kepalanya itu," insya Allah… mereka akan terlahir kembar ke dunia ini," imbuhnya dokter.


"Syukur Alhamdulillah, selamat sayang kita dapat dua bonus rezeki sekaligus," ujarnya Ersam dengan penuh gembira yang langsung memeluk tubuh istrinya yang masih berbaring itu.

__ADS_1


"Abang, apa masih ingat dengan surat yang pernah Abang tulis untukku?" tanyanya Rasmi yang kembali teringat beberapa tahun lalu ketika Ersam menyelipkan sebuah kertas di dalam buku paket mata pelajaran matematika.


Rasmi segera merogoh tasnya yang kebetulan berada di dalam handbagnya itu, seperti ini tulisannya waktu itu;


Ku kumpulkan kepingan hati


Yang kau hancurkan jadi serpihan


Kali ini kamu terlalu


Hingga harga diriku terinjak.


Menancapkan di hati


Perihnya meradang tak sembuh sembuh


Walau aku s'lalu bertahan


Tapi kali ini aku runtuh.


Kamu terlalu tau lemah aku


Mencintaimu dan mudah memaafkan


Hanya bila nanti kamu terluka


Seperti yang kurasa

__ADS_1


Anggaplah ini karmamu.


"Apa Abang masih ingat dengan kertas itu?" tunjuknya Rasmi tepat di depan matanya Ersam.


__ADS_2