Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 71


__ADS_3

"Kamu cantik dan suara dee saaa haanmu itu masih terngiang di telingaku, tapi maafkan saya yang tidak bisa bertanggung jawab atas khilafan yang telah terjadi, lagian itu terjadi karena ulahmu sendiri, tapi gimana kalau dia hamil karena aku sempet melihat ada noda bercak darah di atas lantai keramik ketika aku menggendongnya," cicitnya Erwin Aksa Mahmud


Walaupun sedikit pergerakannya terganggu karena dibagian intinya yang masih sering perih dan ngilu,Methy tetap bekerja konsisten dan profesional. Ia harus berusaha untuk melupakan kejadian beberapa jam lalu.


"Ya Allah… semoga apa yang telah aku lakukan semalam, tidak ada yang curiga dan mengetahui kenyataan yang ada, jika hal itu terjadi tamatlah riwayatku, gimana dengan adik-adik dan ibu di kampung mereka berharap besar padaku," lirihnya Methy.


Erwin berniat untuk menceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada Pak Erga, tapi ia mengurungkan niatnya itu. Karena mengingat dengan permintaannya dan permohonan dari Methy Putri Meutia Hatta padanya. Erwin berencana akan membawa pulang ke rumahnya bukti rekaman cctv yang telah ia ambil dan aslinya sudah ia hapus sebelum pihak keamanan tersadar dengan apa yang telah terjadi.


Keesokan harinya, perwakilan dari keluarga Erga Prayoga Yudistira sudah menuju kota Surabaya untuk bertemu dan melamar Ridah menjadi pendamping hidupnya itu. Ridah yang mengetahui hal tersebut dari Erga segera pulang ke kampung halamannya. Ridah meminta ijin untuk cuti beberapa hari hingga akad nikah keduanya selesai.


Rasmi membelikan banyak oleh-oleh buah tangan untuk keluarganya Ridah yang sejak dulu sudah menganggapnya sebagai anggota keluarganya sendiri, sejak kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.


Tapi, hubungan mereka seolah seperti terhenti ketika Rasmi Wulandari Nasution memutuskan untuk pindah dan menetap di Jakarta. Sejak ia melahirkan anak pertamanya, Rasmi sudah tidak pernah balik ke kampung halamannya lagi yang hingga detik ini.

__ADS_1


"Ya Allah… Rasmi ini banyak banget barang bawaan aku loh, tapi wajarlah istri dari pemilik perusahaan yang cukup besar dan tajir melintir ini hanya seperti secuil kuku saja," candanya Ridah Khaerani Azizah Wijaya yang rencananya akan balik ke kampung halamannya.


"Ya elah kamu seperti sama siapa saja harus segan seperti ini, seharusnya tuh kamu ngomong apa masih ada gitu," kelakarnya Rasmi yang berusaha menahan tawanya.


"Kalau gitu gimana kalau mungkin rumah sebagai hadiah pernikahan kami gimana," balasnya Ridah yang berniat mengetes sahabatnya itu.


"Rumah, oke bisa diatur yang paling penting kamu nikahnya dengan lancar dan balik lagi ke sini rumah beserta isinya akan siap huni untuk kalian berdua," jelasnya Rasmi dengan serius.


"Oke kalau gitu aku bisa pergi dengan tenang ke kampung, tapi Rasmi gimana dengan adik dari bapakmu katanya mereka tidak punya rumah lagi untuk mereka tempati gara-gara suaminya menjual rumah mereka karena terlilit hutang judi dan informasi terakhir yang saya dapatkan pak Haris Kurniawan sudah meninggal dunia dipukulin oleh beberapa orang karena, tidak mampu lagi membayar hutangnya yang masih banyak," ungkap Ridah.


Rasmi ketika itu baru berusia sekitar dua belas tahun. Cap anak sial melekat ditubuhnya itu hingga ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta.


Di Jakarta lah ia melanjutkan sekolahnya hingga lulus sekolah SMA. Rasmi lulus dengan nilai tertinggi sehingga mendapatkan beasiswa dari sekolah dan pemerintah. Disinilah pertemuan pertamanya dengan Ersam Arsenio Dewantara suaminya itu.

__ADS_1


Rasmi bisa kuliah dengan biayanya sendiri ditambah bantuan dari pemerintah. Kuliah sambil bekerja hampir lima tahun dia lewati hingga setahun kelulusannya, ia menikah dengan Eko Prasetyo, bukan karena cinta tapi karena rasa kasihan kepada Eko Prasetyo yang setiap hari datang meminta untuk menikah dengannya.


Ridah menyentuh tangannya Rasmi," Rasmi berdamai lah dengan masa lalu, bagaimana pun juga mereka tetap keluarga kandungmu, apa yang terjadi hubungan darah tidak mungkin bisa dicuci dan dihilangkan dari kehidupan kalian," tuturnya Ridah Khaerani Azizah Wijaya.


"Sudah bicaranya,lihat mobil jemputanmu sudah datang, sampaikan pada bibi permintaan maaf ku yang tidak bisa hadir di acara penting kalian, Ingat kalian tetap akan mengadakan pesta syukuran di Jakarta setelah kalian pulang, saya dan Abang Ersam yang akan mengurus semuanya," imbuhnya Rasmi.


"Kamu jaga kesehatan baik-baik jangan terlalu banyak kerja,mikir juga harus dikurangi dan istirahat yang cukup kasihan ponakanku kalau kamu bekerja terus menerus tanpa henti,"


Rida memeluk tubuhnya Rasmi sebelum masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati, berkabarlah jika kamu sudah sampai di sana, titip salam untuk keluarga yah," ucap Rasmi yang melepas kepergian sahabat sekaligus seperti saudaranya sendiri.


Waktu terus berlalu, Rasmi sudah memakai pakaian tidur,tapi ia melihat ke arah ranjangnya suaminya Ersam belum selesai bekerja.

__ADS_1


*Saya buatkan Abang mungkin kopi, tapi kalau kopi bisa saja begadang, kalau teh kan pasti ngantuk juga kalau sudah kelelahan bekerja, ini juga waktu yang tepat untuk membicarakan masalah pernikahannya Erga," gumamnya Rasmi yang berjalan ke arah dapur.


Ersam masih sibuk dengan beberapa berkas penting yang harus segera ia selesaikan malam ini juga.


__ADS_2