
"Terimakasih sudah menyelamatkan nyawaku, andaikan tidak ada gadis kecil yang berani berjuang untuk menolongku yang sudah hampir tidak bernyawa lagi, karena kebaikan dan keberanianmu hingga aku masih diberikan kesempatan untuk hidup sampai sekarang,"
Ridah terdiam sesaat memikirkan perkataan dari mulutnya Rasmi.
"Apa jangan-jangan orang yang membawa bunga ini adalah pak Erga? Tapi motifnya apa sih kenapa ia sempatkan untuk bawa bunga segala yah?!"
Tulisan yang tertulis di atas kertas itu masih terbayang-bayang dipelupuk matanya Ridah.
"Ya Allah… kenapa aku tidak bisa memejamkan mataku sampai-sampai sudah jam dua belas malam aku belum tidur juga, siapa sebenarnya pria ini dan juga kenapa pak Erga berada di sekitar ruanganku? Semua ini sungguh membuatku bingung, semoga besok terjawab rasa penasaranku, andai aku masih mengingat wajah pria itu pasti sudah aku tahu jawabannya, tapi gimana juga bisa sedangkan aku waktu itu baru kelas tiga SMP dan kejadiannya sudah cukup lama," gumamnya Ridah yang bolak balik guling kanan kiri berpelukkan pada bantal peluk nya.
Rasmi hari ini mengemudikan motornya menuju rumahnya,tapi tiba-tiba teringat dengan beberapa barang kebutuhan pokoknya habis di dapur.
"Sepertinya ada di depan jalan tidak jauh dari sini ada swalayan aku belanjanya di sana saja," gumamnya Rasmi.
Rasmi memutar balik sepeda motor kesayangannya itu menuju Aal Faa Mart terdekat. Ia menepikan mobilnya karena, ada kendaraan roda empat yang akan keluar dan motornya menghalangi mobil itu. Rasmi hanya terdiam melihat mobil itu dan hanya mengalah saja dan tidak ingin membuat pengemudi dan penumpang mobil itu mengumpatnya.
__ADS_1
Hingga jendela kaca mobil bagian depan terbuka," Ya ampun… saya kira dunia itu luas ternyata tak sesempit daun kelor yah," sarkasnya Erna mantan adik iparnya itu.
Rasmi cukup terkejut melihat mantan adik iparnya itu dengan penampilan yang berbeda dari biasanya ketika ia masih berstatus istri dan Eko Prasetyo masih hidup di dunia ini.
"Assalamualaikum Erna," sapanya Rasmi.
"Waalaikum salam," jawabnya Erna yang sebenarnya sangat enggan untuk menjawab salamnya Rasmi.
Erna Prasetiyo turun dari mobilnya sambil menenteng kacamata hitamnya itu dengan melipat tangan kirinya di atas tangan kanannya itu. Erna berputar di sekeliling Rasmi dengan senyuman merendahkannya.
"Alhamdulillah kalau seperti itu Mbak, selamat yah aku sangat bahagia mendengarnya," imbuhnya Rasmi.
Rasmi berniat untuk meraih tangannya Erna untuk berjabat tangan, tapi segera ditepis oleh Erna.
"Maaf, aku tidak bisa berjabat tangan dengan kamu, jangan sampai kuman yang ada di atas permukaan tanganmu pindah ke tanganku lagi dan bisa-bisa aku kena penyakit gara-gara kamu," ketusnya Erna yang segera melap tangannya yang sempat tersentuh oleh tangan Rasmi.
__ADS_1
Rasmi hanya tersenyum menanggapi sikap kasarnya Erna yang memang sedari dulu sudah bersikap sangat sombong.
"Kalau gitu aku panggilkan kekasihku yah, supaya kamu bisa saling kenalan dan mungkin kamu bisa meminta tolong padanya pengen cari pekerjaan gitu,"
Tanpa persetujuan dari Rasmi, Erna segera memanggil kekasihnya itu.
"Sayang, ada teman yang ingin kenalan sama kamu dan katanya mau minta tolong sempat di perusahaan tempat kamu bekerja masih butuh pekerjaan," teriaknya penuh manja di depan pacarnya.
Pria yang dipanggil dengan kata sayang sama Erna segera turun dari mobilnya dan juga membuka kacamata hitamnya itu. Pria itu berjalan ke arah Rasmi, sedangkan Rasmi cukup santai melihat wajah dari pria itu. Erna menyambut kedatangan pacarnya kemudian mengalungkan tangannya ke arah lengannya Pria itu.
"Hey sayang kenalkan ini mantan istrinya almarhumah Mas Eko Prasetyo namanya Rasmi Wulandari Nasution," terangnya Erna yang begitu bermanja-manja dengan kekasihnya.
Pria itu tersenyum malu-malu di depan Rasmi," ehh ibu Rasmi kita berjumpa di sini rupanya," ucapnya Rudi salah satu security dari perusahaan tempat ia bekerja sekaligus milik Ersam Arsenio Dewantara.
Erna kaget dan tidak percaya jika pacarnya itu adalah saling kenal dengan Rasmi dan menyebut namanya Rasmi dengan sebutan Ibu. Rasmi ingin tertawa melihat kesombongan Erna hilang dalam sekejap mata.
__ADS_1