
"Aku masih pee raaa waaan tapi demi menikahi pria kaya dan ganteng seperti Erga Prayoga Yudistira saya berani mengorbankan segalanya untuk pak Erga," batinnya Metty Putri Meutia Hatta.
"Oke kita sepakat untuk bekerjasama dan ini yang harus kamu berikan di dalam minumannya, usahakan jangan sampai ketahuan dari orang lain karena, malam ini adalah malam yang paling bagus dan tepat untuk kita beraksi, semoga rencana kita berdua berhasil dan Ingat ruangan yang rencananya kita pakai itu harus kamu jaga dan tidak boleh ada orang yang masuk ke sana," ujarnya Methy dengan melirik sekilas ke sekelilingnya ketika memberikan sebotol obat ke dalam tangannya Marco.
"Oke, siap dan ingat chat aku sebelum beraksi agar kita barengan bekerja,"
Methy kembali ke perusahaan karena jam istirahat sudah usai. Ia tersenyum melihat Marco Reus yang baru saja datang ke loby perusahaan berpapasan dengannya.
"Pak Erga bersiaplah malam ini aku yakin kamu akan puas mee niiik mas tii tubuhmu yang sispack penuh dengan dada kotak-kotak itu,"
Keyakinan Metty begitu besar dan percaya diri sekali jika malam ini akan berhasil dengan lancar karena, dukungan dari Marco Reus pihak keamanan yang akan berjaga di malam hari.
Erga berjalan ke arah ruangannya Ridah Khaerani Azizah Wijaya, ia masuk kedalam ruangan itu setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk!" Pinta dari Ridah yang sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya itu.
"Kamu malam ini lembur temani saya, karena file penting yang diminta oleh pak Ersam harus segera diberikan padanya sebelum ia datang ke kantor besoknya?" Perintahnya Erga yang to the points tanpa basa-basi sedikitpun.
Erga kemudian meninggalkan kantornya Ridah setelah menyampaikan hal itu. Sedangkan Ridah hanya memandangi punggung pria yang diam-diam ia sukai itu pria yang ditolongnya beberapa waktu lalu ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas tiga.
Sejak keberanian Erga beberapa hari lalu, hubungan mereka menjadi renggang dan tidak pernah berkomunikasi seperti biasanya kecuali jika ada masalah pekerjaan yang harus mereka tangani dan kerjakan bersama.
__ADS_1
"Kamu menjauh dariku berarti aku tidak pernah ada di dalam hatimu Pak Erga, padahal aku mulai merasakan rindu dan cemburu jika kau berdekatan dengan perempuan lain, aku tak suka melihatmu tertawa lepas dengan karyawati lainnya," cicitnya Ridah.
Erga menolehkan kepalanya ke arah Ridah sebelum pintu itu tertutup rapat," Ridah aku sangat mencintaimu tapi, kamu seolah terus menghindariku sehingga aku tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapimu, padahal hatiku mulai terbuka untukmu seorang," Erga membatin sebelum meninggalkan tempat tersebut.
Ersam dan Rasmi setelah melakukan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai pasangan suami istri. Mereka menyantap makan siang mereka yang tertunda karena, ulahnya Ersam.
"Sayang kamu ganti pakaian dulu sana, pakaianmu ada di dalam lemari bagian kiri, karena saya ingin menemui Netty untuk mengatakan kalau dia malam ini harus menemani Erga lembur karena, saya akan menemani istriku khusus malam ini agar dia tidak kembali merajuk lagi," pintanya Ersam sambil dibarengi dengan candaan.
"Tapi, Abang aku bolehkan besok kembali bekerja sebagai asisten pribadinya Abang?" Rayunya Rasmi sambil menarik dasi suaminya itu hingga mereka kembali berhimpitan tanpa sekat lagi.
Ersam memperbaiki ujung hijabnya Rasmi," kamu boleh melakukan apapun itu asalkan kamu bahagia dan ingat harus hati-hati karena di dalam rahimmu ada putraku calon penerus keluarga besar Dewantara dan kamu adalah wanita yang paling spesial dan berharga dalam hidupku, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu," imbuhnya Ersam.
"Saya dapat jekpot kalau seperti ini, Pak Ersam Arsenio Dewantara tidak mungkin aku dekati tapi, Erga Prayoga Yudistira pasti akan bertekuk lutut di hadapanku," gumamnya Methy dengan penuh keyakinan.
Berselang beberapa menit kemudian, Ersam dan Rasmi bergandengan tangan dengan penuh kemesraan dan berjalan menuju lift khusus petinggi perusahaan di hadapan Methy. Rasmi hanya tersenyum tipis ketika melewati meja sekretaris.
Methy yang melihat kedatangan kedua pasangan suami istri itu yang menjadi atasannya segera berdiri menyambut keduanya. Methy tersenyum penuh arti melihat kepergian kedua orang itu.
Waktu terus berjalan, hingga waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Methy segera mengirim chat kepada Marco Reus yang sedari tadi sudah mempersiapkan ruangan khusus yang akan dia pakai untuk melampiaskan kekesalannya selama ini.
"Pak Erga aku ke Pantry dulu, mungkin ada yang dititip mungkin?" Tanyanya Methy yang hari itu segera mengganti pakaiannya yang tadi seksi sekarang agak tertutup karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan dari Erga dan yang lainnya.
__ADS_1
"Boleh," jawabnya Ersam.
"Saya pesan kopi juga," celetuk Erwin adik sepupunya Ridah yang baru bekerja sekitar dua bulan di perusahaan itu berkat rekomendasi dari Ridah tentunya.
"Baik Pak,"
Metty segera membuat empat cangkir kopi yang sudah dua diantaranya sudah dimasukin obat pee raang saan. Marco segera datang ke pantry untuk mengambil segelas kopi khusus untuk Ridah.
"Semuanya sudah siap," bisiknya Marco.
Methy hanya tersenyum dan karena berbincang-bincang dengan Marco hingga melupakan mana yang sudah ia taruh obat tersebut.
"Waduh yang mana cangkir yang belum aku isi yah?" Cicitnya Methy.
Akhirnya Methy memasukkan lagi ketiga cangkir itu beberapa tetesan obat.
"Ini kopi khusus untuk tuan-tuan agar semakin semangat kerjanya," imbuhnya Netty.
"Makasih banyak cantik," tuturnya Erwin Dwi Budiawan yang tersenyum tipis ke arah Methy.
Mereka bertiga pun meminum minuman masing-masing tanpa ada yang menaruh curiga dikitpun. Tapi, karena keliru Methy pun minum bagian yang seharusnya Erga minum. Sedangkan di kantornya Ridah, Marco tersenyum penuh kemenangan karena, Ridah berhasil minum hingga tandas kopinya.
__ADS_1