
Rasmi hanya sering meminta kepada suaminya untuk dibelikan makanan yang kadang untuk mendapatkannya susah ataupun tempat jualannya jauh dari rumahnya sekarang. Tetapi, dengan niatnya untuk membahagiakan sang istri tercinta yang sedang hamil penerus Arsenio Dewantara sehingga Ersam sama sekali tidak keberatan melakukan apapun demi kebahagiaan sang istri.
Rasmi memakai pakaian tunik kaftan gamis hari itu, karena ia tidak mau lagi memakai celana jeans untuk beraktifitas mengingat kehamilannya.
Rasmi berputar-putar di depan cermin untuk memastikan penampilannya. Wanita hamil memang sering sekali mengalami perubahan yang cukup drastis,baik dari sikap maupun kebiasaan seperti dalam berpenampilan.
Rasmi mengalami hal itu, Rasmi yang biasa tampil cuek dengan gaya berpakaiannya jika hanya berada di rumah saja, tetapi sekarang ia tidak ingin berpakaian yang terlalu sederhana. Mengingat juga posisi suaminya itu di perusahaan sebagai pemilik sah dan pemegang saham tertinggi pula.
"Sepertinya hari ini cukup cerah, apa aku ajak Mbak Renata Annisa ke Mall saja yah?"
Rasmi sudah berada di dalam mobilnya, awalnya dia berniat untuk berangkat ke perusahaan dengan menyetir sendiri mobil kesukaannya. Tapi, ketika keluar dari pintu rumahnya, betapa terkejutnya melihat sudah ada seorang supir pribadi yang telah disiapkan khusus oleh suaminya tercinta.
Dengan menenteng paper bag yang berisi rantang makanan, ia berdiri termangu melihat Rio Ferdinand Sinaga selaku salah satu anak buah kepercayaan suaminya itu sudah berdiri tegak di depan pintu rumahnya dengan raut wajah datarnya.
"Apa Nyonya Muda sudah siap?" Tanyanya tanpa ekspresi sedikitpun.
Rasmi mengerutkan keningnya itu, "Maksudnya?" Tanyanya Rasmi yang keheranan.
"Maaf Nyonya Rasmi mulai detik ini saya diserahi tugas oleh Tuan Muda Ersam untuk mengantar jemput kemanapun Nyonya Muda pergi," terangnya Rio.
__ADS_1
"Apa! Suamiku benar-benar suami yang siaga kalau seperti ini," cicit Rasmi Wulandari Nasution.
"Silahkan Nyonya," pintanya Rio yang membuka pintu mobilnya.
Rasmi pun naik ke atas mobil tanpa banyak bicara lagi. Rasmi yang terbiasa melakukan segala-segalanya dengan seorang diri, hari ini akan beraktifitas dengan bantuan tenaga orang lain atas dasar perintah mutlak dari suaminya yang tidak mungkin dibantah ataupun dilanggar.
"Makasih banyak," ujarnya Rasmi setelah sudah duduk dengan nyaman di dalam mobilnya.
"Sama-sama Nyonya," balasnya Rio yang langsung masuk dan duduk dibalik kemudi setir mobilnya itu.
Rasmi memperhatikan raut wajahnya Rio Ferdinand Sinaga dengan seksama," ya Allah… kenapa semua pria yang dipekerjakan oleh suamiku wajahnya datar seperti triplek dan dingin serta irit bicara," umpatnya Rasmi.
Rasmi memutar-mutar telapak tangannya di depan Rio," tidak kok aku tidak bicara apapun," kilahnya Rasmi.
Mobil pun meluncur dengan kecepatan sedang, mengingat penumpangnya sedang hamil. Rio sudah diwanti-wanti oleh Ersam Arsenio Dewantara untuk selalu berhati-hati dalam mengendarai mobil.
"Entah kejutan apa lagi yang Abang persiapkan untukku?" Lirih Rasmi sampai-sampai melupakan rencana keduanya untuk mengajak kakak iparnya untuk hangout bareng.
Perjalanan yang ditempuh keduanya siang itu cukup lancar tanpa hambatan yang berarti. Rasmi menikmati perjalanannya dengan santai dan sesekali membuka hpnya lalu berselancar di dunia maya.
__ADS_1
Dia kadang tersenyum melihat beberapa foto kenangan keduanya yang diunggah oleh Ridah di Ig dan fbnya. Rasmi menutup mulutnya saking tidak percayanya melihat foti yang ketika ia masih duduk sebangku dengan Ridah dulu.
"Ternyata sejak kecil aku seperti ini, padahal seingatku aku mama itu sering mengikat rambutku dengan cukup tinggi hingga aku sering dibilangin rambut ekor kuda, Ridah Khaerani Azizah Wijaya memang the best lah, kok jadi pengen kembali bekerja di perusahaan bersama dengan anak-anak, kangen ngumpul bareng karena seru banget pada saat makan siang dengan kafe perusahaan, apa aku minta ijin sama suamiku saja yah?"
Mesin mobil mereka berhenti diparkiran khusus petinggi perusahaan. Rasmi turun dari mobilnya setelah Rio dengan cekatan membuka pintu mobilnya.
"Makasih banyak Rio, tapi sepertinya tidak perlu repot-repot untuk selalu membukakan pintunya juga,insha Allah aku masih bisa kok," sanggahnya Rasmi yang turun dari mobil dengan tangan kirinya menenteng sebuah paper bag berwarna cokelat.
Rasmi berjalan di pintu depan padahal sudah dianjurkan oleh Rio untuk melalui jalan khusus. Tetapi Rasmi, karena sudah sebulan lebih cuti dari perkejaannya sehingga Ia merindukan rekan kerjanya itu.
"Perusahaan baru beberapa minggu aku tinggalkan sudah banyak perubahan, emang suamiku sultan sehingga mampu membuat perusahaan ini semakin maju dan canggih saja." Rasmi menatap ke sekeliling jalan yang dilaluinya itu.
Rasmi yang sudah dikenal oleh banyak karyawan sehingga dengan mudah ia memasuki lobby perusahaan.
"Selamat datang Mbak Rasmi," sapanya Edi security sekaligus sebagai mantan kekasihnya Erni adiknya almarhum Eko Prasetyo.
"Makasih banyak Pak Edi," ucapnya Rasmi dengan senyumannya yang ramah.
Rasmi kemudian berjalan ke arah lift,tapi matanya terbelalak melihat pakaian dan busana seorang perempuan yang berpakaian minim dan kekurangan bahan. Rasmi menatap perempuan itu dengan keheranan.
__ADS_1
"Apa peraturan di perusahaan suamiku ini sejak aku off kerja sudah berubah yah! Kalau gini, ini sudah tidak boleh dibiarkan berlarut-larut aku baru sebulan lebih enggak masuk kerja sudah banyak yang berubah seperti ini contohnya," cicitnya Rasmi yang membaca nametagnya sehingga ketahuan jika Methy adalah salah satu karyawati di sana.