
Rasmi menikmati sarapan paginya dengan penuh hikmat. Dia hanya menyantap makanan yang begitu lezat dan menggoyang lidah membuat ia melupakan apa yang terjadi padanya.
"Ada yang ingin aku katakan padamu, kita ketemu di kafe di ujung jalan xx, penting,"
"Oke,"
"Semoga saja ini jalan untuk terbebas dari perjodohan ini, tidak mungkin aku menikah dengan Abang Ersam sedangkan aku hamil pria yang sangat aku cintai," batinnya Rena sambil mengeratkan genggaman tangannya.
Rasmi berangkat ke kantor dengan sepeda motor kesayangannya. Wajahnya merona memerah jika, ia harus kembali mengingat apa yang terjadi padanya bersama suaminya itu.
Sedangkan di dalam kamar pribadi Nyonya Besar Leni, Ersam dan Regina memainkan perannya sebagai pasangan calon tunangan.
"Regina, Ingat mulai detik ini kita harus bekerja sama untuk menggagalkan pernikahan ini," pesan chat terakhir kalinya yang dikirim oleh Ersam Arsenio Dewantara.
Regina melayani Nenek tua itu dengan baik hingga kedatangan Erick Aryanta Dewantara dan istrinya Renata Kusmanto Dewantara.
"Syukur Alhamdulillah… Abang dan kakak ipar sudah datang saatnya kami berdua pamit dulu karena mau cek gedung dan lainnya,iya kan Regina?" Tanyanya Ersam sambil merangkul pinggangnya Regina atau sering dipanggil Rena oleh orang terdekatnya saja.
"Iya Nek,kami harus pergi dulu takutnya hari ini enggak sempat melihat dan memeriksa semuanya jika,kami masih disini," ujarnya Regina dengan senyuman canggungnya karena terlalu berdekatan dengan Ersam.
Tetapi, demi kebahagiaannya bersama dia terpaksa harus berakting lebih alami lagi agar satupun tidak ada yang curiga.
"Silahkan pergi,kami ada yang siap jaga nenek," imbuhnya Renata yang tersenyum tipis.
"Kami pamit dulu Bang, assalamualaikum,"
"Waalaikum salam," jawab mereka.
"Ya Allah… aku bahagia dengar cucu kesayanganku mengucapkan salam, dia sudah berubah, semoga Regina merubah cucuku, tapi ngomong-ngomong aku ingin melihat bagaimana tampangnya perempuan yang dinikahinya karena atas dasar kasihan itu, apa dia juga cantik dan baik seperti Renata, Regina juga yah," tatapan matanya Nyonya besar Leni terus tertuju pada Ersam dan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Kita ke kafe tempat yang paling aman untuk berbincang-bincang,"
Ersam membukakan pintu mobil untuk Regina. Regina tersenyum penuh bahagia karena bisa terbebas dari rumah yang sempat membuatnya sesak nafas itu. Mereka berjalan beriringan menuju meja yang sudah dipesankan Ersam terlebih dahulu sebelum mereka datang.
"Regina, sebenarnya saya sudah menikah dengan seorang perempuan yang sedari dulu saya sayangi, makanya saya sangat menentang hubungan dan rencana pernikahan ini," ungkap Ersam.
Regina menutup mulutnya saking terkejutnya mendengar perkataan dari Ersam.
"Pantesan Abang sama sekali tidak ingin menikah denganku, kalau gitu aku sangat bahagia karena Abang tidak bersedia menikah dengan saya dan saya juga sebenarnya sangat menentang keinginan kedua orang tuaku, karena aku mencintai pria lain, dan kami akan segera punya anak dan juga sudah menikah beberapa bulan lalu walaupun, kami hanya menikah siri saja dan itu pun diam-diam," terangnya yang membuat Ersam trrlonjak kaget mendengar satu fakta baru.
Pukk!!
Regina memukul pundaknya Ersam karena terlalu heboh reaksinya seperti itu.
"Auhh!" Keluhnya Ersam ketika dipukul tas pundaknya itu.
Regina adalah salah satu sahabatnya juga walaupun tidak terlalu akrab tapi, cukup dekat.
"Oke Abang aku siap untuk melakukannya yang penting mereka semua tahu jika kita ini sama-sama sudah menikah dengan orang lain,"
Ersam hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan persyaratan dari Regina. Keduanya pun pulang bersama dengan hati yang plong dan lega tanpa ada beban sedikit pun.
Rasmi bekerja dengan professional,ia merasa kesepian karena Ridah belum pulang juga. Jam istirahat sudah selesai,ia segera berjalan ke kubikelnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena, waktu makan dan sholat.
Seperti itulah kegiatannya setiap hari hingga hari jumat pun tiba. Ridah pun sudah pulang ke ibu kota Jakarta. Dia sangat heboh menceritakan tentang adiknya yang menikah.
"Ya Allah… mereka pasangan suami istri yang sangat serasi, tapi ngomong-ngomong kakaknya kapan nikahnya masa adiknya lebih duluan dari pada kakaknya," candanya Rasmi sambil mengerjakan pekerjaannya dengan santai.
"Hahaha, aku belum ketemu jodoh kali jadi aku harus lebih santai sambil menunggu datangnya pangeran berkuda putih menjemputku," ucapnya Ridah Khaerani Azizah.
__ADS_1
Ergi Prayoga diam-diam memperhatikan dan mendengarkan apa yang mereka lakukan dan kerjakan di jam kerja.
"Hemm?! Sepertinya sudah waktunya jam kerja bukan jam gosip sekarang!" Sarkasnya Erga Prayoga.
Kedua perempuan itu segera menghentikan kegiatannya, Rasmi memperbaiki posisi duduknya dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah layar komputer.
"Pantesan jadi bujang lapuk, karena hidupnya selalu serius dan tidak suka bercanda jadi semua perempuan yang mau dekat pada kabur menjauh," Cibirnya Ridah yang berjalan meninggalkan Erga yang jengkel dan kesal mendengar perkataan dari Ridah perempuan yang sedari dulu selalu mengajaknya perang.
Rasmi berusaha menahan tawanya itu, ia berpura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Ridah sahabatnya itu.
"Erga, apa aku boleh tanya sesuatu?" Tanyanya Rasmi Wulandari yang mulai serius.
"Sebenarnya CEO kita ada dimana kenapa sudah seminggu aku bekerja di perusahaan ini, tapi aku belum pernah melihatnya langsung, apa Pak CEO sangat sibuk sampai sulit untuk ditemui?"
Erga kelimpungan dan dibuat pusing karena, tidak mau juga berbohong. Erga menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Dia kebingungan tidak tahu harus menjawab apa juga.
"Ehh CEO kita… baru saja Erga akan menjawab pertanyaan dari Rasmi hpnya berdering sehingga ia segera mengangkat telponnya itu.
"Ras maaf yah aku harus angkat telpon penting dulu, entar kita lanjut percakapannya," Erga segera menjauh dari tempat Rasmi karena yang menelponnya adalah Ersam.
"Pantesan kemarin aku ajak makan bersama sepertinya ia enggan dan banyak pertimbangan dan juga pergi tanpa pamit terlebih dahulu, karena ini alasannya ia lebih memilih memancing ikan yang cukup besar dibandingkan dengan saya, dasar perempuan matre aku pikir dia beda dengan perempuan lainnya," umpatnya Hendy Setiono.
Rasmi menyempatkan dirinya untuk membuka history what'shappnya. Ia sangat bahagia melihat postingannya Renata dengan caption foto testpack dan disertai dengan tulisan.
"Syukur Alhamdulillah akhirnya positif juga,"
Rasmi tersenyum bahagia karena akhirnya sahabatnya itu bisa hamil juga, setelah hampir lima tahun menikah dengan suaminya Erick Aryanta Dewantara. Dia pun segera mengirim ucapan selamat.
"Selamat say, aku turut bahagia melihat kamu akhirnya akan punya baby, aku doakan semoga sehat dan selamat hingga lahirannya nanti,amin ya rabbal alamin."
__ADS_1
Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...