
Malam yang begitu panjang mereka lewati bersama dalam penuh kasih sayang. Ersam Arsenio Dewantara dalam keadaan mabuk bisa melewati malam itu dengan memadu kasih bersama istrinya tersayang.
"Rasmi aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu,"
Malam itu menjadi malam pertama bagi kedua pasangan suami istri itu yang terbilang baru beberapa minggu mereka menikah. Rasa sakit dan teriakan kecil dari mulutnya Rasmi menghiasi dan mewarnai kediaman keduanya di tengah malam itu.
Rasmi heran dengan apa yang dilakukannya sendiri, entah sihir apa yang dilakukan oleh suaminya sehingga,ia melanggar sendiri janjinya yang sebelumnya ia buat. Janjinya akan memberikan segalanya untuk Ersam,jika ia benar-benar sudah merasakan cinta yang tulus dari hatinya.
Tetapi, malam ini ia menyerahkan segalanya untuk Ersam. Walaupun Ersam dalam keadaan hanya sekedar setengah mabuk saja, sehingga ia masih mampu menyadari dengan baik apa yang telah ia perbuat berdua tengah malam buta itu.
Rasmi memberikan seutuhnya untuk suaminya. Sebenarnya Rasmi merasa minder dan tidak percaya diri, karena dia tidak pee raaa waan lagi mengingat statusnya seorang janda ditinggal meninggal dunia oleh suaminya itu.
"Rasmi Abang sangat mencintaimu, Abang akan memberikan segalanya malam ini untuk membahagiakanmu," racaunya Ersam sambil terus memacu adrenalin dan dirinya di atas tubuhnya Rasmi.
Rasmi hanya terdiam tanpa banyak kata dan hanya menunggu apa yang selanjutnya akan Ersam lakukan. Dengan patuh, Rasmi menunggu dengan patuh dan menuruti semua perintahnya Ersam tanpa protes sedikitpun.
"Apa yang dilakukan oleh Abang Ersam sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Mas Eko Prasetyo,Ersam sangat lembut memperlakukan aku dengan sangat baik, tapi dulu juga hanya beberapa kali sih aku begitu dengan Mas Eko Prasetyo karena pekerjaannya kebanyakan di luar kota sehingga pertemuan kami berbulan-bulan baru kembali selama pernikahan kami berjalan tiga tahun lebih," bathinnya Rasmi.
"Kamu seperti gadis sayang, aku sangat suka, Rasmi i love you forever," Ujarnya Ersam sebelum tumbang di sisinya Rasmi.
Rasmi hanya membalas dengan senyuman lebarnya perkataan suaminya itu. Betapa bahagianya Rasmi setelah tahu, jika Ersam sangat mencintainya.
"Makasih banyak Abang, aku juga mencintaimu tapi aku takut kembali terluka," gumamnya Rasmi lalu ikut memejamkan matanya menuju alam mimpinya menyusul Ersam yang lebih duluan tertidur dan sudah mendengkur halus.
Keesokan harinya, Ersam bangun pagi-pagi sekali. Ersam khusus pagi itu membuat makanan khusus dan spesial untuk istrinya tercinta. Walau kepalanya masih sedikit pusing, tapi ia memaksakan dirinya untuk membuat makanan simple.
Ersam menyimpan sebuah kertas di bawah piringnya yang bertuliskan kata-kata romantis lalu mengecup dengan lama kening dan bibirnya Rasmi.
"Abang sangat mencintaimu dari sejak awal aku melihatmu hingga hari ini dan sampai rambutku memutih perasaanku masih akan seperti hari ini, Abang janji akan hal itu,maaf mungkin beberapa hari ini aku akan tidak pulang karena ada beberapa hal urusan penting yang akan Abang urus ini demi masa depan kita,"
Itu kata yang sempat ditulis oleh Ersam di atas secarik kertas dan sebuah buku nikah yang baru bisa Ersam urus setelah mereka menikah selama kurang lebih dua minggu itu.
Ersam menggoreng ikan mujair, sambal dabu-dabu dan juga tumis cah kangkung sebagai pelengkap. Wangi masakan tercium hingga ke rongga penciumannya Rasmi. Wangi aroma masakan itu mampu membangunkan Rasmi dari bobo cantiknya pagi itu.
__ADS_1
"Wangi banget, siapa pagi-pagi gini masak, apa Abang Ersam?" Gumamnya yang melupakan kondisinya saat itu juga saking tergodanya dengan hidangan yang disajikan dalam nampang itu.
Rasmi berdiri dari baringnya,ia melupakan jika ia sedang tidak memakai selembar kain pun. Ia baru ingin melangkahkan kakinya menuju meja, tapi sudut ekor matanya melihat pantulan dirinya di dalam cermin.
"Aahhhh tidak!!" Teriaknya lalu segera meraih bed cover secepat kilat.
Wajahnya Rasmi memerah merona saking malunya," ya Allah… Abang pasti melihatku dalam keadaan seperti ini, aku jadi malu kalau seperti ini jadi malu jika harus bertemu dengan Abang lagi," cicitnya Rasmi.
Berselang beberapa menit kemudian, Rasmi sudah memakai pakaian seragam kerjanya yang sangat pas dan cocok ditubuhnya itu.
"Kok masakan Abang selalu enak yah, kalau seperti ini setiap hari aku bisa santai dan lebih banyak waktu sehingga tidak perlu terburu-buru untuk ke kantor," cicit Rasmi sambil menyuapi makanan ke dalam mulutnya.
Jauh di tempat Rasmi, Ersam mendatangi rumah kakek neneknya. Ia di sambut hangat oleh ibu tirinya.
"Selamat datang anakku yang ganteng," sapanya Elda dengan tatapan centil dan genitnya.
"Kamu seperti orang bukan muslim saja menyambut orang tidak pakai salam," sarkasnya Ersam.
Elda dulu pernah membuat Ersam tergila-gila padanya, tapi setelah Ersam mengetahui niatnya Elda sebenarnya hanya menginginkan hartanya saja yang saat itu dalam keadaan patah hati dan putus asa.
Tapi, hanya dalam jangka waktu lima bulan hubungan mereka bertahan karena,Erga sahabatnya telah berjasa besar membuka matanya Ersam. Kebohongan dan keburukan Elda terbuka juga.
"Kamu tidak perlu repot-repot datang ke pintu utama untuk menyambut kedatanganku Ibu tiri," ketusnya Ersam.
Ersam terus berjalan ke arah dalam tepatnya di dalam kamarnya Neneknya yang sedang terbaring lemah ka, penyakitnya yang dideritanya beberapa tahun terakhir ini.
"Bi Lia, Nenek sedang tidur?" Tanyanya Ersam.
"Oh Nyonya Besar lagi duduk santai saja kok Tuan Muda," jawabnya Bi Lia perawat khusus yang merawat Nyonya Leni Neneknya dari pihak Papanya itu.
"Makasih Bi," Ersam berjalan berlalu dari hadapan Bi Leni.
Tapi, baru sekitar tiga langkah mungkin langkahnya kembali terhenti ketika mendengar suara dari Leni.
__ADS_1
"Sama-sama Tuan Muda, tapi tunangan Tuan Muda juga datang berkunjung dan sekarang bersama Nyonya Besar," terangnya Bu Leni.
"Thanks infonya Bi,"
Ersam membuka pintu kamar neneknya dengan tatapan matanya langsung tertuju pada Neneknya. Ersam langsung meraih tangan Bu Leni untuk ia cium punggung tangannya.
"Assalamualaikum Nek, gimana sekarang kabarnya?" Tanyanya Ersam.
"Waalaikum salam, cucunya Nenek yang paling nakal," gurau neneknya.
"Selamat siang Abang," sapanya Rena Nozawa Lampard.
"Selamat siang juga Ren," jawabnya Ersam.
"Nenek bahagia melihat kalian duduk berdampingan seperti ini, Nenek tidak sabar menunggu kalian menikah, gimana kalau minggu nanti kalian langsung saja menikah tidak perlu bertunangan itu lama sekali," tegas Bu Leni.
Rena terbatuk-batuk mendengar keputusan dari calon neneknya itu.
"Uhuk.. uuhuk…!"
Ersam segera mengambil air minum untuk Rena lalu menyodorkan gelas tersebut ke hadapan Rena langsung. Diam-diam Ersam berbisik di telinganya Rena.
"Tolong buka hpmu," perintah Ersam.
Rena segera menghabiskan minumannya itu untuk meredakan batuknya. Rena segera mengaktifkan layar hpnya itu. Ia segera membaca dengan seksama pesan chat dari Ersam. Tatapan matanya tertuju pada Ersam.
"Seperti itulah yang harus kamu lakukan Nak kalau bersama dengan calon Istrimu sendiri," tuturnya Nyonya Leni.
"Iya Nek," imbuhnya Ersam.
Rena berharap Ersam terus berusaha untuk menggagalkan rencana pertunangan keduanya. karena hatinya hanya untuk Eka anak buah kepercayaannya Ersam sendiri. Tapi, satupun tidak ada yang mengetahui hal itu.
"Ada yang ingin aku katakan padamu, kita ketemu di kafe di ujung jalan xx, penting,"
__ADS_1
"Oke,"
"Semoga saja ini jalan untuk terbebas dari perjodohan ini, tidak mungkin aku menikah dengan Abang Ersam sedangkan aku hamil pria yang sangat aku cintai," batinnya Rena sambil mengeratkan genggaman tangannya.