
Erwin tersenyum penuh kebahagiaan karena, perempuan yang sudah mengandung calon bayinya itu memperlakukan sangat romantis.
Mereka berdua berjalan bergandengan tangan ke arah area toko supermarket. Mety membantu Erwin Aksa Mahmud untuk berbelanja keperluan rumah dan dapurnya. Dengan telaten,Methy Putri Meutia Hatta memilih apa saja kebutuhan yang cocok untuk pria yang sudah ia cintai itu. Walaupun cintanya tidak terbalas tapi,ia akan menikmati dan menjalani kehidupannya itu dengan rileks dan santai tidak seperti awal ia mengetahui jika dirinya hamil.
"Maaf aku buat berantakan lagi makeupmu ini," ujarnya Erwin yang jarinya masih berada di atas bibirnya Mety.
Mety mengalungkan tangannya ke lehernya Erwin," tidak apa-apa kok Abang, aku suka dan tidak mempermasalahkannya,"
Mety kemudian berbisik di telinganya Erwin," kita lanjutkan lagi nanti, Abang pilih dimana saja tempatnya karena hari ini Bu Rasmi mengijinkan daku untuk pulang ke rumah kontrakan, tapi kalau dirumahku sepertinya enggak bebas Abang," ucapnya dengan penuh sennn suaaaalll dan bernada manja.
Langkahnya terhenti sejenak ketika berada di depan rak lemari yang terpajang beberapa jenis dan macam produk susu formula khusus untuk Ibu hamil. Niatnya ingin mengambil satu kotak, tapi tangannya terhenti dan langsung ia melanjutkan perjalanannya memilih beberapa barang belanjaannya yang tersisa itu.
"Uangku tidak cukup apalagi masih ada sekitar dua minggu baru gajian," lirihnya Mety.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah hampir sampai di antrian tepat depannya kasir.
"Abang coba cek barang-barang belanjaan yang aku pilih, apa sudah lengkap sesuai dengan pilihannya Abang?" Tanyanya Mety.
"Sepertinya masih ada yang kurang satu benda, kau tunggu aku disini kalau sudah gilirannya kamu bayar pakai ini saja," imbuhnya Erwin sambil menyerahkan sebuah kartu kredit ke dalam genggaman tangannya Metty.
"Baik Abang," balasnya Metty.
Metty yang berdiri menunggu kedatangan Erwin menolehkan kepalanya ke arah samping kanannya, karena melihat Ridah Khaerani Azizah Wijaya dengan suaminya Erga Prayoga Yudistira kebetulan juga ikut dalam jejeran antrian yang cukup panjang.
__ADS_1
"Hey Metty," sapanya Ridah.
Mety jadi salah tingkah,panik dan ketakutan jika ketahuan sedang berduaan dengan Erwin yang tidak lain adalah adik sepupunya Ridah
"Ya Allah… semoga saja Abang Erwin belum kembali ke sini jika kami ketahuan maka tamatlah riwayat kami," gumamnya Mety yang sudah bergerak gelisah.
"Kamu kenapa,kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Ridah yang melihat Nety seperti seseorang yang ketakutan sedang melakukan kesalahan.
Erga hanya menatap intens ke arah Mety karena sudah jelas mengetahui apa yang sudah terjadi. Tapi, ia lebih memilih untuk tutup mulut dan diam saja dengan hubungan keduanya.
"Iya Mbak ehh Bu Ridah,saya cuma kelelahan menunggu giliran karena antriannya cukup panjang," kilahnya Metty.
"Ohh, kalau gitu kami duluan yah, assalamualaikum," ucapnya Ridah yang selalu bergandengan tangan dengan suaminya itu.
"Waalaikum salam," lirih Mety yang mengelus dadanya karena bisa terbebas dan bernafas lega.
"Lucu juga yah kalau mereka main petak umpet seperti itu dari orang-orang," bathinnya Erga yang tersenyum tipis.
Mety celingak-celinguk mencari keberadaan pria yang sudah memberikannya kartu kreditnya, hingga kasir menegurnya.
"Maaf Mbak total belanjaannya dua juta lima ratus ribu rupiah," ucap kasir itu.
Mety segera menyerahkan kartu kredit tersebut ke hadapannya kasir.
__ADS_1
"Ini juga Mbak dimasukkan ke dalam belanjaan istriku," ujarnya Erwin yang menaikkan beberapa kotak susu khusus untuk Ibu hamil.
Metty kembali terbengong bengong mendengar perkataan dari Erwin.
"Istriku!" Beonya Meti.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Mety yang awalnya ingin duduk di belakang di cegah oleh Erwin
"Kamu duduk di depan saja karena banyak yang ia ingin aku katakan padamu," pintanya Erwin.
Metty segera membuka pintu bagian depan, lalu duduk dengan manis seraya memakai sabuk pengamannya.
"Mety maafkan saya mungkin selama ini sudah kurang ajar padamu dan tidak bertanggung jawab pada perbuatan ku, tapi mulai detik ini aku akan memenuhi semua kebutuhan bayi kita tapi dengan satu syarat jangan meminta aku bertanggung jawab dengan menikahimu, kalau masalah biayanya insya Allah aku pasti bisa hanya aku belum siap untuk menikah dan berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan serius dengan siapapun itu, juga mulai hari ini kamu tinggal bersamaku di rumahku agar aku lebih mudah menjagamu dengan calon bayiku, semoga kamu setuju dengan persyaratan dan permintaanku ini,"
Erwin segera memutar stok kunci mesin mobilnya itu. Mety hanya terdiam dan sedikit terbantu karena, kebetulan bulan ini adalah terakhir masa kontrakannya di rumah yang sekarang ia sewa.
"Baiklah aku setuju dengan semua itu," ucap Mety.
Erwin kemudian mengemudikan mobilnya menuju alamat rumah kosannya Mety. Karena hanya beberapa pakaian dan barang-barang lainnya yang jumlah tidak seberapa itu proses pemindahannya terbilang cukup cepat selesai dan beres.
"Masuklah itu adalah kamarmu dan masalah barang-barangmu kamu tidak perlu khawatir nanti sore sekitar jam empat orang yang aku gaji untuk membersihkan rumah dan tukang masak akan datang, biarkan ia sendiri yang bekerja merapikannya, Bu Dijah namanya," terangnya Erwin Aksa Mahmud.
Dengan terpaksa,Mety kembali memutar kunci kenop pintu rumah itu. Mety mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.
__ADS_1
"Ya Allah… rumahnya cukup besar, perabotan furniture pasti mahal aku lihat kan bagus-bagus, berlantai dua lagi padahal ia hanya tinggal seorang diri saja, kapan aku juga bisa membelikan ibu dengan adik rumah sebesar ini sedangkan aku sudah hamil dan kemungkinannya aku akan cuti beberapa bulan kedepannya," lirihnya Mety.
"Kamu mandilah di dalam kamarmu kalau sudah selesai kamu naik ke lantai dua aku tunggu kau jangan pakai lama," Perintah Erwin lalu meninggalkan Mety yang masih mengagumi kemegahan rumahnya Erwin.