
Brukkk!!
Suara benda terjatuh begitu besar hingga semua orang yang kebetulan berada di sekitar lokasi area ruangan pimpinan CEO menjadi heboh melihat Methy sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai keramik.
Setelah melihat dengan jelas apa yang terjatuh itu sehingga menimbulkan suara yang cukup bising.
"Methy!" Teriaknya Rasmi yang sudah berlari ke arah Methy Putri Meutia Hatta yang sudah terbaring lemah diatas lantai.
Beberapa orang yang kebetulan berada di lantai lima belas khusus untuk petinggi perusahaan, berlarian setelah mendengar teriakannya Rasmi yang begitu menggema dan nyaring di sekitar daerah tersebut.
"Mety bangun, apa yang terjadi padamu?" Tanyanya Rasmi yang sudah memangku kepalanya Methy sambil menepuk-nepuk pipinya Rasmi.
"Bu Rasmi sebaiknya Metty segera dibawa ke klinik saja untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat," usulnya dari salah seorang dari mereka yang ikut melihat kondisi Methy.
"Benar juga apa katamu, tolong panggil security untuk menbantuku membawa Methy ke ruangan klinik," perintah Rasmi Wulandari Nasution.
Teriakannya itu kebetulan terdengar jelas sampai ke telinganya Erwin Aksa Mahmud. Ia pun segera berjalan cepat ke arah beberapa orang yang berkerumun dengan raut wajahnya yang panik, ketakutan dan juga kebingungan.
"Maaf apa yang terjadi disini?" Tanyanya Erwin.
"Erwin, tolong gendong tubuhnya Metty ke ruangan klinik, karena security sepertinya kalau menunggu kedatangan mereka cukup lama juga, jadi sebaiknya kalau bisa aku meminta tolong dengan kau saja," pintanya Rasmi.
Tanpa banyak bicara dan pikir lagi, Erwin segera mengangkat tubuhnya Methy yang sepertinya bobot tubuhnya bertambah naik beberapa minggu terakhir ini. Erwin nampak begitu cemas melihat perempuan yang selama ini dia sayangi itu dalam keadaan tak sadarkan diri lagi.
"Apa yang terjadi padamu Metty? Saya mohon bangunlah!?" Gumamnya Erwin adik sepupunya Ridah.
__ADS_1
Rasmi mengekor di belakangnya Erwin yang seperti sudah kelelahan menggendong tubuhnya Mety sekretaris suaminya itu yang sudah merubah gaya berpakaiannya itu. Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di dalam ruangan klinik. Metty sudah dibaringkan di atas bangkar ranjang klinik.
Bukanlah lagi dokter Annisa yang bertugas di klinik, karena sejak mengetahui jika Ersam sudah menikah dengan Rasmi dan mereka akan segera punya anak, dokter Nisa memutuskan untuk berhenti bekerja di sana dengan alasan ingin kembali ke daerah asalnya di Sulawesi.
Rasmi dan Erwin dengan seksama melihat apa yang dilakukan oleh dokter Maryam, Rasmi kadang-kadang mengerutkan keningnya melihat raut wajahnya Ibu dokter yang berubah-ubah. Dengan kesabaran Erwin dan Rasmi menunggu sampai dokter itu selesai memeriksa kondisi kesehatannya Methy.
Erga dan Ridah yang mendengar kabar tersebut segera datang ke klinik. Keduanya tidak ingin terjadi sesuatu pada semua karyawan perusahaan yang bekerja dan mengalami insiden seperti ini.
Rasmi penasaran dengan arti dari mimik wajahnya dokter Maryam yang sering berubah-ubah itu," maaf apa yang terjadi dengan teman kami Dokter?" Tanyanya Rasmi yang tidak sabar menunggu Dokter untuk berbicara langsung pada mereka.
"Maaf, pasien hanya kelelahan, kemungkinannya istirahatnya kurang dan tidak teratur sehingga kondisi tubuhnya drop, padahal hal ini sangat berbahaya dan tidak baik untuk tubuhnya dan calon bayinya," jelasnya Dokter Maryam.
"Apa calon bayinya, maksud Dokter apa?" Tanyanya Erwin dengan penuh selidik.
Rasmi terkejut melihat reaksinya Erwin yang tidak biasa itu. Bersamaan dengan kedatangan Ridah dan Erga di tempat tersebut.
Bagaikan disambar petir di siang hari bolong, Erwin betapa terkejut dan kaget mendengar penuturan dari mulutnya Dokter Maryam.
"Kejadian itu tepat sekitar lima minggu yang lalu, Mety sebelum kami berdua melakukannya masih dalam keadaan pee raaa waan, apa jangan-jangan itu adalah anakku calon bayiku?" Batinnya Erwin.
"Maksudnya dokter, Methy mungkin minum obat peluruh kandungan dan bisa menyebabkan keguguran?" Tanyanya Ridah yang ikut penasaran dengan apa yang terjadi pada Mety yang menurutnya sangat prihatin dengan kondisinya Mety.
"Sepertinya pria ini tidak ingin bertanggung jawab dengan apa yang telah ia perbuat sehingga menyarankan kepada Mety untuk menggugurkan dan membunuh bayi yang sama sekali tidak berdosa," Geramnya Rasmi.
"Jadi solusi yang tepat untuk Mety dokter dan apa masih bisa diselamatkan calon babynya?" Tanyanya Ridah lagi yang ikut mengkhawatirkan keadaannya Mety gadis yang selalu ceria walaupun diawal bekerja rada-rada bikin hati dan jiwa emosi.
__ADS_1
Rasmi Wulandari Nasution menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang ia dengar langsung. Selang infus sudah terpasang dipergelangan tangan kanannya Methy.
"Ya Allah… apa yang terjadi ini? Metty kan masih gadis dan belum menikah jadi siapa pria yang telah tega melakukan itu padanya?" Ujarnya Rasmi yang sangat sedih dan miris melihat nasibnya Metty.
Raut wajahnya Erwin spontan ketakutan sekaligus marah dengan sikapnya sendiri. Karena gara-gara sikap dan perkataannya selama ini yang mengatakan dan mewanti-wanti Methy untuk jangan sampai dia hamil dan meminta pertanggungjawaban darinya yang tidak mungkin ia lakukan.
"Apa karena perkataanku tempo hari sehingga Methy memilih jalan seperti ini?" Erwin membatin.
"Tapi, apa yang seharusnya kami perbuat agar bayi ini selamat?" Tanyanya Ridah.
"Insya Allah…masih bisa diselamatkan asalkan jangan sampai ia kembali mengkonsumsi obat tersebut karena jika,ia minum obat itu lagi janin yang ada di dalam kandungannya akan tiada, jadi tolong diawasi dengan baik agar kejadian seperti yang serupa tidak kembali terjadi dan mencoba untuk berusaha membunuh anaknya," terangnya Dokter panjang lebar.
"Makasih banyak dokter," ucapnya Rasmi.
"Sama-sama, saya akan resepkan obat khusus untuk penguat kandungan dan beberapa vitamin karena kondisinya sangat lemah," imbuhnya dokter.
"Kalau saya tahu siapa pelakunya akan saya cincang-cincang dan giling halus tubuhnya pria brengsek itu yang hanya mau enaknya saja, tapi tidak mau bertanggung jawab, makanya kalau enggak mau bertanggung jawab harus menghindari kekakuan seperti itu," umpatnya Ridah.
Rasmi duduk di ujung ranjangnya Mety, sembari memperbaiki letak anak rambutnya yang menutupi keningnya itu.
"Emang pertama kenal aku tidak suka dengan sikapnya yang selalu berpakaian seksi, tapi aku cukup heran karena hanya sehari setelah aku tegur anak ini langsung berubah drastis kelakuan dan sikapnya,ia juga pintar dan selalu bekerja dengan baik dan profesional makanya saya pertahankan dia bekerja di sini, dan mirisnya ia punya ibu sakit-sakitan dan adiknya tiga orang yang masih butuh biaya besar, sedangkan bapaknya dua tahun lalu meninggal dunia," ungkapnya Ridah.
Mereka berempat duduk di atas sofa di dalam ruang tersebut seraya berbincang-bincang santai dengan nasibnya Methy.
"Tapi menurut kamu Ras, siapa pria yang dekat dengannya karena masalah pribadi urusan asmaranya agak tertutup dan juga saya tidak pernah melihat ia dekat dengan seorang pria manapun," tuturnya Rasmi.
__ADS_1
Erwin mulai terpojok dan tersudutkan dengan situasi yang terjadi. Ia sudah nampak mulai panik dan gelisah. Hingga perkataan Erga Prayoga Yudistira mampu mengalihkan perhatian semua orang dan tertuju pada Erwin.
"Apa jangan-jangan kamu adalah pria itu Erwin!?" Tanyanya Erga dengan tersenyum penuh arti sembari menyadarkan kepalanya ke arah belakang.