
"Pak Erwin ternyata membelikan calon anaknya susu untukku, aku kira dia tidak akan perhatian pada kami,"
Dengan terpaksa,Mety kembali memutar kunci kenop pintu rumah itu. Mety mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.
"Ya Allah… rumahnya cukup besar, perabotan furniture pasti mahal aku lihat kan bagus-bagus, berlantai dua lagi padahal ia hanya tinggal seorang diri saja, kapan aku juga bisa membelikan ibu dengan adik rumah sebesar ini sedangkan aku sudah hamil dan kemungkinannya aku akan cuti beberapa bulan kedepannya," lirihnya Mety.
Methy masih mengagumi keindahan dari arsitektur rumahnya Erwin. Dengan berjalan perlahan masuk ke dalam kamarnya itu. Ia baru pertama kali ini menginjakkan kakinya kamar tidur yang sebesar itu. Biasanya hanya kamar tidur di hotel bintang lima saja.
Methy Putri Meutia Hatta hanya gadis kampung yang hidup dalam serba pas-pasan. Rumahnya pun yang di desa hanya punya kamar tiga buah saja. Sehingga kedua adiknya hanya berbagi tempat tidur.
"Ya Allah… semoga kelak aku bisa membelikan rumah yang ssgede ini untuk ibu sama adikku di rumah." Batinnya Metty.
Methy segera masuk ke kamar mandi,ia kembali melongok tidak percaya melihat perlengkapan mandi khusus perempuan sudah tersimpan rapi di tempatnya.
"Apa kamar mandi dan semuanya sudah dia persiapkan untuk kekasihnya yah? Pantesan sudah lengkap," tebaknya Mety.
Mety segera mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat. Ia berendam di dalam bathub dengan busa sabun aromaterapi yang melimpah. Karena teringat dengan perkataan dari Erwin, ia segera menyelesaikan mandinya walaupun ia enggan untuk bangkit dari dalam bathtub itu karena masih ingin berlama-lama di dalamnya, tapi ia tidak ingin mendapatkan omelan dari Erwin Aksa Mahmud pemilik rumah itu.
Mety memoles dirinya secantik mungkin, dengan memakai semua perlengkapan make up yang sudah tersedia di lemari meja riasnya itu. Dengan senang hati Mety tahu kalau itu bukan barang miliknya, tapi baginya ini hanya pinjam punya orang untuk sementara waktu.
Mety lagi-lagi dibuat tercengang ketika melihat isi di dalam lemari. Semua pakaian itu sesuai dengan ukurannya dengan merek dan harga yang cukup bagus dan mahal. Dia kebingungan untuk memilih pakaian apa yang akan dia pakai, hingga dering hpnya berbunyi memecahkan kebingungannya itu.
"Halo Pak Erwin," sapanya Methy.
__ADS_1
"Kamu pakai pakaian yang masih ada di dalam paper bag, kamu lihat kan yang ada di atas ranjang," imbuhnya Erwin.
Methy segera mengalihkan pandangannya ke arah atas ranjang tanpa berbicara sepatah katapun.
"Kamu pakai itu pakaian dan saya tidak ingin ada kata tidak ataupun penolakan,"
Sambungan telpon pun terputus secara sepihak. Mety segera berjalan ke arah ranjang dan meraih paper bag tersebut. Matanya terbelalak ketika tangannya mengangkat ke atas isi pakaian dari tas tersebut.
"Ya Allah… ini kan lingerie, ihh Pak Erwin kenapa juga nyuruh aku pakai pakaian seperti ini," kesalnya.
Dengan terpaksa dan berat hati,ia memakai pakaian itu. Ia cukup terkejut melihat dirinya dipantulan cermin. Ia tersenyum bangga dengan bentuk tubuhnya yang semakin padat dan berisi, sejak ia mengandung calon anaknya Erwin Aksa Mahmud.
Mety berjalan menaiki undakan tangga satu persatu dengan memakai sweater Hoodie diluarnya, karena ia tidak ingin jika art nya Erwin datang tiba-tiba dan melihatnya seperti itu.
Methy memutar kenop pintu itu dan melihat kearah dalam kamar, tapi tidak melihat keberadaannya Erwin. Hingga telinganya mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
"Mungkin lagi mandi," gumamnya Mety seraya membuka sweater nya itu.
Mety duduk di ujung ranjang sambil mengedarkan pandangannya untuk melihat kondisi kamarnya Erwin yang cukup besar dari pada kamar tidurnya yang diberikan oleh Erwin untuknya. Pelukan dari Erwin dari arah belakang membuatnya tersentak kaget.
"Kamu sangat cantik sayang, aku suka sekali melihatmu seperti ini," ujarnya Erwin sambil memeluk tubuhnya Mety dari belakang.
Wangi nafasnya Erwin dengan rasa khusus cowok yang segar itu menyentuh dengan lembut tengkuknya yang terekspos dengan jelas. Karena Nety mengikat ekor kuda rambutnya itu.
__ADS_1
"Kamu hanya gadis desa tapi, mampu memporak-porandakan hati dan jiwaku, tapi maafkan aku yang belum siap untuk menjalin hubungan yang lebih serius kejenjang pernikahan, kamu tidak marah dan kecewakan dengan ucapan ku ini, tapi kamu tidak perlu khawatir, karena semua kebutuhanmu, calon baby kita dan adik-adik serta ibumu guwe yang akan tanggung semuanya asalkan jangan minta untuk saat ini pernikahan," tuturnya Erwin yang memilih untuk jujur saja.
Mety tersenyum simpul," tidak apa-apa kok Pak ini saja aku sudah bersyukur karena Pak Erwin mau menafkahi calon anak kita," ucapnya Merty dengan malu-malu.
Tanpa ragu sedikitpun, Erwin langsung membalik tubuhnya Mety dan langsung menindihnya. Metty diserang dengan perlakuan seperti itu, hanya terdiam tanpa perlawanan apapun.
"Mulai detik ini semua yang ada padamu adalah milikku, tidak boleh ada pria lain yang menyentuh dirimu Ingat itu," tegasnya Erwin.
Metty hanya terdiam dan menikmati apa yang selajutnya dilakukan oleh Erwin diatas tuuuu buuuh nya. Seolah dia sudah pasrah dan berdamai dengan kehidupannya itu. Dia tidak mungkin berani menuntut Erwin untuk menikahinya, karena itu tidak mungkin dipenuhi oleh Erwin Aksa Mahmud yang sudah jelas-jelas mengatakan jika, ia tidak ingin terikat oleh hubungan pernikahan apapun.
"Tidak apa-apa yang paling penting masa depan calon bayiku terjamin, aku ikhlas melakukan apapun yang dia inginkan," Mety membatin.
"Ada apa dengan perempuan ini, sihir apa yang dia lakukan padaku hingga aku tidak bisa mengendalikan diriku jika berdekatan dengannya, apalagi melihatnya manut dan penurut seperti ini, aku semakin ingin melahapnya hingga habis," cicitnya Erwin yang terus menjelajahi setiap inci sudut tubuhnya Mety.
"Pak Erwin pelan saat itu, aku lagi mengandung," ucapnya Mety dengan raut wajahnya langsung memerah setelah berbicara seperti itu.
Erwin pun segera melakukan apa yang diinginkan oleh otak dan tubuhnya. Ia melakukannya awalnya dengan sangat hati-hati dan pelan. Si jago sudah beraksi di tempat favoritnya itu. Tapi, lambat laun sedikit kasar dan cepat. Hingga deee saaa haan kecil keluar dari bibir tebalnya Mety yang terlihat seksi itu.
Tangannya Mety mencengkram erat punggungnya Erwin. Keduanya sama-sama memberikan kebahagiaan yang hakiki dan tiada terkira. Walaupun dalam hubungan yang terjalin tanpa ada status yang jelas dan resmi dari keduanya.
Hingga tubuhnya Erwin terjatuh, lemas, terkulai di sampingnya Mety yang nafasnya memburu dan ngos-ngosan. Suara deru nafas mereka disore itu memenuhi setiap sudut penjuru kamarnya. Peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh mereka.
"Saya sangat bahagia, thanks," lirihnya Erwin lalu mengecup sekilas keningnya Mety sebelum memejamkan matanya itu.
__ADS_1
Erwin langsung tertidur tengkurap di samping Mety setelah kegiatan mereka yang cukup begitu panjang durasinya.