
Erwin segera memeluk tubuhnya Metty Putri Meutia Hatta agar dia bisa tenang dalam keadaan tak ada selembar kain pun menutupi seluruh tubuhnya itu. Mety segera terdiam dan menghentikan tangisannya itu setelah mendengar bujukan dan perkataan dari mulutnya Erwin.
Baru kali ini Merty melihat sikapnya Erwin yang tidak seperti biasanya itu. Ia mulai gemetaran ketakutan, air matanya menetes membasahi pipinya itu. Dia mulai sesegukan tersedu-sedu dan membuat Erwin mengerutkan keningnya itu pertanda keheranan melihat reaksinya Mety.
Erwin spontan memeluk tubuhnya Mety dengan penuh kelembutan dan kasih sayang," sayang kenapa kamu menangis? Abang tidak akan menyakitimu kok, Abang hanya ingin berjumpa dengan calon anakku, kan sudah tiga hari aku tidak menengok calon anak kita," imbuhnya Erwin seraya mengecup keningnya Mety.
Tanpa terduga Mety tersenyum penuh kemenangan melihat sikapnya Erwin Aksa Mahmud yang seperti sekarang ini. Mety langsung membalik tubuhnya Erwin dan sekarang dia yang berada di atas dan mengungkung tubuhnya Erwin Aksa Mahmud dengan memperlihatkan seringai liciknya itu.
Erwin hanya tersenyum menanggapi sikap dari Mety yang sungguh berani memimpin jalannya kegiatan mereka berdua. Suara nafas ngos-ngosan yang memburu dan betapa merdunya dee saaa haaan dari keduanya seperti alunan melodi yang memenuhi setiap sudut penjuru kamar pribadinya Mety hingga mereka lupa daratan dengan lupa mengunci rapat pintu kamarnya itu.
Hingga jam sembilan malam, keduanya belum mengakhiri kegiatan keduanya untuk saling memberi kebahagiaan hakiki hingga seolah mereka akan terbang ke puncak langit tertinggi di negeri kayangan. Mety tersenyum puas ketika Erwin berteriak ketika mencapai puncak nirwana dalam sekali hentakan keras yang cukup berarti.
Teriakan dari seseorang mampu memecahkan keheningan malam itu," Erwin Aksa Mahmud! Apa yang kamu lakukan!?" Teriaknya seorang perempuan yang kondisi tubuhnya tidak berbeda jauh dengan apa yang dialami oleh Mety yang menggelegar di dalam rumah itu hingga mampu memekakkan gendang telinga yang mendengarnya itu.
"Mbak Ridah!" Beonya Erwin.
__ADS_1
Benar sekali perempuan hamil yang datang berkunjung di rumahnya tengah malam itu adalah kakak sepupunya sendiri Ridah Khaerani Azizah Wijaya sekaligus rekan kerjanya di perusahaan yang sama milik Ersam Arsenio Dewantara itu.
Erwin dan Mety segera memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa, untung pria yang menemaninya tidak lain adalah suaminya sudah paham dengan situasi yang terjadi di dalam sana sehingga ia tidak ikut masuk melihat adegan yang keduanya lakukan itu.
Metty terus menunduk wajahnya sembari memunguti pakaiannya yang tercecer di atas lantai. Erwin pun seperti itu juga,ia tampak tergesa-gesa memakai satu persatu baju dan celananya tersebut.
"Cepat! Jangan lelet seperti siput karena saya ingin meminta penjelasan apa yang telah terjadi di dalam sini!" Perintahnya Ridah dengan sedikit meninggikan nada dan volume suaranya itu.
Erga Prayoga Yudistira tersenyum penuh maksud melihat raut wajah istrinya itu yang datang-datang seperti seseorang yang menahan amarahnya, emosi yang akan siap meledak kapan saja dalam waktu yang dekat pula.
Ridah sama sekali tidak menggubris perkataan dari mulut suaminya itu. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa buludru cokelat yang berwarna beradafi dalam ruangan tengah yang dipakai sebagai ruang berkumpul keluarga besar.
Mety berjalan bergandengan tangan dengan Erwin Aksa Mahmud di depannya. Metty sama sekali tidak berani untuk menegakkan kepalanya ke atas untuk bertatapan langsung dengan Ridah dan suaminya itu, karena ia sangat malu dengan kejadian seperti itu.
Mety meremas genggaman tangannya itu," ya Allah… semoga saja Mbak Ridah tidak melaporkan kami ke pihak yang berwajib karena perbuatan kami ini yang berhubungan tanpa ada status pernikahan yang mengikat ku dengan Abang Erwin," Mety membatin.
__ADS_1
Erwin terus berjalan di depannya Mety seolah dia sedang melindungi tubuhnya Mety dari tatapan murka yang dilayangkan oleh Ridah untuk mereka berdua. Erwin dan Mety pun duduk saling berdampingan.
"Erwin jawab pertanyaan Mbak, sudah berapa lama hubungan kalian ini?" Tanya Ridah sembari mengurut pelipisnya itu.
"Sudah hampir enam bulan Mbak," jawab Erwin dengan jelas.
Erga mengelus punggung tangan istrinya itu agar ia sadar tidak boleh terlalu emosi mengingat jika ia sedang hamil seperti usia kehamilannya Mety jalan enam bulan juga. Ridah menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup panjang.
"Apa benar bayi yang dikandung Mety adalah anakm" tanyanya lagi Ridah dengan penuh selidik sambil menatap dalam ke dua bola matanya Erwin Aksa Mahmud adik sepupunya dari pihak bapaknya yang bersaudara kandung dengan ibunya Erwin tersebut.
"Saya adalah pria bego, bodoh, egois dan pengecut yang sudah merenggut ke suu ciaan anak orang tapi, tidak berani bertanggung jawab terhadap apa yang sudah saya lakukan, saya adalah calon ayah dari anak yang dikandung oleh Mety Putri Meutia Hatta," ungkap Erwin dengan penuh keyakinan.
"Terus apa kamu hanya ingin terus-menerus menikmati tapi, tidak berani bertanggung jawab ha!! Apa itu namanya bukan pria brengsek yang berani berbuat tapi, tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri!" Cibirnya Ridah yang berpaling dari hadapannya Erwin karena jengah dan kesal dengan sikap dari Erwin sendiri.
Merty mulai meneteskan air matanya itu dan sesegukan dan sesekali menyeka air matanya tersebut.
__ADS_1