
Waktu terus berlalu, hingga Rasmi Wulandari Nasution dengan Mety Putri Meutia Hatta tidak menyadari sudah waktu adzan shalat dhuhur. Keduanya baru bisa berdiri dari duduknya sambil merenggangkan kedua tangannya untuk meluruskan beberapa otot-ototnya yang kaku itu.
Mety sama sekali tidak curiga dengan maksudnya Rasmi mengajaknya untuk bertemu dan makan siang bareng. Sebenarnya Rasmi sudah beberapa kali melihat dia dan Erwin Aksa Mahmud salah satu menejer di perusahaan suaminya itu sekaligus adik sepupunya Ridah sahabatnya itu.
Seperti tadi, ia melihat Mety keluar dari dalam mobilnya Erwin dan ini bukan yang pertama kalinya, tetapi sudah kerap kali menjadi saksi kejadian tersebut.
"Ya Allah… hampir saja lupa kalau aku ada janji dengan Bu Rasmi," gumamnya Mety.
Metty segera membereskan pekerjaan lalu menyimpan file-filenya yang sudah ia kerjakan ditempat yang aman.
"Sepertinya akan makan enak siang ini, apa kamu suka nak?" Cicitnya Mety yang mengajak calon anaknya untuk berbicara sembari mengelusnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
__ADS_1
Sedang di dalam ruangan lain,Rasmi juga tidak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh Nety sekretaris dari suaminya itu.
"Mungkin aku chat Mety agar menunggu beberapa menit dulu, aku mau shalat soalnya," gumam Rasmi lalu mengirimkan pesan chat ke nomor hpnya Mety.
Dengan sigap Mety membalas pesan tersebut," enggak apa-apa kok Bu, lagian saya juga mau shalat di Mushola, gimana kalau kita ketemu di loby perusahaan saja,"
Ting…
Sebuah pesan chat masuk kembali ke hpnya, tapi Rasmi tidak sempat membacanya karena, ia sudah mengambil air wudhu untuk membasuh sebagian tubuhnya itu.
Rasmi mengganti pakaiannya sebelum meninggalkan ruangan suaminya itu. Ia merasa gerah dengan pakaiannya yang sejak tadi pagi ia pakai. Di dalam kamar rahasia milik suaminya itu terdapat sebuah kemari pakaian khusus untuk dirinya dan suaminya yang terbilang cukup banyak lengkap dengan hijab,tas dan sepatu serta sandalnya. Seolah seperti rumah keduanya saja.
__ADS_1
Mety berulang kali melihat ke arah jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya itu," Bu Rasmi kok lama banget," cicitnya Mety.
Mety berjalan mondar-mandir di depan lobi perusahaan, hingga sudut ekor matanya melihat seseorang yang berjalan bergandengan tangan dengan penuh kemesraan. Hatinya langsung sakit dan perih seolah ada ribuan jarum yang langsung menikam seluruh jantung dan hatinya itu.
Metty memegang dadanya serta meremas pakaiannya itu. Dia tidak menyangka pria yang tidak ingin menjalin hubungan resmi denganya bersama dengan seorang wanita yang berpakaian sangat seksi. Ia menitikkan air matanya menetes membasahi pipinya itu.
"Ya Allah… aku harus kuat, aku tidak boleh sedih dan hancur lagian ini sudah menjadi pilihanku dan keputusan kami sendiri untuk tidak boleh melibatkan perasaan masing-masing, hubungan simbiosis mutualisme antara kami cukup membuat ketiga adik dan ibuku bercukupan, calon baby kami juga sudah terjamin kehidupannya jadi, aku tidak boleh sedih, cemburu hingga membencinya," Lirihnya Mety.
Dia segera buru-buru menyeka air matanya sebelum ada orang lain yang melihat kesedihannya. Tanpa sepengetahuan Mety, Rasmi melihat apa yang terjadi padanya sejak tadi. Rasmi mengarahkan pandangannya ke arah Erwin Aksa Mahmud adik sepupunya Ridah Khaerani Azizah Wijaya Istri dari Erga Prayoga Yudistira.
"Sepertinya betul dugaanku selama ini jika mereka ada hubungan istimewa dan kemungkinan besarnya adalah Erwin pria yang telah menaburkan benihnya tapi, tidak ingin bertanggung jawab atas perbuatannya itu, sepertinya aku akan mencari tahu semua masalah ini," batinnya Rasmi.
__ADS_1
Erwin melihat dengan jelas Metty yang selalu bersamanya melewati hari-harinya itu. Perempuan yang selalu menyediakan semua kebutuhannya baik di dapur maupun diranjang tanpa pernah mengeluh sedikitpun itu.
"Maaf, aku harus membuatmu membenciku agar kamu segera pergi dari sisiku, aku tidak ingin melihatmu semakin terluka dengan hubungan tidak jelas yang kita bangun," Erwin membatin.