
"Apa!? Jadi Mas Rudi kenal dengan Rasmi!?" Cecarnya Erna Prasetyo mantan adik iparnya seraya menunjuk ke arah Rasmi.
Matanya melotot seolah akan melompat dari dalam kelopak matanya, mulutnya menganga raut wajahnya seketika berubah dari rasa bangga yang berlebih-lebihan sekarang seakan-akan sudah menguap begitu saja.
Pria itu tersenyum malu-malu di depan Rasmi," ehh ibu Rasmi kita berjumpa di sini rupanya," ucapnya Rudi salah satu security dari perusahaan tempat ia bekerja sekaligus milik Ersam Arsenio Dewantara.
Erna kaget dan tidak percaya jika pacarnya itu adalah saling kenal dengan Rasmi dan menyebut namanya Rasmi dengan sebutan Ibu. Rasmi ingin tertawa melihat kesombongan Erna hilang dalam sekejap mata.
"Iya dek, Mas kenal Mbak Rasmi Wulandari Nasution ini sekretaris CEO di perusahaan tempat kami bekerja," jelasnya Rudi Rubiandini.
"Ini tidak mungkin, pasti ada kesalahan deh, Mas apa tidak salah dengan perkataan Mas barusan?" Matanya melotot menatap ke arah Rudi.
Erna tidak terima mendengar kenyataan bahwa Rasmi posisi nya di perusahaan lebih bagus dari kekasihnya itu.
"Maaf Mas saya buru-buru soalnya jadi aku tinggal yah masih banyak yang harus aku beli di dalam," imbuhnya Rasmi yang berpamitan kepada Rudi dan Erna yang berdiri mematung dengan ekspresi wajah yang sangat jelek.
Rasmi berjalan ke arah dalam swalayan indo April tanpa beban sedikit pun. Ia sama sekali tidak menggubris ataupun mengambil hati semua hinaan yang ditujukan untuknya dari adik almarhum suaminya Eko Prasetyo.
"Mas katakan padaku, Mas itu bekerja di sana sebagai apa kenapa posisinya di kantor Rasmi lebih tinggi dari Mas!?" Bentaknya Erna sambil memegang kedua tangannya Rudi dengan sedikit menggoyangnya.
Rudi berusaha tersenyum, "Saya sebagai security Erna, tapi walaupun saya hanya sebagai security saja tapi gaji saya cukup tinggi dan bisa belikan apapun yang kamu minta," jelasnya Rudi yang mulai takut jika kekasihnya itu pergi meninggalkannya hanya karena tahu pekerjaannya yang sebenarnya.
"Maaf! Sebaiknya kita putus saja saya malu punya kekasih seorang penjaga keamanan biasa sepertimu, mau ditaruh dimana mukaku ini jika keluarga, tetangga dan teman-temanku mengetahui jika kamu bukanlah seorang menejer keuangan tetapi, hanya seorang security!" Sarkasnya Erna sembari menunjuk ke arah dadanya Rudi dan menekan beberapa perkataannya itu.
__ADS_1
Rudi terkejut mendengar perkataan dari Erna yang memutuskan hubungannya dengan sepihak. Ia pun cukup heran karena,Erna mengatakan kepada orang-orang tentang pekerjaannya sebagai menejer keuangan.
"Pantesan keluargamu sangat menyanjung dan menghormatiku karena,ini alasannya rupanya, tapi aku heran dengan keluargamu sudah miskin belagu dan sok punya harta yang banyak, Erna Ingat baik-baik saja, saya Rudi Rubiandini sama sekali tidak masalah kamu putuskan tapi,saya sangat rugi karena sudah banyak barang-barang mewah yang aku belikan untukmu termasuk uang tunai yang setiap minggunya kamu minta tolong balikin semuanya tanpa kekurangan sepeserpun!" Tegasnya Rudi di depan orang banyak.
Awalnya tidak ada yang sama sekali memperhatikan mereka, tapi karena suaranya Erna yang cukup nyaring membuat beberapa orang yang kebetulan berada di sana memperhatikan apa yang mereka lakukan.
Erna cukup dibuat malu karena Rudi tak segan-segan meminta dan mengungkit semua pemberiannya dan apa yang sudah ia korbankan selama mereka pacaran yang terbilang singkat itu.
"Apa!? Bagaimana caranya aku balikin pada Mas sedangkan semuanya sudah aku pakai," keluhnya Erna yang mulai tampak gelisah dan kebingungan dengan sikapnya Rudi yang langsung berubah drastis.
Rudi tersenyum kecut dan meremehkan," Saya tidak mau tau alasannya apapun, yang jelasnya kamu harus balikin sekarang juga dan satu hal yang perlu kamu ketahui jika, aku tidak pernah kurang stok perempuan yang mau sama saya bahkan saya bisa dapat sepuluh perempuan yang lebih bagus dan cantik dari kamu, apalagi kamu itu wanita yang tidak pee raaa wan lagi," ketusnya Rudi yang suaranya cukup terdengar jelas hingga ke dalam swalayan tersebut.
Rasmi hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap kekanak-kanakan mereka.
"Erna semoga kamu bisa mengambil sikap dan pelajaran dari apa yang kamu alami hari ini,"
Rasmi menaiki motornya karena sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya. Ia tidak terpengaruh dengan kejadian yang barusan dialaminya. Baginya itu sudah biasa terjadi di dalam hidupnya.
Dua bulan kemudian, sejak Ersam Arsenio Dewantara sama sekali tidak muncul di hadapannya Rasmi Wulandari Nasution sesuai dengan keinginannya Rasmi sendiri. Rasmi tidak memungkiri, jika dia juga merindukan sosok suaminya yang baru hitungan minggu dan bulan menikahinya itu.
"Assalamualaikum," lirihnya Rasmi ketika baru saja kembali dari kantornya.
Rasmi berjalan ke arah dalam rumahnya dengan sempoyongan karena tiba-tiba kepalanya pusing.
__ADS_1
"Ya Allah… apa yang terjadi padaku kenapa kepalaku pusing sekali," keluhnya Rasmi memegangi kepalanya yang masih tertutup hijab.
Rasmi berjalan ke arah kamarnya untuk beristirahat sejenak dan tidak lupa mengunci rapat pintunya karena, tidak ingin seperti sebelum-sebelumnya yang sering teledor melupakan pintu rumahnya, walaupun komplek perumahannya cukup aman.
Rasmi merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu," mungkin rebahan beberapa menit bisa memulihkan tenaga dan juga kepalaku akan enakan," lirihnya Rasmi.
Keesokan harinya, kondisi tubuhnya Rasmi masih kurang fit tapi, dikarenakan hari ini kedatangan beberapa petinggi perusahaan di kantornya sehingga mengharuskan dia harus dan wajib masuk kantor.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga saja aku bisa, Rasmi kamu harus kuat sakit kepala ringan seperti ini saja masa mengalahkanmu," cicitnya Rasmi yang menyemangati dirinya sendiri.
Dengan kecepatan yang sangat pelan, Rasmi mengemudikan motornya dan bergabung dengan pengendara lainnya yang kebetulan hari ini cukup padat. Rasmi juga sudah mengoleskan aromaterapi ke tengkuk lehernya.
Hanya butuh waktu sekitar setengah jam perjalanan dari biasanya yang apabila tidak macet maka akan dia tempuh dengan waktu yang hanya sekitar dua puluh menit saja.
"Assalamualaikum dan Selamat datang Mbak Rasmi," sapanya Rudi dengan senyum khasnya.
"Waalaikum salam, makasih atas sambutannya Pak Rudi," jawabnya Rasmi yang berusaha tersenyum walaupun keadaan dan kondisi kesehatannya tidak stabil saat itu.
Rasmi berjalan sangat pelan ke arah lift, hingga kepalanya berkunang-kunang dan penglihatannya mulai kabur. Ia tetap berusaha untuk berjalan ke arah lift. Tetapi, karena tidak berhati-hati berjalan diantara banyaknya karyawan yang berdesakan dan berlomba untuk masuk ke lift tubuhnya kesenggol hingga keseimbangan kakinya tidak bagus dan akhirnya oleng.
Kejadian tersebut semakin diperparah karena, kepalanya yang semakin terasa berat dan pusing. Rasmi berusaha sekuat tenaga yang ia miliki itu untuk berdiri tegak, tapi apa daya pandangannya semakin tidak bisa dikondisikan hingga tubuhnya pun terjatuh ke atas lantai keramik.
"Rasmi!" Teriaknya Ridah Khaerani Azizah Wijaya yang kebetulan berada di dalam lift segera berlari keluar untuk membantu Rasmi.
__ADS_1
Beberapa orang segera berjalan terburu-buru untuk membantu Rasmi yang pingsan, untung saja ada seseorang yang dengan gesit dan cekatan serta lincah membantu Rasmi, agar tubuhnya tidak terjerembab ke atas lantai yang dingin itu.
Orang itu segera menggendong tubuhnya Rasmi menuju klinik perusahaan. Ridah mengikuti langkah orang yang menolong Rasmi sedang yang lainnya bubar kembali ke aktifitas dan rutinitas mereka masing-masing.