
Ersam melongok tidak percaya jika ia teledor melupakan mengunci pintunya.
"Ohh," jawabnya Ersam yang kembali ke mode cool dan wajah datarnya itu.
"Ini anak pintar banget dalam sekejap mata mampu merubah ekspresi raut mimik wajahnya dari gembira dan sekarang datar seperti sedatar tembok saja," Erick membatin
Satu minggu kemudian, sejak Rasmi terluka Ersam Arsenio Dewantara semakin menunjukkan rasa peduli dan perhatiannya pada Rasmi istrinya bahkan perlahan ia seolah melupakan insiden kematian yang sudah disebabkan oleh ulahnya sendiri saking bahagianya mendapatkan perempuan yang sudah lama ia cintai.
Rasmi hari ini berangkat ke perusahaan tempat ia mendaftar beberapa hari lalu sekaligus menjadi hari beberapa tes yang harus dilaluinya.
"Bismillahirrahmanirrahim semoga hari ini tesnya berjalan lancar dan aku keterima sebagai sekretarisnya CEO perusahaan tempat ini," gumamnya Rasmi yang segera menyelesaikan kunyahan makanannya itu.
"Kamu kenapa aku perhatikan sedari tadi seperti orang yang makan diburu penjahat saja," ketusnya Ersam Arsenio Dewantara yang melihat istrinya makan tidak seperti biasanya.
Rasmi yang mendengar perkataan dari suaminya itu segera menghentikan kegiatannya," aku harus datang tepat waktu Abang ini kan hari tesnya kalau terlambat bisa saja mempengaruhi penilaian beberapa orang di sana," balasnya Rasmi Wulandari.
"Semoga berhasil dan ingat kamu harus berhati-hati cukup kemarin kamu terluka coba sayangi dirimu sendiri jangan hanya orang lain yang kamu perhatikan sedangkan diri sendiri kau lupakan," dengusnya Ersam sembari mengelap ujung sudut bibirnya itu.
Ersam berdiri di depannya Rasmi lalu menyimpan sebuah amplop putih," ini ada sedikit uang belanja, maaf hanya sedikit saja ini sisa dari gajiku dan semoga bermanfaat untuk keperluan kamu sehari-hari, Abang sudah pisah untuk uang belanja kamu dengan uang kebutuhan pokok,"
Ersam segera berlalu dari hadapannya Rasmi yang melongok tidak percaya karena setelah dua minggu menikah ini pertama kalinya mendapatkan uang belanja dari suaminya.
__ADS_1
"Makasih banyak Abang," cicitnya Rasmi.
Rasmi refleks mengambil amplop tersebut kemudian membuka perekat dari amplop tersebut. Lagi-lagi Rasmi dibuat tidak percaya dengan kenyataan yang ada di depannya.
"Apa aku tidak hanya bermimpi yah mendapatkan uang sebanyak ini? Sebenarnya apa sih kerjaannya Abang Ersam hingga dapat uang sebanyak ini," gumam Rasmi
Rasmi yang sangat bahagia karena seumur hidupnya baru kali dikasih uang belanja bulanan dari suaminya sedangkan Eko Prasetyo almarhum suaminya dulu memberikan uang setiap bulannya paling tinggi lima juta perbulan bahkan kadang hanya sedikit atau setengahnya dari itu. Selama mereka menikah tiga tahun lamanya.
"Senyuman itu yang selalu aku rindukan kalau bisa aku akan beli senyumanmu dengan semua harta kekayaan yang aku miliki yang penting kamu selalu tersenyum padaku," bathin nya Ersam yang diam-diam ternyata belum berangkat ke kantornya karena masih ingin melihat reaksinya Rasmi Wulandari.
Istri mana yang tidak bahagia jika diberikan uang saku lebih dari dua puluh juta dalam sebulan dan kebutuhan sehari-hari pun sudah dipenuhi oleh suaminya itu.
Rasmi sudah memikirkan banyak hal yang akan dia lakukan jika mendapatkan uang sebesar itu setiap bulannya.
"Itu tidak boleh terjadi, aku tidak boleh memakai sepeserpun uang ini, aku lebih baik menabungnya di bank saja lagian aku akan bekerja karena, aku tidak mau dicap perempuan matre walaupun matre dengan suami sendiri itu tidak masalah," lirihnya.
Satu jam kemudian, Rasmi sudah duduk di antara beberapa orang yang nasibnya sama yaitu sama-sama mencari pekerjaan untuk melanjutkan kehidupannya mereka masing-masing yang memiliki kehidupan dan kebutuhan sehari-hari yang pastinya berbeda-beda.
Serangkaian tes yang diterima oleh Rasmi berjalan lancar dan mulus. Betapa bahagianya Rasmi setelah dinyatakan lulus seleksi dan diterima sebagai sekretaris CEO perusahaan besar tersebut yaitu identitasnya sangat dirahasiakan.
"Selamat datang sayangku, kamu sudah diterima bekerja di sini dan semoga kamu bisa menunjukkan kepada mereka bahwa kamu berkompeten dalam pekerjaan dan tidak lulus karena mendapatkan koneksi dari saya," sarkasnya Ridah yang sengaja membesarkan suaranya ketika berbicara karena sewaktu di dalam salah satu toilet ia mendengar ada beberapa perempuan yang bergosip dan membicarakan tentang sahabatnya itu yang kebetulan orangnya ada di sampingnya Rasmi.
__ADS_1
"Ahh Kamu bisa saja deh, semua rezeki seseorang kan sudah diatur dan ditentukan oleh Allah SWT lagian kalau pun ada yang lulus karena koneksi kalau menurut saya sih itu sesuatu deh kenapa meski kita harus cemburu dengan resky orang, benar enggak yang aku katakan!?" Cibirnya Rasmi yang sengaja berbicara seperti itu.
"Kalau gitu welcome cantik di perusahaan Mex Hiteck Tbk dan mulai besok kamu datanglah pagian karena karyawan yang disiplin akan mendapatkan perhatian khusus dari pimpinan loh," imbuhnya Ridah yang semakin antusias menunggu hari esok.
"Rasmi Wulandari Nasution!" Jeritnya Ridah yang seperti suara Tarzan saja di tengah hutan.
Rasmi menggelengkan kepalanya melihat sikap dan tingkah lakunya sahabat semasa duduk di sekolah menengah pertama. Dia tersenyum melihat temannya yang begitu antusias dan bahagia menyambut kedatangannya itu.
Kamu kok berjalan seperti itu? Apa yang terjadi padamu besti?" Tanyanya Ridah yang semakin heboh saja.
Ridah berjongkok memeriksa kondisi kakinya Rasmi yang sudah memar membiru dan sedikit bengkak.
"Aku tidak apa-apa kok,cuma tadi gak hati-hati jadi harus kena cobaan kecil seperti ini," elaknya Rasmi yang berdiri sambil mengarahkan pandangannya ke arah sekeliling dan sedikit malu karena temannya itu terlalu lebay mengkhawatirkan keadaannya.
"Makasih banyak kalau gitu, tapi maaf yah besok dan satu minggu kedepannya aku tidak ada karena entar sore mau pulang kampung," jelas Ridah yang baru ikut duduk setelah merasakan pegal dibagian betis dan pahanya.
Rasmi juga mendudukkan bokongnya ke atas kursi khusus para pegawai," kamu balik ke kampung dengan tujuan apa, apa bibi dan paman baik-baik saja?"
"Syukur Alhamdulillah mereka dalam keadaan yang baik dan sehat walafiat kok, saya balik karena adikku nikah sehingga mau tidak mau aku pulkam," ungkapnya Ridah.
"Oh gitu," hanya itu yang mampu diucapkan oleh Rasmi dengan mulutnya membentuk huruf O besar itu.
__ADS_1