
Rasmi menatap Ersam dengan penuh amarah seolah rasa sayangnya sudah menguap dan terbang tertiup angin lalu, "Kenapa, apa Abang pikir aku tidak bakalan akan tahu semua kebenarannya, tapi satu hal yang aku ketahui kalau Abang selama ini mendekatiku bahkan menikahiku tujuannya hanya karena rasa bersalah Abang saja dan juga kasihan padaku yang masih muda sudah jadi janda!?" Geram Rasmi.
"Lepaskan tanganku Abang, tolong jangan sentuh aku lagi, aku baru tersadar siapa pria yang telah menyebabkan aku menjadi seorang janda dan siapa orang yang menyebabkan anak, calon bayi dan suamiku meninggal dunia itu adalah kamu, Ersam Arsenio Dewantara yang terhormat!" Sarkas Rasmi.
Der… Dur… Dor..
Raut wajahnya Ersam langsung berubah pucat pasi mendengar perkataan Rasmi Wulandari Nasution.
"Rasmi, tolong dengarkan semua penjelasan Abang, aku mohon jangan seperti ini," harapnya Ersam yang memohon kepada Rasmi istrinya untuk mendengarkan semua penjelasannya.
"Please Abang! Stop!! Jangan bicara lagi karena semua yang Abang katakan tidak ada gunanya lagi, jadi mulai sekarang aku mohon jangan pernah injakan kaki Abang di depanku jika, tidak aku akan pergi menjauh dari hidupnya Abang untuk selamanya, ingat camkan itu baik-baik!"
Rasmi segera pergi dari hadapan suaminya yang tidak tahu harus berkata apa lagi untuk meyakinkan dan mengutarakan kebenarannya. Ersam tersungkur ke atas aspal melihat kepergian Rasmi dengan deraian air matanya.
"Maaf Abang aku tidak bisa menerima kebohongan Abang,aku ditampar dan dipermalukan oleh nenek Abang aku masih bisa terima tapi, kebohongan yang berlapis-lapis maaf aku tidak akan bisa mentolerir semua itu," gumam Rasmi Wulandari.
Sedangkan di dalam gedung acara, Regina mendapatkan berbagai macam pertanyaan yang sangat menyudutkannya. Dia tidak menyangka jika rencana awalnya akan berakhir seperti ini.
"Papa maafkan Regi Pa, walaupun Papa membunuhku ataupun itu aku katakan pada Papa jika,aku sudah resmi menjadi istri dari Eka Satya Wardana pria yang sudah menjadi calon Papa dari bayi kami," ungkapnya Regina sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit itu.
Nyonya Renita Sukardi mamanya pingsan saking tidak percayanya mendengar perkataan dari mulut putrinya sendiri.
__ADS_1
"Mama!" Jeritnya Pak Sukardi Soetomo.
"Cepat panggilkan ambulans!" Teriaknya Pak Dewantara yang melihat calon besannya tak sadarkan diri.
Para tamu undangan banyak yang sudah bubar dan masih banyak juga yang masih tinggal berdiam diri karena menunggu kelanjutan dari drama kolosal dari kedua keluarga terpandang di Ibu kota Jakarta.
Renata malah bahagia setelah mendengar jika Rasmi adalah adik iparnya," orang pada pusing aku malah tertawa bahagia, aku harus menghubungi Rasmi setelah perasaannya enakan," bathin nya Renata.
Eka Satya segera datang menjemput istrinya. Mereka sudah sepakat dan berencana apapun yang terjadi. Hari ini mereka akan pergi jauh dari Jakarta untuk menjalani kehidupan mereka menjadi sepasang suami istri yang bahagia sambil menunggu calon anak pertama mereka lahir ke dunia ini.
Erga kembali dibuat pusing setelah salah satu anak buah kepercayaan dan terbaiknya mengundurkan diri dan ternyata anak buahnya adalah suami dari calon istrinya Ersam.
"Cinta penderitaannya tiada berakhir,"lirihnya Erga Prayoga.
"Abang berjuanglah lebih keras lagi, kamu harus berjuang lebih keras dan gigih untuk kembali mendapatkan hati dan perasaannya Rasmi," gumaman Erga.
Sedang Rasmi bukannya pulang ke rumahnya, tapi malah melarikan diri ke bibir pantai. Rasmi membuka sendal high heelsnya.
"Tidak!! Ersam Arsenio aku sangat membencimu tapi aku juga sangat mencintaimu!" Teriaknya Rasmi disela ombak yang menerpa punggung kakinya hingga ujung gaun pestanya terkena sapuan air laut sore itu.
Rasmi menangis dalam ketidakberdayaannya, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah kebenarannya terungkap.
__ADS_1
"Kenapa!! Dari sejak kecil seolah kehidupan mempermainkan kehidupanku, kenapa Tuhan apa salahku, apa aku tidak pantas bahagia!?"
Rasmi kembali berteriak kencang disaat gulungan ombak berdatangan menghampirinya. Rasmi membiarkan air membasahi ujung pakaiannya. Hingga menjelang magrib, Rasmi masih berdiri di pantai sambil menyaksikan pergantian siang ke malam hari. Sinar matahari senja itu menyilaukan matanya Rasmi hingga pandangannya kabur.
Rasmi pulang ke rumahnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan seluruh tubuhnya itu dengan air hangat.
"Aku harus kembali terbiasa hidup sendiri lagi, seperti dulu lagi harus hidup tanpa anggota keluarga," lirihnya ketika menyeruput semangkok mie instan yang baru saja dibuatnya.
Sedangkan Ersam memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Mulai hari itu sudah menuturkan untuk tidak akan kembali menginjakkan kakinya di rumah kedua orang tuanya dan juga kakek neneknya.
Mulai hari itu,ia juga memutuskan untuk berangkat ke Korea Selatan untuk menjalankan bisnisnya yang baru beberapa bulan ia buka dan kembangkan di negeri ginseng itu.
"Erga aku serahkan perusahaan untuk kamu tangani yang ada di Jakarta, aku akan berangkat besok pagi ke Korsel," jelasnya Ersam.
Ersam dan Erga malam itu berdiri di balkon kamar apartemennya. Ersam menikmati minuman kalengnya yang rendah alkohol itu. Ada beberapa kaleng yang sudah berceceran di lantai.
"Abang pikirkanlah baik-baik sebelum pergi, apa sebaiknya Abang di Jakarta saja,"
Ersam tersenyum seolah menertawai dirinya sendiri," kakak iparmu tidak ingin melihat Abang lagi daripada dia pergi lebih baik aku yang mengalah karena, aku yang pergi kamu masih bisa membantuku menjaganya disini sedangkan jika aku yang tetap di sini kemungkinan besarnya aku tidak bakalan bisa melihat senyumannya lagi," ungkapnya Ersam yang kembali membuka beberapa kaleng minuman.
"Tapi, menghindar dari kenyataan juga tidak baik adanya, hadapi semuanya dengan kepala dingin dan hati yang lapang barulah hidup lebih bermakna," tuturnya Erga.
__ADS_1
Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...