
Rasmi Wulandari dan Ersam Arsenio Dewantara tiba di rumahnya Renata dan Erick Aryanta Dewantara setelah habis shalat magrib. Mereka singgah di salah satu masjid yang mereka lewati ketika akan ke rumahnya Erick. Karena tidak ingin menunda waktu shalatnya.
Rasmi tersenyum simpul melihat reaksinya Ersam yang berusaha menahan gejolak dalam tubuhnya. Ersam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya kakak dan kakak iparnya itu. Sedangkan Rasmi setelah melakukan panggilan telepon dengan saudari iparnya itu, segera memeriksa hijabnya lalu memperbaiki make-upnya yang berantakan ulahnya suaminya sendiri.
"Ini kedua kalinya dalam sehari Abang kacaukan makeup aku loh," omelnya Rasmi yang memoles wajahnya dengan teratur dan rapi kembali.
"Syukur Alhamdulillah akhirnya sampai juga, semoga kue yang kita beli untuk Mbak Renata Annisa menyukainya," imbuhnya Rasmi.
"Insha Allah… mereka pasti menyukai kuenya, karena setahu saya keu ini paling disukai oleh Mbak Renata," timpalnya Ersam yang mematikan mesin mobilnya.
Ersam berlari ke arah pintu samping kiri untuk membantu istrinya turun dari mobil," silahkan ratuku," ujarnya Ersam bergaya seperti asistennya sang ratu Elizabeth saja.
Rasmi tersenyum bahagia diperlakukan spesial dan istimewa seperti itu, perlakuan yang diterima oleh Ersam suami keduanya melebihi dari almarhum Eko Prasetyo suami pertamanya itu.
"Makasih banyak Abang, tapi tidak perlu repot-repot seperti itu juga, aku masih bisa membuka pintunya kok," tolaknya Rasmi yang merasa perhatian suaminya membuatnya terlalu bahagia hingga ia seperti tidak enak hati dengan suaminya sendiri.
"Kamu adalah ratu di hidupku, kamu adalah Istriku belahan jiwaku sehingga wajar dan sangat pantas aku perlakukan kamu seperti itu," jelas Ersam yang tersenyum simpul.
__ADS_1
Rasmi semakin berbunga-bunga hatinya, wajahnya merah merona saking bahagianya dengan sikap manis dari Ersam. Apa yang dilakukan oleh kedua pasangan suami istri yang masih terbilang baru itu dilihat langsung oleh Renata, yang baru berdiri di balik jendela rumahnya dengan menyibak tirai gorden jendela tersebut setelah mendengar mesin mobil yang berhenti di depan rumahnya dengan buru-buru ia berjalan ke sana.
"So sewetnya mereka, Abang Erick dengan Ersam sama-sama romantis dan perhatian mereka akan memperlakukan istri mereka dengan sangat baik dan melebihi dari seorang ratu di kerajaan," gumam Renata.
Erick melihat istrinya yang sedang menguntit adik dan istrinya," hemmm!"
Renata Annisa segera mengalihkan perhatiannya ke arah belakang tepatnya, pada sumber suara.
"Abang Erick shalat magrib nya sudah bang?" Tanyanya Renata sembari diam-diam menutup horden berwarna jingga tersebut.
Erick segera membuka tirai itu yang baru saja ditutup oleh Renata dengan buru-buru ,dua melihat adiknya berjalan bergandengan tangan dengan Rasmi Wulandari Nasution.
Renata mendelikkam matanya," ihh Abang, dasar mesum, kuda-kudaannya dikurangin dulu deh, apa Abang lupa jika perut ini sudah buncit gara-gara kelakuan si jagonya Abang," guraunya Rasmi yang membalas gurauan suaminya itu.
"Hahaha" keduanya tertawa terbahak-bahak dengan perkataan mereka sendiri hingga bel rumah mereka berbunyi sehingga percakapan santai keduanya terhenti sejenak.
Renata sangat antusias menyambut kedatangan sahabat sekaligus adik iparnya itu. Walaupun Rasmi lebih tua lima bulan dari Renata,tapi karena suaminya Renata lebih tua dari Ersam makanya dia dipapnggil kakak ipar oleh keduanya itu.
__ADS_1
Pintu berdaun dua itu terbuka, terlihat lah dua pasang pengantin yang masih terbilang baru itu. Renata langsung kangen-kangenan dan juga cipika cipiki bersama.
"Kamu semakin cantik saja Ras, sepertinya ada kabar baik nih karena aku lihat kalian bersama setelah kejadian dua bulan lalu," canda Renata.
"Mbak Ren bisa saja, Alhamdulillah Abang Ersam kemarin malam pulangnya dari Seoul Korea Selatan, jadi kami sempatkan waktu untuk ke sini bersama," imbuhnya Rasmi.
"Alhamdulillah kalau suamimu sudah pulang semoga tidak akan pergi lagi ke sana ninggalin Istrinya,tapi kalau enggak takut direbut atau ditikung sama pria lain menurut aku pergi saja sono, mudah kan karena pergi jauh dari kenyataan juga gak ada gunanya," sarkasnya Erick Aryanta Dewantara yang menatap intens ke arah adik tunggalnya itu.
"Udah ah ceritanya di luar,kita masuk dulu baru lanjut ceritanya apa kalian engga capek berdiri di depan pintu apa," ucapnya Renata yang sudah menggandeng tangannya Rasmi kedua adik kakak ipar itu.
Erick menepuk pundaknya Ersam adiknya itu," bagaimana dengan perusahaanmu, kapan kamu katakan pada Papa jika kamulah yang membeli saham 15 persen itu di perusahaannya papa sekaligus penyumbang dana terbesar di panti asuhan milik mama?" Tanyanya Erick.
Mereka berjalan berdampingan ke arah dalam tepatnya di ruangan makan.
Ersam tersenyum tipis, "Belum saatnya Abang, jika Papa masih menikahi perempuan matre dan muu raaa haaan itu belum angkat kaki dan cabut dari rumah saya tidak akan membiarkan Papa mengetahui kenyataan itu," jelasnya Ersam.
"Kalau itu menurut kamu yang terbaik,maka lakukan apapun itu, karena Abang hanya bisa memberikan masukan dan saran yang terbaik saja sepenuhnya kamu yang jalaninya, Abang berdoa semoga usahamu semakin sukses dan berhasil,"
__ADS_1
"Makasih banyak Abang atas doa dan semuanya, aku selalu bangga memiliki kakak seperti Abang," tukasnya Ersam.
"Itulah artinya saudara berat sama dipikul ringan sama dijinjing, kita berbagi suka maupun duka," tuturnya Erick.