
Jika jahat dibalas kejahatan, maka itu adalah dendam.
Jika kebaikan dibalas kebaikan maka itu adalah perkara biasa.
Erga tersenyum sumringah karena, untuk pertama kalinya mereka akan makan siang bersama.
"Pak Erga yang terhormat, suaminya kakak iparmu itu sedang ada bersamanya jadi, tidak akan butuh sesuatu lagi, apa lagi untuk merepotkanmu pasti Rasmi Wulandari Nasution tidak mungkin tega melakukan hal tersebut pada atasannya kecuali suaminya gak ada kemungkinan besarnya kamu akan jadi kurirnya,"
"Kalau gitu kita let's go ke kafe perusahaan yang terdekat saja, aku sudah lapar sangat soalnya,"
"Sepertinya ini kesempatan bagus untuk menyatakan padanya peristiwa beberapa tahun silam," batinnya Erga Prayoga Yudistira.
Ridah agak risih berjalan bareng dengan Erga setelah merasakan dirinya ditatap sedemikian rupa, oleh banyaknya pasang mata karyawan dan karyawati perusahaan yang kebetulan sedang beristirahat sambil menikmati beberapa kudapan makan siang mereka.
Erga malah seolah-olah ingin menunjukkan pada dunia jika mereka memiliki hubungan yang spesial bukan hanya sekedar sebagai menejer pemasaran dan juga direktur utama di perusahaan Ersam.
"Pak Erga kita pilih kursi yang ada di pojok kanan saja, kebetulan tidak ada orang yang duduk di sana," tawarnya Ridha Khaerani Azizah Wijaya yang mendahului langkah kakinya Erga.
__ADS_1
"Oke, tidak masalah kamu saja yang milih apapun itu aku akan menyetujui dan menyukainya," imbuhnya Erga.
Erga tanpa terduga segera menarik kursi khusus untuk Ridah agar Ridah lebih mudah untuk duduk dan tidak perlu repot-repot dan capek menarik kursinya.
Ridah tersipu merona malu diperlakukan istimewa seperti itu," makasih banyak Pak Erga tidak perlu repot-repot juga kali Pak,gak enak ditatap sama perempuan yang duduk di sana tuh!" Tukasnya Ridah sembari mengarahkan jari telunjuknya ke sebelah kiri mereka yang terdapat banyak karyawan perempuan.
"Acuhkan saja dengan mereka, lagian emangnya mereka siapanya saya sedangkan kamu adalah calon masa depanku," jelas Erga dengan tersenyum malu-malu setelah berkata seperti itu.
"Aaah Pak Erga gombalannya buat perutku semakin lapar saja," candanya Ridah.
"Saya kira kamu akan ngomong sama saya, ucapan Bapak buat aku bahagia dengarnya,"
"Padahal aku berniat dan berencana akan selalu melayangkan godaan dan rayuanku agar kamu bisa jatuh cinta padaku loh sebenarnya,"
Ridah masih tertawa mendengar perkataan dari mulutnya Erga," makasih banyak atas hiburannya Pak Erga, saya sangat tersanjung dan bahagia mendengar perkataan dari bapak tapi, sayangnya saya tidak akan termakan oleh bujuk rayuan maut mulut buaya darat seperti bapak," sarkasnya Ridah.
"Maaf Pak Erga ini menu makanannya, kebetulan ada yang baru menu kami disini mungkin mau coba pesan," tawar Pelayan pramusaji itu sembari menunjukkan sebuah kertas yang berisi beberapa menu makanan yang tersedia di kafe itu.
__ADS_1
"Tunggu aku cek dulu, hemm sepertinya enak ini juga belum pernah aku cicipi dan ini juga," ujarnya Ridah yang memilih beberapa macam makanan.
"Minumnya bagaimana Bu Ridah?" Tanyanya lagi Susi selaku pelayan di kafe Endless Love.
"Nama kafenya unik dan teringat dengan drama Korea Selatan yang pemainnya kalo gak salah song Hye Kyo kan," tebaknya Erga.
"Tepat sekali jawabannya pak, ngomong-ngomong bapak penggemar film Korea yah? Karena ini film sudah lama banget loh film perdananya Song Hye Kyo loh," ungkap Susi.
"Apa kamu tidak tanya aku Sus?" Gurauannya Ridah.
"Kalau kamu itu paling tanya mau berenang gak,mau main basket gak,apa kamu akan mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan pria yang sama sekali tidak tahu terima kasih itu," cibirnya Susi.
"Apa! Apa kamu kenal dengan pria yang diselamatkan oleh Ridah yang katanya mencoba bunuh diri karena putus cinta itu kan yang aslinya motornya terjatuh ke dalam sungai yang aliran airnya deras?" Tanyanya penuh selidik.
"Kok Bapak tahu dengan persis peristiwa itu? Sedangkan bapak bukanlah orang asli dari kampung kami," tanya Susi dengan penuh selidik.
Susi memegang buku menu makanan tersebut sedangkan Ridah cukup penasaran dengan reaksinya Erga.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan bapak pria itu lagi yang sama sekali tidak tahu berenang? Kok aku merasa bapak pria korban itu yah?" Ujarnya Susi sembari mengetuk-ngetuk keningnya seperti seseorang yang sedang berfikir berat saja.
"Benar apa yang dikatakan oleh Susi, tapi aku juga sepikiran dengan kamu Sus, kalau diperhatikan sedari tadi Pak Erga ini familiar dengan pria bodoh itu," ejeknya Ridah.