
"Tapi menurut kamu Ras, siapa pria yang dekat dengannya karena masalah pribadi urusan asmaranya agak tertutup dan juga saya tidak pernah melihat ia dekat dengan seorang pria manapun," tuturnya Rasmi.
Erwin mulai terpojok dan tersudutkan dengan situasi yang terjadi. Ia sudah nampak mulai panik dan gelisah. Hingga perkataan Erga Prayoga Yudistira mampu mengalihkan perhatian semua orang dan tertuju pada Erwin. Peluh keringat bercucuran membasahi pipinya dan sekujur tubuhnya itu. tangannya juga mulai gemetaran, tapi sebisa mungkin ia berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan dan menutupi perasaannya saat itu.
"Apa jangan-jangan kamu adalah pria itu Erwin!?" Tanyanya Erga dengan tersenyum penuh arti sembari menyadarkan kepalanya ke arah belakang.
Rasmi dan Ridah segera mengalihkan pandangannya ke arah Erwin Aksa Mahmud yang sangat aneh dengan sikapnya yang dia perlihatkan.
"Hahaha pak Erga bisa saja, kalau saya Pria yang menghamilinya pasti saya sudah bertanggung jawab untuk menikahinya," kilahnya Erwin Aksa Mahmud yang sangat berusaha untuk menutupi kenyataan yang ada dengan berkilah dan berbohong.
"Saya sepertinya butuh pendekatan dengan anak ini, sudah jelas-jelas dia menyukai Mety dan ia juga yang telah membuat anak gadis orang bunting malah menyangkal, saya sudah melihat rekaman cctv yang sempat ia hapus untuk menghilangkan jejaknya, aku sebenarnya marah juga dengan sikapnya Mety kala itu, tapi mengingat andaikan Mety tidak menjebak saya tidak mungkin saya bisa menikahi Ridah dan menaklukkan keegoisannya itu," batinnya Erga Prayoga Yudistira.
"Iya ini anak kenapa sedari tadi Mbak perhatiin kamu seperti tidak enak badan apa kamu butuh diperiksa juga?!" Ketusnya Ridah Khaerani Azizah Wijaya yang melihat adik sepupunya itu bersikap tidak wajar.
Erwin menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, "Ehh a-nu Mbak sa-ya masih ada pekerjaan yang penting yang harus saya kerjakan, saya pamit undur diri terlebih dahulu," ucap Erwin yang semakin lama ia disana bisa-bisa akan ketahuan dengan keburukannya.
"Makasih yah Er, kamu sudah membantuku untuk menggendong tubuhnya Methy hingga ke sini," imbuhnya Rasmi.
"Jadi dia yang melakukan semua ini?" Tanyanya Ridah Khaerani Azizah Wijaya yang tidak percaya jika adik sepupunya itu mampu menggendong Mety dari ruangan CEO ke klinik yang tempatnya cukup lumayan jauhlah dalam kondisi seperti itu.
Rasmi hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari mulutnya Ridah.
"Sebaiknya akan saya tanyakan padanya jika sudah sadar, sepertinya Methy harus dalam pengawasan yang ketat agar tidak melakukan hal itu lagi karena perbuatannya bisa menyebabkan keguguran dan juga kandungannya ke depannya bermasalah dan bisa jadi dia tidak akan bisa hamil lagi," ujarnya Rasmi.
"Itu ide yang paling bagus menurutku, semoga ia mau terbuka dan jujur dengan pria yang tega merenggut mahkotanya tapi, tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatannya itu," dengusnya Ridah.
__ADS_1
"Sayang,yuk kita pamit pulang ke kantor sepertinya berkas di atas mejaku sudah numpuk,tapi Abang beliin aku martabak asing dengan manis dulu, gimana boleh kan Abang?!" Harapnya Ridah yang memperlihatkan wajah memelasnya itu di depan matanya Erga Prayoga Yudistira suaminya yang baru jalan dua bulan ia nikahin itu.
"Apa!? Mana ada penjual martabak siang-siang begini Ridah?!" Cerca Rasmi yang terkejut mendengar permintaan Ridah pada suaminya sendiri.
"Betul sekali itu kakak ipar, sudah tiga hari ini saya selalu mendapatkan perintah yang aneh-aneh, bayangkan semalam Mbak, dia pengen makan rujak buah padahal sudah jam satu malam dini hari, aneh-aneh banget kemauan temannya Mbak Rasmi," candanya Erga yang tertawa cengengesan menanggapi sikap dari istrinya itu yang menurutnya luar biasa.
Rasmi heboh dan menebak apa yang sedang terjadi sebenarnya pada kondisi sahabat terbaiknya itu,"Apa jangan-jangan Mbak Ridah hamil!? Karena itu ciri-ciri orang yang sedang ngidam pengen makan makanan yang tidak biasa yang dijual dengan waktunya yang tak tepat," imbuhnya Rasmi.
"Alhamdulillah kalau seperti itu Ras," timpalnya Ridah yang tersenyum bahagia.
"Benar sayang jika kamu sedang hamil anakku?" Tanyanya Erga yang cukup eksaitik banget seraya memegang kedua lengannya Ridah untuk memastikan hal itu.
"Sebaiknya panggil dokter Maryam saja agar dugaan dan prasangka kita benar adanya, aku telpon Bu dokter yah!" Pintanya Rasmi.
Tetapi, Ridah segera mencegah apa yang akan dilakukan oleh Rasmi," tidak perlu Ras repot-repot untuk melakukannya, karena insha Allah sekitar kurang lebih delapan bulan lagi kami akan memiliki seorang bayi yang imut," ungkap Ridah yang sangat sumringah bahagia sesuai dengan harapannya harus hamil setelah menikah nantinya.
Semua tertawa bahagia dengan berita suka cita dari dua pasangan suami istri itu. Jadi empat perempuan bumil yang siap-siap menanti kelahiran bayi mereka yang memiliki latar belakang yang berbeda.
Istri dari Erick Aryanta Dewantara bernama Renata Annisa Kuswanto, Rasmi Wulandari Nasution dengan Ersam Arsenio Dewantara, Ridah Khaerani Azizah Wijaya dengan suaminya Erga Prayoga Yudistira dan yang terakhir Methy yang masih penuh dengan misteri dan teka-teki apakah Erwin bersedia bertanggung jawab atas perbuatannya itu.
Air matanya Methy menetes membasahi pipinya itu, sejak kepergian Erwin dia sudah bangun tapi, kembali berpura-pura tertidur dan semua perkataan orang-orang dengan jelas ia dengar dengan baik.
Methy menulis sebuah story di buku hariannya dengan seperti ini ungkapan perasaannya "Kamu mau sembunyi dimana
Aku bisa mengendus baumu
__ADS_1
Jangan pernah lari dariku
Karena kita telah berjanji
Biar matahari bohong pada siang
Pura-pura tak mau panas
Tak perlu menyiksa diri sendiri
Sembunyikan cinta yang ada
Aku tak perlu bahasa apapun
Untuk mengungkap aku cinta kamu
Aku tak pernah beristirahat
Untuk mencintai Kamu sesuai janjiku, promise
Seribu wajah menggoda aku
Yang ku ingat hanya wajah kamu
janjiku tak pernah main-main
__ADS_1
Sekali kamu tetap kamu," semoga Mas Erwin bisa berubah dan menerima calon anaknya," batinnya Methy.
"Ya Allah… mereka sangat bahagia, sedangkan aku pria yang telah merenggut kegadisanku sama sekali tidak berniat untuk bertanggung jawab padaku, nasibku sejak dulu selalu seperti ini kapan kebahagiaan itu datang menyapa dan singgah ke dalam kehidupanku," Methy Putri Meutia Hatta meremas perutnya itu.