Garis Tanganku

Garis Tanganku
Bab. 27


__ADS_3

"Aku hampir saja lepas kendali dan menerkamnya untung saja Erga segera menelponku tadi pagi jika tidak aku sudah meminta hakku pada Rasmi," batinnya yang langsung menggelengkan kepalanya saking malunya dengan apa yang sudah hampir ia perbuat waktu itu.


Erga tanpa sengaja melihat apa yang dilakukan oleh Ersam," maaf Abang, apa Abang baik-baik saja?" Tanyanya Erga yang mulai penasaran dengan apa yang terjadi kepada Ersam.


Ersam tersentak terkejut mendengar perkataan dari mulutnya Erga," eehh a-ku ba-ik sa-ja kok," elaknya Ersam yang tergagap ketika berbicara.


Erga diam-diam memperhatikan perubahan raut wajahnya Ersam," sepertinya sudah ada yang terjadi antara mereka berdua, tapi sepertinya itu mustahil deh karena mengingat kakak ipar lagi terluka kakinya."


Sedangkan jauh dari tempat mereka berdua, seseorang perempuan baru saja terbangun dari tidurnya karena mimpinya yang sedang menikmati semangkuk bubur terganggu.


"Siapa sih yang nelpon pagi-pagi sekali! Gangguin saja padahal aku sudah hampir mencicipi bubur ayam yang sangat nikmat itu," ketusnya Rasmi.


Rasmi belum menyadari jika pakaian yang dipakainya kemarin sudah terganti dengan pakaian tidur yang berwarna biru.


Rasmi segera meraih hpnya itu yang tergeletak di atas meja nakas," ya ampun ini orang kagetin saja, apa Ini anak gak lihat jam yah," omelnya Rasmi yang masih mampu kedengaran hingga ke telinganya Ridah sang penelpon.


"Aku dengar loh omelan kamu, kau yang seharusnya lihat jam coba kamu lihat jam di hpmu sekarang sudah pukul sepuluh pagi," ujarnya Ridah yang sedikit menaikkan volume suaranya itu.


Apa yang dilakukan oleh Ridah mendapatkan pelototan dari beberapa rekan kerjanya itu. Ridah hanya tersenyum cengengesan menangapi tatapan tajam dari banyaknya pasang mata.


Rasmi segera menjalankan perintah yang dikatakan oleh Ridah, ia menutup mulutnya saking tidak percayanya karena seumur hidupnya baru kali terbangun diatas jam tujuh pagi padahal biasanya ia paling cepat bangun tidur.


Rasmi menutup mulutnya dan menahan tawanya itu," maaf aku pikir baru jam lima," kilahnya Rasmi.


"Sudah lupakan itu, saya telpon kamu hanya ingin bertanya tentang keadaan kamu bagaimana dengan kaki kamu yang bengkak itu?"

__ADS_1


Rasmi spontan melihat dan memeriksa kondisi kakinya dan betapa terkejutnya melihat pakaiannya setelah sudah tersadar keadaannya yang sudah tidak seperti kemarin.


"Aahh tidak!!" Jeritnya Rasmi seraya memeriksa seluruh anggota tubuhnya apa ada keanehan yang terjadi sesuai dengan apa yang terlintas dalam benaknya itu.


Ridah kembali berteriak dan refleks langsung berdiri dari tempat duduknya itu," Rasmi apa yang terjadi padamu?" Tanyanya dengan penuh selidik dan tidak menghiraukan pelototan dari rekan kerjanya itu.


"Ya Allah… apa yang terjadi padaku semalam, kenapa bisa bajuku sudah berubah seingat aku semalam aku tertidur memakai pakaian kerja tapi, sekarang kok sudah berubah, apa Abang Ersam yang mengganti pakaianku? Kalau Abang pasti dia sudah lihat keseluruhan tubuhku," cicitnya Rasmi yang sangat terkejut dan sekaligus kaget jika apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan dan sesuai dengan fakta.


"Halo, Rasmi kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Ridah dari seberang telpon yang sudah sangat cemas dengan kondisinya Rasmi.


Tapi bukannya menjawab pertanyaan darinya malahan suara bunyi tut tut panggilan telpon terputus yang ia dapatkan.


"Ya Allah… ini anak apa yang terjadi sebenarnya padanya,tapi aku berharap semoga ia baik saja," cicit Ridah.


Rasmi memperbaiki posisi duduknya itu dan semua sudut setiap inci tubuhnya itu ia periksa dengan baik.


Rasmi bisa bernafas dengan lega dan sesekali membuang nafasnya dengan satu tarikan nafas. Hingga rongga hidungnya mencium bau aroma wangi masakan yang sangat menggugah selera makannya hingga mampu membuat perutnya berbunyi keroncongan.


Sudut ekor matanya melihat ada semangkok bubur ayam dan juga secangkir teh hangat yang mungkin sudah dingin airnya dan juga stoples kerupuk udang kesukaannya dan tidak lupa sambal terasi yang cukup pedas.


Rasmi bergerak sedikit untuk memperbaiki posisinya. Dia sedikit mengeluh sakit ketika menggerakkan kaki kanannya itu.


"Auh sakit juga rupanya dan semoga makanan ini mampu menghilangkan rasa sakinnya kakiku,"


Rasmi sudah duduk sambil berselonjor kakinya dan matanya berbinar-binar terang melihat bubur kesukaannya terhidang di hadapannya itu. Rasmi tanpa menunggu lama,ia segera mengambil sendok makan kemudian membaca doa sebelum memulai acara makannya pagi itu menjelang siang.

__ADS_1


Rasmi mencicipi bubur itu hingga membuat perasaannya langsung berubah drastis dari kesal, sedih menjadi kebahagiaan.


"Apa Abang yang masak yah? Kalau Abang ternyata dia sangat jago kalau gini ini namanya suami cinta istri," guraunya yang sudah menikmati makanannya dengan lahap hingga tanpa terasa sudah hampir tandas.


Suara gluk gluk ketika menghabiskan minumannya itu cukup membuatnya menghilangkan dahaganya setelah tertidur beberapa jam lamanya.


"Saya tidak menyangka jika Abang Ersam ternyata pandai meramu dan meracik bumbu sehingga berhasil menciptakan bubur ayam yang begitu nikmat tanpa terkira, kalau gini aku bisa minta sama Abang setiap hari dimasakin makanan seperti ini, pasti berat tubuhku akan langsung bertambah nih," candanya Rasmi.


Rasmi saking enaknya menyantap makanannya sampai-sampai melupakan sahabatnya yang sangat khawatir dengan kondisinya.


"Ya Allah… semoga saja Ras baik saja aku sangat mengkhawatirkan keadaannya, kasihan Rasmi itu anak sebatang kara yang harus hidup di Jakarta, setelah pulang kerja aku harus ke sana untuk memeriksa kondisinya dan juga keadaannya aku kasihan melihatnya kemarin berpura-pura kuat menahan kesakitannya saat diurut dan diperiksa oleh dokter," lirih Ridah yang bekerja tapi tidak fokus dengan kerjaannya.


"Hem!" seseorang berdehem tepat di belakang telinganya itu.


Ridah langsung refleks berdiri dari duduknya itu," arah siapa!?" pekik Ridah yang memutar tubuhnya ke arah sumber suara.


Erga yang kebetulan berjalan memeriksa satu persatu karyawan di perusahaannya Ersam melihat dan mendapati salah satu karyawati nya sedang melamun dalam kondisi layar komputernya menyala.


"Enak yah kerja kamu sangat santai sampai-sampai dalam waktu bekerja kamu punya banyak waktu luang untuk mengkayalkan sesuatu!" sarkasnya Erga sembari bersandar di ujung meja kerjanya Ridah.


Perempuan berhijab itu salah tingkah dan grogi tidak tahu apa yang akan ia lakukan karena ketangkap basah sedang melakukan pekerjaan lain di jam kerja.


"Maaf Pak Erga, saya tadi sedang memikirkan sahabat saya yang sedang sakit dan ia hanya seorang diri di rumahnya," jelasnya Ridah yang tidak berani menatap langsung ke wajahnya Erga yang sudah menatap balik wajahnya itu.


Erga memperhatikan dengan seksama perempuan yang berdiri di depannya itu, ia kembali teringat dengan perempuan beberapa tahun silam yang rela menolongnya ketika ia tenggelam di laut hanya saja gadis kala itu tidak memakai hijab.

__ADS_1


"Kenapa wajah gadis itu terlintas dipelupuk mataku ketika aku menyelami ke dalam mata indah perempuan ini,"


__ADS_2